Biaya Penyakit Kronis Tembus Rp50,2 Triliun, BPJS Kesehatan Dorong Pola Hidup Sehat

Ariyati Astini
Jumat, Januari 23, 2026 | 19.28 WIB Last Updated 2026-01-23T11:28:28Z

 

Contoh Pola Hidup Sehat


MANDALIKAPOST.com — BPJS Kesehatan mencatat total biaya pelayanan kesehatan sepanjang tahun 2025 mencapai Rp190,3 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp50,2 triliun terserap untuk penanganan penyakit kronis yang mencapai 59,9 juta kasus.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, mengungkapkan penyakit kronis yang paling banyak ditangani adalah penyakit jantung dengan total 29,7 juta kasus dan biaya mencapai Rp17,3 triliun. Posisi kedua ditempati gagal ginjal dengan 12,6 juta kasus dan biaya Rp13,3 triliun, disusul kanker sebanyak 7,2 juta kasus dengan biaya Rp10,3 triliun.

“Dari tahun ke tahun, biaya pelayanan untuk penyakit kronis terus meningkat. Padahal sebagian besar penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah sejak dini melalui penerapan pola hidup sehat secara konsisten,” ujar Rizzky, Jumat (23/1/2026).

Ia menjelaskan, penyakit kronis seperti jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hati, thalassemia, dan hemofilia erat kaitannya dengan gaya hidup masyarakat. Untuk menekan risiko tersebut, BPJS Kesehatan mengajak masyarakat rutin melakukan aktivitas fisik melalui Gerak 335.

Gerak 335 merupakan aktivitas fisik sederhana berupa jalan santai selama tiga menit, dilanjutkan jalan cepat selama tiga menit, dan diulang sebanyak lima kali hingga total 30 menit. Aktivitas ini dapat dilakukan kapan saja tanpa memerlukan alat khusus.

Selain aktivitas fisik, BPJS Kesehatan juga mendorong masyarakat melakukan skrining kesehatan secara rutin. Skrining Riwayat Kesehatan dapat diakses melalui Aplikasi Mobile JKN, layanan WhatsApp PANDAWA di nomor 08118165165, website resmi BPJS Kesehatan, maupun langsung di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

“Pengisian skrining hanya membutuhkan waktu 5–10 menit, namun manfaatnya sangat besar. Dengan skrining, masyarakat dapat mengetahui sejak dini risiko penyakit kronis sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” jelas Rizzky.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Prof. Trina Astuti, menegaskan penyakit kronis umumnya memerlukan pengobatan jangka panjang, sehingga pencegahan melalui pola hidup sehat menjadi langkah paling efektif.

Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan pola makan bergizi seimbang, makan teratur, cukup istirahat, serta mampu mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari.

Menjelang peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 pada 25 Januari, Prof. Trina mengingatkan pentingnya penerapan Empat Pilar Gizi Seimbang. Pilar tersebut meliputi konsumsi makanan beragam, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, aktivitas fisik yang rutin, serta menjaga berat badan tetap dalam batas normal.

Ia juga memperkenalkan panduan konsumsi gizi seimbang melalui konsep “Isi Piringku”. Setengah piring diisi sayur dan buah, seperempat piring karbohidrat, dan seperempat piring lainnya diisi lauk pauk sebagai sumber protein hewani maupun nabati.

“Panduan ini memudahkan masyarakat untuk melihat apakah kebutuhan gizi harian sudah terpenuhi atau belum,” ujarnya.

Selain itu, Prof. Trina mengingatkan agar konsumsi gula, garam, dan lemak dibatasi. Dalam sehari, batas konsumsi gula maksimal empat sendok makan, garam satu sendok teh, dan lemak lima sendok makan.

Masyarakat juga diimbau membiasakan membaca label gizi pada kemasan makanan guna mengetahui kandungan gula, garam, dan lemak dalam produk yang dikonsumsi.

“Sering kali produk mengklaim rendah gula, tetapi jika dikonsumsi berlebihan tetap berisiko. Pola makan sehat, rutin berolahraga, dan memantau berat badan secara berkala adalah kebiasaan sederhana namun efektif untuk mencegah penyakit kronis,” pungkasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Biaya Penyakit Kronis Tembus Rp50,2 Triliun, BPJS Kesehatan Dorong Pola Hidup Sehat

Trending Now