![]() |
| Budaya: Prosesi sembek perwakilan siswa oleh ketua Majelis Adat Sasak Nusa Tenggara Barat, (Foto: Rosyidin/MP). |
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus Majelis Adat Sasak (MAS), perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur, para tokoh agama, tokoh adat, serta puluhan peserta didik yang terdiri dari guru-guru sekolah dasar (SD) dan SMP se-Kabupaten Lombok Timur.
Acara ini juga ditandai dengan tradisi disembek kepada perwakilan siswa oleh Ketua Majelis Adat Sasak Nusa Tenggara Barat, sebagai tanda resminya pembukaan pembelajaran aksara Sasak Hanacaraka.
Direktur Repok Literasi, Guru Muhir, mengungkapkan bahwa gagasan penyelenggaraan program ini lahir dari kegelisahan mendalam terhadap pudarnya pemahaman generasi muda terhadap manuskrip serta sastra peninggalan leluhur suku Sasak.
"Acara ini terlaksana atas kegelisahan banyak pihak yang terakumulasi. Kita sering kali berdebat mengenai peninggalan peradaban masa lalu, padahal kita pernah memiliki peradaban yang luar biasa di bidang pengetahuan maupun sastra. Seluruh catatan pengetahuan itu tersimpan dalam sastra orang Sasak yang ditulis menggunakan aksara," ujar Guru Muhir, dalam sambutannya.
Ia menambahkan, ketahanan budaya tidak ditentukan oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus mempelajari serta mentransmisikan pengetahuan tersebut kepada generasi penerus.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Guru Lauq Indonesia, dr. Hanapi, menegaskan pentingnya mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan identitas bahasa dan aksara daerah agar tidak tergerus zaman.
"Kegelisahan kita sama, ketika generasi hari ini tidak mampu mewariskan nilai-nilai ini kepada generasi berikutnya, maka bahasa dan aksara Sasak lambat laun akan hilang. Guru Lauq Indonesia hadir sebagai wadah pemikir muda untuk memastikan keberlanjutan budaya Sasak," tegas dr. Hanapi.
dr. Hanapi juga menjelaskan bahwa program ini berjalan beriringan dengan gagasan besar pelaksanaan Kongres Bahasa Sasak Internasional serta penyusunan literatur sejarah lokal Lombok Timur guna mengabadikan jejak peradaban Sasak.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur yang diwakili oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Abdul Hayyi, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif komunitas dalam menggelar program pembelajaran aksara lokal ini.
Pihaknya mengakui bahwa salah satu kendala terbesar dalam penerapan Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Sasak di sekolah saat ini adalah keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) pengajar yang menguasai aksara Hanacaraka.
"Kami menyambut baik dan berterima kasih kepada Guru Lauq dan Repok Literasi. Saat ini kita memang sangat membutuhkan SDM yang menguasai aksara Sasak. Jangankan menulis, membaca aksaranya saja masih banyak guru yang mengalami kesulitan," ungkap Abdul Hayyi.
Abdul Hayyi menambahkan, saat ini Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bersama tim penyusun tengah merancang Capaian Pembelajaran (CP) dan Modul Ajar Muatan Lokal Bahasa Sasak yang diselaraskan dengan ajang Festival Tunas Bahasa Ibu. Ia berharap para siswa yang mengikuti pembelajaran ini kelak dapat menjadi pionir dan mendemokrasikan pengetahuan aksara Sasak di sekolah masing-masing.
"Harapan kami, bapak dan ibu guru yang belajar di sini dapat menularkan ilmunya secara langsung kepada anak-anak didik di sekolah. Pelestarian budaya ini tidak bisa hanya menjadi beban Guru Lauq Indonesia atau dinas semata, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama," pungkasnya.
Program Belajar Aksara Sasak Hanacaraka ini rencananya akan berlangsung secara berkala di Repok Literasi Labuhan Haji, dengan fokus pelatihan membaca, menulis aksara Sasak, hingga pemahaman penulisan naskah dan lontar bagi para pendidik dan pegiat literasi di Lombok Timur.

