![]() |
| Tenun: Seorang pengerajin kain tenun khas Sembalun, Dwi Ariska menunjukkan hasil karyanya. (Foto: Rosyidin/MP). |
Bagi masyarakat Sembalun, kain tenun bukan sekadar lembaran kain penutup tubuh. Ia adalah lembaran sejarah, penanda status, dan saksi bisu siklus hidup manusia.
"Kalau dulu, perempuan yang tidak bisa menenun itu dilarang menikah. Istilahnya tidak laku, karena pakaian sehari-hari, sarung, dan selendang harus bikin sendiri," kisah Dwi sembari tersenyum mengenang cerita para tetua saat ditemui di rumahnya pada Rabu (1/7/2026).
Sejak lepas dari bangku SMA, dorongan kuat dari dalam diri membuat Dwi nekat mempelajari seni kerajinan yang rumit ini. Ia tidak ingin warisan leluhurnya mati suri. Terlebih, tenun Sembalun memiliki keunikan filosofis yang mendalam. Motif kain yang dikenakan seseorang menjadi penanda fase hidupnya.
"Motif sebelum kawin, setelah menikah, dan setelah punya anak itu berbeda-beda. Setiap motif ada filosofinya, ada maknanya. Kita tidak boleh sembarangan memakai motif," jelas perempuan yang juga kerap membagikan ilmu bahasa Inggris kepada anak-anak di desanya ini.
Dari "Mati Suri" Menembus Pasar Australia
Langkah Dwi untuk fokus di dunia tenun kian mantap pasca-gempa bumi 2018 yang sempat mengguncang Lombok beberapa tahun silam. Kehadiran para sukarelawan (volunteer) asing dari Australia dan Singapura membuka matanya. Ia terenyuh melihat orang luar justru menaruh perhatian besar pada potensi ekonomi tenun Sembalun.
"Kenapa justru orang luar yang lebih peduli untuk mendukung program ekonomi itu sendiri? Dari sana akhirnya terpikir untuk membuat produk turunan dari tenun," ungkap pendiri brand Sembahulun Handmade ini.
Dwi mulai memproduksi produk siap pakai seperti tote bag, tas pensil, dompet koin, hingga sling bag dengan rentang harga Rp55 ribu hingga Rp1 juta. Ia bahkan memanfaatkan kain tenun kuno berumur ratusan tahun yang terbuat dari kapas pintal tangan seperti motif Batang Galang yang kini sudah tidak diproduksi lagi untuk dijadikan produk bernilai seni tinggi.
Untuk urusan bahan baku saat ini, Dwi bermitra dengan Koperasi Tenun Sangkabira, wadah bagi 20 perempuan penenun senior di Sembalun. Benang putih pabrikan yang dibeli kemudian diberi warna secara manual menggunakan bahan alami yang ramah lingkungan.
"Kami warnai sendiri pakai pewarna alam. Ada yang dari kulit pohon mahoni, kunyit, daun kersen, sampai kulit manggis," tuturnya.
Namun, proses ini bukan tanpa hambatan. "Tantangannya mencari bahan pewarna, kadang tidak ada di Sembalun jadi harus dicari sampai ke pantai atau ke dalam hutan. Itu butuh biaya lebih," imbuh Dwi.
Kerja keras Dwi kini mulai membuahkan hasil global. Melalui jaringan sukarelawan, produk Sembahulun Handmade telah berhasil menembus salah satu toko lokal di Australia.
"Kemarin ada info kalau produk saya sudah masuk toko di Australia. Tapi kendalanya saat ini saya bingung di pengiriman, karena ongkos kirim ke luar negeri itu lumayan mahal," akunya jujur.
Ironi Minimnya Perhatian dan Asa Regenerasi
Di balik optimisme Dwi, terselip sebuah ironi yang getir. Potensi tenun Sembalun yang begitu besar justru tumbuh subur lewat uluran tangan pihak swasta dan komunitas, sementara peran pemerintah daerah dinilai masih minim.
"Setahu saya belum ada bantuan dari pemerintah daerah atau provinsi sampai saat ini. Ironisnya, justru pihak swasta dan teman-teman volunteer yang lebih peduli," kata Dwi tanpa bermaksud menghakimi, melainkan menyuarakan realita di lapangan.
Beruntung, titik terang perlahan muncul. Melalui pelatihan intensif dari PT. PT Amman Mineral Internasional Tbk, Dwi kini lebih mahir mengelola keuangan usaha.
"Pelatihan dari AMAN sangat membantu. Dulu saya menentukan harga produk masih asal-asalan dan tidak pernah mencatat pengeluaran. Sekarang pencatatan sudah mulai teratur," tuturnya penuh syukur. AMAN juga turut membantu mempromosikan produknya kepada para tamu yang berkunjung.
Kini, Dwi tertuju pada satu misi krusial yakni, mencegah kepunahan. Menyadari para penenun di desanya didominasi oleh generasi tua, Dwi akan ikut pelatihan tenun sebagai salah satu peserta dianta 20 pemuda/pemudi Sembalun yang dijadwalkan berjalan pada minggu ketiga bulan ini.
Proses menenun memang bukan perkara mudah. Butuh waktu tiga minggu hingga dua bulan untuk menyelesaikan selembar kain, tergantung tingkat kerumitan motif dan kesibukan perajin. Namun, bagi Dwi, setiap detik yang dihabiskan di atas alat tenun tradisional, jajak adalah investasi demi masa depan budayanya.
"Semoga ke depan kalau ada pelatihan dari pemerintah atau siapa pun, itu tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Kami butuhnya pelatihan dan alat tenun gedogan (tradisional), bukan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin)," harap Dwi menutup perbincangan.
Melalui ketukan kayu dan jalinan benang pewarna alam dari Sembalun, Dwi Ariska membuktikan bahwa warisan leluhur tidak akan hilang ditelan zaman, selama masih ada hati muda yang mau merawatnya dengan cinta dan kesabaran.
Pengusaha kerajinan dengan produk aksesoris dari kain tenun khas Sembalun, saat ini pemasaran produknya banyak melalui jejaring online dan offline untuk wisatawan asing. Bekerjasama dengan influencer untuk memasarkan produknya.
Produknya cukup unik, dengan narasi warisan leluhur Sembahulun. Selain menjual produk jadi, pengusaha juga menawarkan jasa tour tenun untuk wisatawan dengan bekerja sama dengan tracking organizer.

