![]() |
| Ekonomi: Staf Ahli Bupati Lombok Timur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Muhammad Azlan saat membuka acara Workshop jurnalistik di Sembaulun, (Foto: Rosyidin/MP). |
Capaian tersebut dipaparkan oleh Staf Ahli Bupati Lombok Timur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Muhammad Azlan, SE., M.Ak., saat memberikan sambutan dalam acara Workshop Sinematografi Jurnalistik Televisi bertajuk “Desa Berdaya dalam Lensa” di Sembalun, Lombok Timur, pada Kamis (20/8) lima hari yang lalu.
Dalam pemaparannya, Azlan menegaskan pentingnya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat secara merata dan inklusif.
"Indikator kini rasio kita berada di angka 0,31. Ini menunjukkan bahwa distribusi pendapatan masyarakat di Lombok Timur mulai membaik dan relatif merata," ujar Azlan.
Meski angka kemiskinan berhasil ditekan sebesar 0,98 persen, Pemkab Lombok Timur mengakui masih menghadapi tantangan pada penanganan kemiskinan ekstrem yang berada di kisaran 3 persen atau sekitar 15.000 Kepala Keluarga (KK).
Untuk mengatasinya, pemerintah daerah berupaya menggeser pola penanganan dari sekadar bantuan langsung tunai (karitatif) menuju program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan (graduasi).
Azlan menyebutkan bahwa pada tahun 2025 lalu, Pemkab Lombok Timur telah menyalurkan bantuan pangan sebesar Rp40 miliar serta alokasi Rp20 miliar untuk bantuan modal kerja UMKM. Namun, intervensi utama yang kini terus digalakkan adalah program inovatif bernama Lombok Timur Berkembang (Berantas Rentenir Melalui Kredit Tanpa Bunga).
Melalui program hasil kolaborasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan ini, para pelaku usaha mikro, petani, dan peternak bisa mengakses permodalan tanpa terbebani bunga.
"Masyarakat kita tidak diberikan modal secara cuma-cuma, tetapi digandeng melalui akses perbankan dengan bunga nol persen. Seluruh beban bunganya disubsidi langsung oleh pemerintah daerah," jelas Azlan.
Ia mencontohkan keberhasilan program ini pada kelompok peternak di wilayah Kelayu. Bermodal pinjaman awal Rp15 juta tanpa bunga, kelompok peternak tersebut kini mampu berkembang mandiri hingga memiliki 10 ekor sapi dengan nilai jual mencapai puluhan juta rupiah.
Pada tahun berjalan ini, lanjut Azlan, Pemkab kembali menganggarkan sekitar Rp2,5 miliar untuk subsidi bunga, yang menyasar sektor-sektor produktif seperti peternak ayam serta petani porang di Pringgabaya.
Guna mengoptimalkan penuntasan kemiskinan, Pemkab Lombok Timur juga memfokuskan dukungan pada keberadaan 7 Desa Berdaya, yang mencakup Desa Sembalun Bumbung, Pesanggrahan, Pijot, Sakra, Lendang Nangka Utara, Tete Batu, dan Pringgabaya Utara.
"Di Lendang Nangka Utara misalnya, program pemberdayaan telah direalisasikan melalui bantuan bibit ayam petelur kepada 30 kelompok masyarakat," tutur Azlan.
Azlan menggarisbawahi bahwa penanganan akar masalah daerah yakni kemiskinan tidak bisa dibebankan kepada pemerintah saja, melainkan butuh kolaborasi dari berbagai pihak seperti Baznas, dunia usaha melalui dana CSR (seperti PT Aman Mineral), hingga insan pers.
"Pengentasan kemiskinan itu harus bersifat kolaboratif. Masalah pendidikan hingga stunting akan terselesaikan apabila perekonomian masyarakat membaik. Langkah teman-teman jurnalis merekam dinamika ini lewat lensa kamera menjadi bukti sejarah bagaimana pemberdayaan itu lahir dari desa," pungkasnya.
Acara workshop yang diprakarsai oleh Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) NTB bekerjasama dengan Baznas Lombok Timur ini ditutup dengan penyerahan bantuan paket sembako secara simbolis kepada masyarakat dan peserta pelatihan.

