![]() |
| Produksi Porang: Direktur PT Sanindo Pangan Rinjani, Dian Rahadian, (Foto: Rosyidin/MP). |
Direktur PT Sanindo Pangan Rinjani (SPR), Dian Rahadian, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sedang menunggu proses perizinan akhir dari pemerintah China untuk memulai pengiriman dalam skala besar.
Selain China, PT SPR juga menyatakan kesiapan untuk melayani permintaan dari negara manapun mengingat kapasitas produksi yang dimiliki cukup mumpuni.
"Sekarang tinggal menunggu approval atau izin dari pemerintah China. Persyaratan sudah kita penuhi. Pada dasarnya, jika ada permintaan dari negara manapun, kita siap layani karena kapasitas kita besar," ujar Dian Rahadian saat ditemui di lokasi terkait perkembangan industri porang, Kamis (23/4) dua hari yang lalu.
Meski infrastruktur pabrik sudah siap beroperasi maksimal, tantangan utama saat ini terletak pada ketersediaan bahan baku lokal.
Dian menjelaskan bahwa pabrik membutuhkan sedikitnya 60 ton porang basah per hari untuk memenuhi target produksi. Jika dikalkulasikan dalam masa durasi panen selama enam bulan, diperlukan ribuan ton pasokan yang konsisten.
Saat ini, pasokan masih didominasi dari wilayah Kabupaten Lombok Utara (KLU), NTT, dan Pulau Sumbawa. Di Lombok Timur sendiri, pengembangan budidaya porang dinilai masih baru dan perlu akselerasi luas lahan.
"Di Lombok Timur ini baru kita mulai sekitar dua tahun yang lalu. Kita sedang memetakan lahan yang cocok. Idealnya, karena pabrik ada di Lombok Timur, bahan bakunya harus dari sini agar ekonomi lokal bergulir. Namun sementara ini, kita ambil dari manapun termasuk NTT dan Sumbawa untuk mencukupi kebutuhan," jelasnya.
PT SPR memproduksi dua item utama, yakni chips (keripik porang) dan tepung glucomannan. Produksi tepung ini tidak hanya menyasar pasar ekspor, tetapi juga mulai dilirik oleh industri besar di dalam negeri seperti produsen makanan olahan untuk bahan campuran jelly.
Selain sektor pangan, tepung porang hasil olahan PT SPR juga diproyeksikan untuk kebutuhan industri kosmetik dan farmasi. Kandungan serat yang tinggi pada porang menjadikannya bahan baku ideal untuk produk kesehatan, seperti kapsul diet yang memberikan efek mengenyangkan tanpa risiko obesitas.
"Untuk penjualan ada dua item, yaitu chips dan tepung. Di Indonesia sendiri, perusahaan besar seperti Garuda Food atau Indofood mulai beralih menggunakan glucomannan ini. Selain itu, untuk farmasi bisa digunakan sebagai campuran kapsul yang kaya serat," tambah Dian.
Pabrik yang dikelola PT SPR saat ini memiliki kapasitas produksi harian sekitar 10 hingga 11 ton untuk tepung. Infrastruktur ini merupakan hasil kolaborasi dan dukungan pemerintah, termasuk bantuan dari Kementerian Sosial dalam hal pembinaan strategis bagi para petani agar kualitas bahan baku yang dihasilkan sesuai dengan standar ekspor.
Mengenai harga, Dian menyebutkan saat ini harga bahan baku basah yang diterima di pabrik berkisar antara Rp10.500 hingga Rp10.800 per kilogram. Ia berharap ke depan sektor hulu (perkebunan) dapat tumbuh beriringan dengan kesiapan pabrik agar keberlanjutan industri porang di NTB tetap terjaga.

