MANDALIKAPOST.com — Perum BULOG memperkuat pasokan beras premium di tengah kenaikan harga beras di pasaran. Volume beras premium yang dikelola melalui program komersial BULOG ditingkatkan dari sekitar 180 ribu ton menjadi 300 ribu ton secara nasional.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi sekaligus membantu menekan harga beras premium agar tidak semakin tinggi.
Hal itu disampaikan Direktur Utama Perum BULOG Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani saat melakukan monitoring beras premium di Lotte Mart Abian Tubuh, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, Sabtu (10/10/2026).
Dalam monitoring tersebut, BULOG memastikan sejumlah produk beras premium pemerintah tersedia di pasar ritel modern, di antaranya Sentra Ramos dan produk Bfood.
Ahmad Rizal mengatakan, selama ini BULOG melalui program komersial hanya mengambil sekitar 20 persen kebutuhan beras premium nasional. Porsi tersebut sengaja dipertahankan agar sektor swasta tetap memiliki ruang untuk berkontribusi dalam penyediaan beras premium.
“BULOG sendiri yang mengelola 20 persen ini. BULOG hanya pegang 20 persen. Supaya pihak-pihak swasta juga bisa berkontribusi,” ujarnya.
Namun, ketika harga beras premium mengalami kenaikan, pemerintah meminta BULOG meningkatkan pasokan.
“Karena sekarang harganya naik, kami diperintahkan untuk menambah lagi persentasenya, menambah premium menjadi 300 ribu ton,” katanya.
Dengan peningkatan tersebut, BULOG berharap pasokan beras premium di pasar semakin kuat sehingga mampu meng-cover kebutuhan masyarakat dan membantu menurunkan tekanan harga.
“Yang biasanya kami hanya sekitar 180 ribu ton, sekarang menjadi 300 ribu ton. Supaya itu meng-cover kebutuhan masyarakat dan menurunkan harga beras premium,” tegasnya.
Beras BULOG Tak Langka di Ritel Modern
Dalam pengecekan di Lotte Mart, Ahmad Rizal juga memastikan beras premium BULOG benar-benar tersedia dan tidak mengalami kelangkaan.
Manajemen Lotte Mart menyampaikan bahwa pasokan beras BULOG masuk secara rutin dan langsung kembali diisi ketika stok mulai berkurang.
“Data saya hampir tiap bulan tiga sampai empat ton. Minimal dua ton, langsung refill lagi. Dua ton, langsung refill lagi,” kata Ahmad Rizal mengutip keterangan manajemen ritel.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan beras BULOG cukup diminati masyarakat.
“Jadi cukup laku, peminatnya banyak,” ujarnya.
Ia menegaskan monitoring dilakukan untuk memastikan beras pemerintah tidak hanya tersedia di gudang, tetapi benar-benar berada di pasar dan dapat dibeli masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa beras-beras pemerintah, beras premium, juga ada di pasar umum, khususnya di retail modern,” katanya.
BULOG selanjutnya juga akan melakukan pengecekan di pasar-pasar SP2KP untuk melihat secara langsung perkembangan harga sejumlah kebutuhan pokok, mulai beras, minyak goreng, gula, telur, ayam hingga daging.
Harga Beras Premium Rp14.900 per Kilogram
Terkait harga, Ahmad Rizal memastikan beras premium BULOG yang dijual melalui ritel maupun pedagang mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET).
Harga yang disebutkannya sebesar Rp14.900 per kilogram.
“Ini beras premiumnya BULOG, negara. Harganya sesuai HET, Rp14.900,” jelasnya.
Untuk kemasan lima kilogram, harga yang ditampilkan di ritel mencapai Rp74.500.
Ia menegaskan harga tersebut tidak boleh dijual di atas HET.
“Kalau harganya dijual di atas HET, retailer dijemput langsung diperiksa oleh Satgas Pangan, teman-teman Polri,” tegasnya.
Serapan Nasional 4,11 Juta Ton
Dari sisi pengadaan, BULOG mencatat serapan beras nasional hingga Oktober 2026 mencapai sekitar 4,11 juta ton atau sekitar 103 persen dari target pemerintah sebesar 4 juta ton.
“Secara nasional sudah 4,11 juta ton. Jadi sudah 103 persen dari targetnya,” ujar Ahmad Rizal.
Sementara di NTB, realisasi serapan disebut baru mencapai sekitar 226 ribu ton dari target 240 ribu ton atau sekitar 94 persen.
“Targetnya 240 ribu ton, realisasi baru 226 ribu ton. Jadi tinggal sedikit lagi, tinggal 14 ribu,” katanya.
Ahmad Rizal menilai capaian tersebut penting untuk memperkuat cadangan pangan, terutama menghadapi risiko musim paceklik dan dampak fenomena El Niño.
Menurutnya, BULOG tidak sekadar mengejar penyerapan dalam jumlah besar, tetapi sedang membangun cadangan agar Indonesia tidak mengalami kekurangan beras ketika produksi menurun.
“BULOG itu mengantisipasi dengan adanya El Niño dan musim paceklik yang berkepanjangan. Kalau nanti musim paceklik dan El Niño ini kita tidak punya beras, situasi akan bahaya,” katanya.
Stok BULOG 4,5 Juta Ton
Ahmad Rizal menyebut stok beras BULOG saat ini sekitar 4,5 juta ton.
Jumlah tersebut kemudian diperhitungkan bersama stok beras yang berada di pasar, supermarket, rumah tangga, hotel, restoran dan kafe yang secara keseluruhan diperkirakan sekitar 10 juta ton.
Artinya, terdapat sekitar 14,5 juta ton stok yang tersedia sebelum memperhitungkan produksi panen berikutnya.
Dari musim tanam sebelumnya, produksi diperkirakan sekitar 10–11 juta ton dalam kondisi normal. Namun, jika terjadi dampak El Niño, produksi diperkirakan turun sekitar 10–15 persen sehingga estimasinya berada di kisaran 9 juta ton.
“Kalau 14,5 ditambah 9 juta, berarti 23,5 juta ton,” jelasnya.
Sementara kebutuhan konsumsi beras nasional diperkirakan sekitar 2,2 juta ton setiap bulan.
Dengan perhitungan tersebut, stok dan potensi produksi dinilai mampu menjaga kebutuhan nasional hingga sekitar Juli, sementara sebelum memasuki masa kritis tersebut Indonesia diperkirakan sudah memasuki panen raya berikutnya.
“Makanya kita buat stok yang banyak,” katanya.
Ia menilai cadangan pangan yang besar memberikan rasa aman ketika Indonesia menghadapi ancaman gangguan produksi.
Harga Gabah Petani Tembus Rp8.000
Di tengah upaya menekan harga beras premium, terdapat kondisi lain yang menjadi perhatian, yakni meningkatnya harga gabah di tingkat petani.
Ahmad Rizal menyebut harga gabah saat ini sudah tidak ada lagi yang berada di bawah Rp6.500 per kilogram.
“Sekarang harga gabah tidak ada lagi yang di bawah Rp6.500 per kilo. Rata-rata sudah di atas Rp7.000, Rp7.500, bahkan Rp8.000,” ungkapnya.
Menurutnya, tingginya harga gabah merupakan kabar baik bagi petani karena menunjukkan meningkatnya nilai ekonomi hasil produksi mereka.
“Petani untung, senang rakyat, ya kan? Sekali-sekali petani kaya boleh. Masa pengusaha terus yang kaya?” katanya.
Ia menegaskan pembangunan ekonomi nasional seharusnya tidak hanya membuat pelaku usaha besar semakin kuat, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat.
“Harus petaninya yang kaya, rakyatnya yang kaya. Kalau Indonesia mau maju, rakyatnya yang kaya, bukan mafianya yang kaya,” pungkas Ahmad Rizal.


