![]() |
| Obyek Wisata: Para wisatawan bersua foto sembari petik sendiri di kebun stroberi mitra King Stroberi, (Foto: Rosyidin/MP). |
Lewat manajemen King Stroberi berbasis kolaborasi warga, inisiatif ini berhasil mendongkrak pendapatan petani secara signifikan sekaligus membebaskan mereka dari bayang-bayang fluktuasi harga pasar.
Pengelola sekaligus Ketua King Stroberi, Muhammad Arifin, mengungkapkan bahwa gagasan menghadirkan konsep wisata ini lahir dari rasa keprihatinannya terhadap nasib para petani lokal stroberi yang sering terpuruk saat panen raya akibat kesulitan memasarkan hasil tani.
"Sebelum adanya King Stroberi dan basecamp-basecamp lain, petani di sini selalu cemas dan terpuruk dengan harga stroberi. Mereka bingung mau dibawa ke mana buah yang melimpah ini, sampai banyak yang rusak begitu saja," ujar Muhammad Arifin saat ditemui di Sembalun Bumbung, Minggu (19/10) kemarin.
Kini, peta perekonomian petani berubah drastis. Jika sebelumnya pendapatan harian petani hanya berkisar antara Rp200.000 hingga Rp500.000, kini berkat kunjungan wisatawan yang terus mengalir, pendapatan mereka melesat hingga Rp700.000, Rp800.000, bahkan menyentuh angka Rp1.000.000 per hari.
Meskipun baru berjalan sekitar dua setengah bulan, King Stroberi telah mengintegrasikan sedikitnya 137 titik lokasi kebun stroberi milik warga setempat. Luas lahan yang dikelola bervariasi, mulai dari 4 are hingga 12 are per lokasi.
Uniknya, pengelolaan usaha ini tidak memberlakukan aturan bagi hasil yang memberatkan. Sistem kontribusi dijalankan secara sukarela tanpa patokan persentase ketat dari pihak pengelola.
"Di sini tidak ada aturan penyetoran yang mengikat. Ketika petani dapat penghasilan satu juta rupiah, mereka mau nyetor berapa saja ke basecamp entah seratus atau seratus lima puluh ribu seikhlasnya mereka. Tujuan utama kami memang untuk memfasilitasi dan merangkul teman-teman petani," jelas Arifin.
Tak hanya menguntungkan petani stroberi, keberadaan pusat kunjungan ini turut dirasakan manfaatnya oleh para petani komoditas hortikultura lainnya. Wisatawan yang datang diperbolehkan membeli dan memetik langsung sayuran segar seperti seledri, bawang prei, hingga selada langsung dari kebun warga.
Untuk menjaga kualitas layanan, King Stroberi menerapkan standar pelayanan yang terbilang unik. Setiap pengunjung diwajibkan untuk memeriksa kondisi buah dan kebun terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli tiket masuk.
"Kami wajibkan tamu cek buah dan cek lokasi dulu sebelum beli tiket. Kami tidak mau wisatawan kecewa karena kondisi buah tidak sesuai ekspektasi. Kalau mereka tidak cocok di satu lokasi, bisa dipindahkan ke lokasi lain yang sesuai," tegasnya.
![]() |
| Petik Sendiri: Kebun stroberi Desa Sembalun Bumbung, (Foto: Rosyidin/MP). |
Fasilitas tiket ini sudah mencakup akses makan buah stroberi sepuasnya di dalam kebun. Pengunjung bahkan diperbolehkan membawa bumbu pelengkap sendiri seperti bumbu rujak.
Guna menjaring pengunjung, Arifin memanfaatkan promosi digital melalui platform siaran langsung (live streaming) di medsos serta menjalin kemitraan erat dengan jaringan hotel, vila, pemandu wisata, hingga travel agent regional. Hasilnya, tingkat kunjungan mencapai 500 hingga 1.000 orang per hari, dan melonjak hingga lebih dari 2.000 wisatawan pada akhir pekan.
Daya tarik petik sendiri ini tidak hanya memikat wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara.
"Alhamdulillah, tamu bule dari berbagai negara hingga wisatawan asal Arab Saudi sudah banyak yang datang. Karena sebagian warga belum lancar berbahasa asing, sementara ini saya turun langsung menemani sebagai pemandu. Ke depan, kami berharap bisa membina teman-teman petani agar fasih bahasa asing demi meningkatkan pelayanan," pungkas Arifin.
Melalui inisiatif swadaya tanpa bergantung pada bantuan formal, King Stroberi sukses menata rantai pemasaran stroberi Sembalun menjadi sebuah destinasi wisata pertanian yang ramah, transparan, dan berkelanjutan.


