MANDALIKAPOST.com– Universitas Bima Internasional (UNBI) bersama BPJS Kesehatan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama (PKS) sebagai langkah memperkuat sinergi dalam mewujudkan kampus sehat dan generasi hebat menuju Indonesia Emas 2045.
Kerja sama tersebut mencakup pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kolaborasi juga diarahkan pada pengembangan kurikulum, khususnya di bidang kesehatan, agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Rektor Universitas Bima Internasional, Dr. apt. Ajeng Dian Pertiwi,M.Farm mengatakan kerja sama dengan BPJS Kesehatan tidak hanya terbatas pada pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Pihaknya juga akan mengintegrasikan materi dan bahan ajar yang dimiliki BPJS Kesehatan ke dalam kurikulum perkuliahan.
“Dari BPJS Kesehatan memiliki kurikulum atau bahan ajar yang bisa kita insert ke dalam mata kuliah maupun bahan kajian di kampus,” ujar Ajeng pada Kamis (3/9/2026)
Menurutnya, integrasi materi tersebut diharapkan dapat membuat kurikulum, khususnya pada program studi kesehatan, semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, mahasiswa yang dihasilkan dapat memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.
“Kurikulum yang terbentuk, utamanya yang ada di prodi kesehatan, lebih relevan dengan dunia kerja, sehingga mahasiswa yang kita bentuk menjadi lulusan yang siap kerja dan sudah sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” katanya.
Selain pengembangan kurikulum, kerja sama tersebut juga mencakup peningkatan kapasitas penelitian dan publikasi, pelatihan bagi dosen, serta program pengabdian kepada masyarakat.
Ajeng menambahkan, BPJS Kesehatan juga menunjukkan komitmen untuk mendukung pengembangan pendidikan di Universitas Bima Internasional, khususnya di NTB. Kehadiran langsung jajaran BPJS Kesehatan dalam implementasi kerja sama dinilai menjadi bagian penting agar program yang disepakati dapat memberikan dampak lebih luas kepada masyarakat.
“Pasca-MoU ini kita akan melakukan percepatan implementasi, terutama yang ada di kurikulum dan pengabdian masyarakat. Ada lima kurikulum BPJS yang bisa kita implementasikan di kampus,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Corporate University BPJS Kesehatan, Octovianus Ramba,S.si ,Apt.AAK, MHPM mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari program peningkatan literasi masyarakat mengenai sistem jaminan sosial Indonesia, khususnya Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Menurutnya, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), BPJS Kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan mendorong pengembangan kurikulum jaminan sosial melalui dunia perguruan tinggi.
“Tujuannya adalah meningkatkan literasi masyarakat melalui dunia kampus, khususnya mengenai jaminan kesehatan sosial dan JKN,” kata Oktovianus.
Implementasi kurikulum jaminan sosial tersebut dapat dilakukan melalui berbagai bentuk kegiatan, mulai dari kuliah bersama, kuliah umum, kuliah yang menghadirkan praktisi, kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga menyisipkan materi jaminan kesehatan ke dalam mata kuliah di perguruan tinggi.
Oktovianus berharap kolaborasi tersebut dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dan masyarakat mengenai sistem jaminan kesehatan nasional. Dengan literasi yang semakin baik, implementasi program JKN di tengah masyarakat juga diharapkan berjalan semakin optimal.
“Bentuknya mulai dari kuliah bersama, kuliah umum, kuliah oleh praktisi, KKN, dan juga insert mata kuliah tentang jaminan kesehatan di kampus,” ujarnya.
Saat ini, kata Oktovianus, terdapat dua perguruan tinggi di NTB yang menjadi proyek percontohan implementasi kurikulum jaminan sosial, yakni Universitas Bima Internasional dan Universitas Mataram.
“Kita berharap nanti akan berkembang terus ke kampus-kampus lain, sehingga JKN masuk untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang JKN melalui kampus,” pungkasnya.

