Megathrust Bukan Mitos, Prof Dwikorita Ingatkan Pentingnya Mitigasi di Zona Ring of Fire ‎

Panca Nugraha
Rabu, Agustus 19, 2026 | 16.06 WIB Last Updated 2026-08-19T08:06:19Z
Prof. Ir. Dwikorita Karnawati.

MANDALIKAPOST.com – Isu mengenai zona megathrust yang belakangan menyita perhatian publik kembali menjadi perbincangan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 15 Agustus 2026.



‎Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pukul 04.58.24 WIB dengan pusat gempa sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah, termasuk NTB dan NTT.



‎Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat yang tinggal di kawasan Ring of Fire, termasuk NTB dan NTT, perlu memahami ancaman gempa bumi dan tsunami sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan.



‎Namun, satu hal penting perlu dipahami, gempa M7,7 di Flores tidak serta-merta berarti gempa megathrust. Wilayah Flores dan Nusa Tenggara memiliki sistem tektonik yang kompleks dengan sejumlah sumber gempa aktif.



‎Di tengah situasi tersebut, pandangan pakar geologi sekaligus mantan Kepala BMKG periode 2017-2025, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., kembali relevan.

Dalam bincang eksklusif di Podcast Oase, Dwikorita menegaskan bahwa megathrust bukanlah mitos, melainkan fakta tektonik yang harus dipahami masyarakat secara ilmiah.



‎Menurutnya, megathrust merupakan zona pertemuan lempeng tektonik atau subduksi, ketika satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.



‎Zona tumbukan tersebut dapat menyimpan energi sangat besar selama puluhan hingga ratusan tahun. Ketika energi itu dilepaskan melalui gempa besar, dampaknya dapat sangat luas, termasuk berpotensi memicu tsunami apabila memenuhi kondisi tertentu.


‎Sebagai gambaran, Dwikorita merujuk pada gempa dan tsunami Aceh pada 2004 sebagai salah satu contoh nyata gempa besar yang berkaitan dengan zona megathrust.



‎Meski demikian, Dwikorita mengingatkan masyarakat agar tidak menerjemahkan informasi mengenai potensi megathrust sebagai ramalan bahwa gempa besar akan segera terjadi.



‎Hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi secara akurat kapan, di mana dan berapa besar kekuatan gempa akan terjadi.



‎Karena itu, keberadaan zona yang memiliki potensi gempa besar tidak seharusnya menjadi sumber kepanikan. ‎Sebaliknya, informasi tersebut harus dijadikan dasar untuk memperkuat mitigasi.


‎Seismic Gap Bukan Ramalan Gempa


‎Para ahli gempa telah mengidentifikasi sejumlah wilayah yang dikenal sebagai seismic gap, yakni bagian dari zona tektonik yang dalam periode panjang belum mengalami pelepasan energi melalui gempa besar.



‎Dua kawasan yang selama ini banyak menjadi perhatian adalah segmen Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.



‎Namun, istilah seismic gap tidak boleh dimaknai sebagai kepastian bahwa gempa besar akan segera terjadi. ‎Justru data tersebut digunakan para ahli dan pemerintah untuk menyusun skenario risiko serta memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.


‎Dwikorita menegaskan bahwa ancaman megathrust bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan menjadi dasar dalam merancang skenario mitigasi dan kesiapsiagaan yang terukur.


‎Menurutnya, daripada masyarakat sibuk menebak kapan gempa akan terjadi, perhatian harus diarahkan pada bagaimana mengurangi risiko apabila gempa benar-benar terjadi.



‎Gempa Flores Jadi Pengingat


‎Gempa M7,7 yang mengguncang Mbay, Nagekeo, pada 15 Agustus 2026 memberikan gambaran nyata tentang pentingnya kesiapsiagaan tersebut.



‎BMKG mencatat gempa berkedalaman 15 kilometer itu menyebabkan guncangan dirasakan di berbagai wilayah dan memicu peringatan dini tsunami.



‎Bahkan, hasil pemantauan BMKG menunjukkan adanya perubahan muka laut di sejumlah lokasi. Di Maurole, Ende, tercatat perubahan muka laut sekitar 0,94 meter, sementara perubahan juga terpantau di Flores Timur, Labuan Bajo, Sikka, Dompu dan Alor.



‎Fakta ini memperlihatkan bahwa masyarakat pesisir tidak boleh mengabaikan ancaman tsunami setelah merasakan gempa kuat.



‎Namun, BMKG juga menekankan pentingnya memahami sumber gempa secara tepat.



‎Flores memiliki sistem tektonik yang kompleks, termasuk Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores, selain zona subduksi di kawasan selatan.
Karena itu, gempa Flores tidak boleh secara otomatis disebut sebagai gempa megathrust.


‎Yang harus diambil masyarakat adalah pelajarannya: wilayah Nusa Tenggara memiliki potensi kegempaan tinggi sehingga kesiapsiagaan harus menjadi budaya.



‎Dwikorita menekankan bahwa mitigasi harus dimulai dari kemampuan masyarakat melakukan evakuasi secara mandiri.


‎Salah satu langkah paling penting adalah memastikan bangunan tempat tinggal memenuhi prinsip konstruksi tahan gempa.


‎Masyarakat juga perlu mengetahui jalur evakuasi, lokasi titik kumpul dan tempat-tempat tinggi yang dapat digunakan apabila terjadi tsunami.


‎Khusus masyarakat yang berada di kawasan pesisir, jangan hanya menunggu sirene.


‎Apabila merasakan guncangan gempa yang kuat dan berlangsung lama, masyarakat harus segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi.


‎Demikian pula jika melihat tanda alam seperti air laut tiba-tiba surut secara tidak biasa setelah gempa, masyarakat harus segera melakukan evakuasi tanpa menunggu kepastian dari pihak lain.


‎"Jangan hanya bergantung pada sirine. Jika merasakan guncangan hebat atau air laut surut tiba-tiba, masyarakat disarankan segera evakuasi ke tempat tinggi," ujar Dwikorita.


‎‎Prinsipnya, keselamatan harus menjadi prioritas pertama.



‎Rumah Tahan Gempa dan Simulasi Harus Diperkuat


Prof. Dwikorita mengatakan, ‎mitigasi tidak boleh baru dilakukan setelah bencana terjadi.



‎Pemerintah daerah, sekolah, kawasan wisata, hotel, perkantoran, rumah sakit hingga masyarakat umum perlu melakukan pemeriksaan terhadap kerentanan bangunan.



‎Rumah yang dibangun di kawasan rawan gempa harus memperhatikan standar konstruksi tahan gempa.



‎Selain itu, latihan evakuasi harus dilakukan secara rutin agar masyarakat tidak kebingungan ketika bencana benar-benar terjadi.



‎Pengetahuan mengenai drop, cover and hold on atau berlindung, melindungi kepala dan leher, serta bertahan pada posisi aman juga perlu terus disosialisasikan ketika gempa terjadi di dalam bangunan.

Ia menandaskan, mitigasi bukan soal menunggu Megathrust. Sebab ‎Indonesia berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik aktif dan menjadi bagian dari Ring of Fire. Karena itu, gempa merupakan salah satu risiko alam yang harus dihadapi masyarakat.



‎Tetapi memahami potensi gempa tidak berarti harus hidup dalam ketakutan.
‎Pesan Prof Dwikorita justru sebaliknya, potensi bencana harus menjadi alasan untuk bersiap.



‎Gempa tidak dapat diprediksi secara tepat. Namun, risiko korban jiwa dapat ditekan melalui bangunan yang lebih aman, edukasi kebencanaan, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, simulasi rutin dan kemampuan masyarakat melakukan evakuasi mandiri.



‎Gempa Flores M7,7 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat semua itu.


‎Bukan untuk mengatakan bahwa megathrust akan segera terjadi, tetapi untuk mengingatkan bahwa masyarakat NTB, NTT dan wilayah Indonesia lainnya harus selalu siap menghadapi gempa dari berbagai sumber.



‎Megathrust bukan mitos. Tetapi megathrust juga bukan ramalan kapan gempa akan terjadi.



‎Yang pasti, kesiapsiagaan adalah investasi keselamatan yang harus dilakukan sebelum bumi kembali bergerak.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Megathrust Bukan Mitos, Prof Dwikorita Ingatkan Pentingnya Mitigasi di Zona Ring of Fire ‎

Trending Now