![]() |
| PGRI Lombok Barat Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kampung Adat Sade. |
MANDALIKAPOST.com – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Lombok Barat menyalurkan bantuan kepada warga korban kebakaran di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Minggu (6/9/2026). Bantuan berupa paket sembako tersebut diserahkan sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas keluarga besar PGRI terhadap masyarakat yang tengah menghadapi musibah.
Bantuan diserahkan langsung oleh jajaran PGRI kepada warga terdampak kebakaran yang terjadi pada 22 Agustus 2026 lalu. Kegiatan sosial tersebut merupakan hasil donasi dan gotong royong anggota PGRI Kabupaten Lombok Barat untuk membantu meringankan beban masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat bencana tersebut.
Ketua PGRI Kabupaten Lombok Barat, H. Akhmad Sujai, mengatakan bantuan yang diberikan merupakan wujud nyata kepedulian organisasi profesi guru terhadap masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
“Kami turut prihatin atas musibah kebakaran yang menimpa warga Desa Sade. Bantuan ini mungkin tidak seberapa, tetapi merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas keluarga besar PGRI. Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak,” ujarnya.
Menurut Akhmad Sujai, semangat gotong royong dan kepedulian sosial harus terus dijaga, terutama ketika masyarakat menghadapi bencana yang berdampak luas terhadap kehidupan warga.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, lembaga sosial, maupun dunia usaha untuk bersama-sama memberikan dukungan bagi korban kebakaran agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat.
“Kami berharap masyarakat yang terdampak diberikan kekuatan dan ketabahan. Semoga proses pemulihan berjalan lancar dan bantuan dari berbagai pihak dapat terus mengalir kepada warga yang membutuhkan,” katanya.
Sebagaimana diketahui, kebakaran hebat melanda Kampung Adat Sade pada Sabtu malam (22/8/2026) sekitar pukul 21.45 Wita. Sedikitnya 75 unit rumah warga dilaporkan hangus terbakar dalam peristiwa tersebut.
Anton (46), salah seorang warga Kampung Adat Sade, mengaku masih mengingat jelas detik-detik saat api mulai membesar dan melahap permukiman warga.
“Malam itu saya lagi di luar rumah. Tiba-tiba kaget dibangunin kalau ada kebakaran,” ujar Anton kepada media ini, Ahad (6/9/2026).
Menurutnya, api diduga pertama kali muncul dari salah satu dapur rumah warga sebelum kemudian dengan cepat menjalar ke bangunan lain di sekitarnya.
“Api cepat sekali membesar karena rumah-rumah di sini menggunakan ilalang dan pagar anyaman bambu,” katanya.
Karakteristik rumah tradisional Sasak yang sebagian besar menggunakan material alami membuat kobaran api sulit dikendalikan. Dalam waktu singkat, api merambat dari satu bangunan ke bangunan lainnya, memaksa warga menyelamatkan diri dan mengevakuasi barang-barang yang masih sempat diselamatkan.
Namun derasnya kobaran api membuat sebagian besar rumah tidak dapat dipertahankan. Akibatnya, sebanyak 75 unit rumah dilaporkan rata dengan tanah.
Peristiwa tersebut menjadi pukulan berat bagi masyarakat Kampung Adat Sade yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman tradisional masyarakat Sasak dan destinasi wisata budaya unggulan di Lombok.
Selain kehilangan tempat tinggal, warga juga kehilangan berbagai barang berharga serta sumber penghidupan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Di tengah upaya pemulihan yang masih berlangsung, bantuan dari berbagai pihak, termasuk keluarga besar PGRI Kabupaten Lombok Barat, diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus memberikan semangat bagi masyarakat untuk bangkit kembali setelah musibah yang menimpa kampung adat tersebut.

