![]() |
| Hibah: H. Kartif saat menerima bantuan pompa air dari Kapolri yang diserahkan langsung oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di acara panen raya, (Foto: Rosyidin/MP). |
Kunjungan kerja tersebut tidak hanya mengangkat nama Sembalun di kancah nasional, tetapi juga memperkenalkan inovasi teknologi pertanian modern yang diyakini mampu mendongkrak produktivitas serta kesejahteraan petani.
Anggota Kelompok Tani Pusuk Pujata Desa Sembalun Bumbung, H. Kartif, menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas perhatian besar dari pemerintah pusat. Menurutnya, penerapan teknologi baru hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta IPB University menjadi titik balik perubahan pola tanam dari tradisional menuju modern.
Salah satu inovasi unggulan yang diperkenalkan adalah mesin pemecah dormansi bibit berkapasitas 4 kg per jam. Alat pendingin ini mampu memangkas waktu penyiapan bibit secara drastis.
"Dulu kita nunggu dormansi tumbuh itu 4 bulan, sekarang diperpendek waktunya menjadi 40 hari 1 jam dan bisa langsung ditanam. Ini satu ilmu teknologi yang luar biasa, mudah-mudahan bisa kita adopsi di Kecamatan Sembalun untuk mempercepat pola tanam," ujar H. Kartif saat ditemui di Sembalun, Kamis (20/8).
Dengan teknologi ini, pengolahan bibit yang biasanya membutuhkan waktu 4 hingga 5 bulan kini dipersingkat. Setelah dipanen dan dijemur selama 30–40 hari, umbi bawang putih dipotong, dikupas, lalu dimasukkan ke mesin pendingin selama satu jam sebelum siap ditanam dengan masa panen sekitar 80 hari. Pola ini memungkinkan petani menanam hingga 2–3 kali dalam setahun.
Selain transfer teknologi, para petani di Kecamatan Sembalun termasuk wilayah di Desa Sajang, Sembalun Lawang dan sekitarnya juga menerima bantuan sarana dan prasarana pertanian. Kelompok Tani Pusuk Pujata menerima hibah berupa 9 unit traktor, 17 unit mesin pompa air, serta 3 unit mesin pompa air tenaga surya dari Kapolri.
"Pompa air tenaga surya itu kemarin sudah kita coba, alhamdulillah kekuatannya sama dengan pompa air biasa. Sangat tergantung terik matahari, kalau dari pagi sampai sore mataharinnya terik, air yang keluar makin besar," jelasnya.
Optimisme petani makin menguat seiring tingginya harga jual bawang putih musim ini. Di atas lahan uji coba seluas 1,15 hektar, H. Kartif memproyeksikan hasil panen mencapai 18 hingga 20 ton per hektar. Saat ini, harga bawang putih di tingkat petani berada pada kisaran Rp1.000.000 hingga Rp1.250.000 per kwintal tergantung kelasnya (Kelas A, B, atau C).
"Harga sekarang sangat bagus, paling tinggi selama kita jadi petani. Dari penggarapan lahan sampai panen sangat menguntungkan. Harapan kita bersama, harga ini bisa dijamin stabil oleh pemerintah," tambah H. Kartif.
Petani berharap skema kemitraan yang mencakup bantuan olah lahan, bibit gratis, hingga penyerapan hasil panen oleh perusahaan dapat terus berlanjut. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pencapaian target swasembada bawang putih nasional di kawasan Sembalun pada tahun 2027 mendatang.

