![]() |
| Evakuasi: Proses evakuasi korban yang dilakukan oleh tim gabungan bersama warga setempat, (Foto: Istimewa/MP). |
Siswa kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI) tersebut dilaporkan hilang sejak pukul 12.00 WITA dan baru berhasil dievakuasi oleh tim gabungan dalam kondisi tak bernyawa pada pukul 17.40 WITA.
Peristiwa bermula saat korban bersama sekitar 10 orang temannya sedang asyik bermain di area Dam Sungai Otak Desa. Mereka melakukan aksi ekstrem dengan melompat dari tebing ke sungai secara bergantian.
Koordinator Pos SAR Kayangan, M. Darwis, menjelaskan bahwa petaka terjadi saat Alfin hendak melakukan gilirannya untuk melompat.
"Berdasarkan keterangan saksi, saat giliran korban yang hendak memegang tali untuk melompat, ia terpeleset dan jatuh dari atas tebing setinggi kurang lebih 10 meter. Korban sempat membentur batu di pinggir sungai sebelum akhirnya jatuh ke dalam air dan tenggelam," ungkap Darwis.
Benturan keras tersebut diduga membuat korban kehilangan kesadaran seketika, sehingga tidak mampu menyelamatkan diri saat masuk ke dalam air.
Upaya pencarian berlangsung selama hampir enam jam. Kondisi air yang keruh dan medan sungai yang berbatu menjadi tantangan utama bagi tim pencari dan warga setempat.
Haryanto Hardani, salah satu warga yang ikut dalam proses pencarian, menyebutkan bahwa arus bawah sungai cukup mengecoh.
"Kami semua kaget dan sangat berduka. Tim pencari sempat kesulitan karena medan berbatu dan air cukup keruh yang menjadi kendala. Saat kejadian, anak-anak lain langsung berteriak minta tolong, tapi posisi korban sudah tidak tampak," ujar Haryanto.
Baru pada pukul 17.30 WITA, Tim SAR bersama aparat dan masyarakat menemukan titik terang. Tubuh Alfin ditemukan berada di dasar sungai dalam posisi yang memilukan.
"Korban ditemukan di dasar sungai dalam posisi terjepit di sela-sela batu. Terdapat luka di bagian mulut, diperkirakan akibat benturan keras saat terjatuh," tambah M. Darwis.
Mirisnya, lokasi kejadian ini ternyata memiliki rekam jejak kelam. M. Darwis mencatat bahwa insiden serupa pernah terjadi pada tahun 2012 dan 2016, yang mana seluruh korbannya adalah anak-anak.
Faktor kurangnya pengawasan orang tua disinyalir menjadi pemicu utama. Diketahui, saat kejadian, kedua orang tua Alfin sedang bekerja di Sumbawa, sehingga korban hanya tinggal bersama neneknya.
Haryanto Hardani pun memberikan peringatan keras kepada para orang tua di Desa Ketangga agar kejadian ini menjadi yang terakhir.
"Jangan biarkan anak-anak bermain di sungai tanpa pengawasan dewasa. Debit sungai mungkin terlihat kecil di musim kemarau, namun ia masih menyimpan lubang dan arus bawah yang berbahaya. Ini pelajaran pahit bagi kita semua," tegasnya.
Meski terpukul, keluarga besar Alfin menyatakan telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan takdir. Mereka memutuskan untuk tidak menuntut pihak mana pun atas insiden ini. Jenazah korban kini telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Desa Ketangga dilaporkan telah kondusif, namun suasana duka masih menyelimuti lingkungan tempat tinggal Alfin yang dikenal sebagai anak yang baik.

