![]() |
| Retreat: Jemaat Isa Almasih Ampenan bersama Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh berfoto bersama Forkopimcam Sembalun, (Foto: Rosyidin/MP). |
Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Jemaat Isa Almasih Ampenan bersama Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) menggelar kegiatan retreat yang dibalut dengan pergelaran seni budaya lintas agama.
Acara yang dirancang penuh warna ini menghadirkan kolaborasi unik antara seni tradisional Gendang Belek Sembalun, pertunjukan Kasidah, serta keterlibatan pemuda dari Barisan Ansor (Banser) Sembalun dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Jajaran pemerintah daerah, jajaran aparat keamanan, hingga komisioner Bawaslu Nusa Tenggara Barat turut hadir memberikan dukungan penuh.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Kristen Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTB, Jhonson Parulian Hottua, S.H., M.H., M.Th. Yang hadir mewakili Kepala Kanwil Kemenag NTB, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya kegiatan yang memadukan penguatan rohani dan persatuan kebangsaan ini.
"Kami mengapresiasi dan bangga atas kebersamaan yang dihadirkan. Kehadiran pemuda lintas agama dari Ansor, seni Gendang Belek, hingga Kasidah merupakan contoh nyata bagi kita semua bahwa keberagaman itu harus dirawat dan dipelihara. Indonesia adalah rumah kita bersama," ujar Johnson saat ditemui di sela-sela acara, Jumat (14/8).
Jhonson menambahkan, keharmonisan yang tercipta di Sembalun ini diharapkan dapat menjadi rujukan dan inspirasi bagi daerah lain dalam merawat kerukunan. Ia juga mendorong agar momentum ini menjadi embrio bagi kegiatan kepemudaan yang lebih luas, seperti perkemahan Pathfinder lintas agama di masa mendatang.
"Keberagaman itu harus diterima. Meskipun berbeda keyakinan, semua agama mengajarkan kebaikan bagi pemeluknya. Kami berharap ini menjadi langkah awal untuk membuktikan bahwa NTB adalah daerah yang rukun dan guyub," tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Eksekutif Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Konferens Jawa Kawasan Timur, Pdt. Meiky Lapasiang, menegaskan bahwa kebersamaan ini tidak boleh berhenti pada tataran seremonial semata, melainkan harus dihidupi dalam keseharian.
"Kebersamaan di tempat ini adalah embrio untuk kegiatan lintas agama yang lebih besar. Perbedaan kepercayaan tidak boleh membuat kita jauh, tetapi justru menjadi lifestyle atau gaya hidup kita dalam bermasyarakat dan bersosial sehari-hari," tutur Pdt. Meiky.
Pdt. Meiky juga menyoroti pentingnya peran pemuda dan edukasi kepedulian lingkungan. Menurutnya, melalui wadah kepanduan seperti Pathfinder, anak muda tidak hanya dibina imannya tetapi juga diajarkan untuk mencintai dan melestarikan alam sekitar melalui penanaman pohon dan aksi kebersihan.
"Tujuan utama kami adalah membangun iman dan karakter rohani. Ketika rohaninya baik, maka dampaknya akan keluar dalam interaksi sosial menciptakan kedamaian, saling mengasihi, dan membawa dampak positif bagi masyarakat tempat kita berada," jelasnya.
Selain mengapresiasi kerja keras panitia dan inisiator acara di antaranya Jerry Wenas dan Unik Turu Alo, Pdt. Meiky memuji keterbukaan serta keramahan masyarakat dan Pemerintah Daerah Lombok Timur, terutama masyarakat Sembalun.
Ia menilai Sembalun tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki modal sosial yang hangat untuk dijadikan destinasi wisata religi maupun kegiatan outdoor skala nasional dan internasional.
"Lingkungan masyarakat di sini sangat terbuka dan bersahabat. Sembalun adalah tempat yang sangat ideal dan kami rekomendasikan untuk kegiatan-kegiatan retreat, baik bagi ormas gereja maupun komunitas lainnya," pungkas Pdt. Meiky.
Melalui perpaduan alunan nada Kasidah, tabuhan Gendang Belek, dan dekapan sejuk alam Rinjani, pesan perdamaian dari Sembalun ini menegaskan kembali bahwa di bawah naungan Sang Saka Merah Putih, perbedaan adalah kekayaan yang mempererat persaudaraan bangsa.

