Iklan

Anggap Corona Sama dengan Flu Biasa, Epidemiolog Nilai Opini Dr Muazar Tak Berdasarkan Kajian Ilmiah

MandalikaPost.com
Sabtu, Juni 06, 2020 | 19:33 WIB Last Updated 2020-06-06T12:33:50Z
Virus Corona./Ilustrasi

MATARAM - Seorang ahli epidemiologi, Henry Surendra, PhD., menilai tulisan opini Tim Ahli Gugus Tugas Covid-19 Lombok Barat tidak berdasarkan kajian ilmiah, sehingga beberapa kesimpulannya bisa saja keliru karena tak mendasar.

Hendry menyampaikan tanggapan terhadap tulisan Dr. Muazar Habibi berjudul "Catatan Seorang Tim Ahli Percepatan Penanganan dan Dampak Covid-19 tentang Covid-19" tersebut.

Membuka tanggapannya, Epidemiolog ini menyampaikan dirinya sebelumnya telah mengundang Dr. MA Muazar Habibi untuk menyelenggarakan diskusi online terbuka untuk memberikan edukasi yang baik ke publik NTB. Namun, Muazar menyatakan tidak bersedia.

Berikut kutipan poin opini Dr Muazar (font italic) dan tanggapan dari Hendry Surendra (font normal) :

Muazar Kendati saya sering dibully menyatakan bahwa covid-19 itu seperti flue biasa, yang bombastis itu justru efek Media sehingga memunculkan kekawatiran yang sangat besar di tengah-tengah masyarakat. Saya sebagai salah satu Tim Ahli Percepatan Penanganan dan Dampak Covid-19 (Ahli Psikologi) telah bertemu dengan berbagi orang baik masyarakat pada umumnya, PDP, ODP dan bahkan yang positif dan sudah sembuh dari covid-19.
Ada beberapa catatan menarik dari apa yang saya peroleh ketika berinteraksi dengan mereka. Nanti mungkin catatan saya ini bisa dikoreksi oleh para dokter dan ahli lainnya, namun apa yang saya sampaikan ini empiris dan ilmiah.

1. Masyarakat sendiri bingung, sisi lain pasar selalu dibuka di NTB ini sejak awal sampai kini, tetapi anehnya tidak ada satupun cluster pasar. Yang lebih banyak justru cluster Gowa yang disebut-sebut memberikan konstribusi besar pada naiknya covid-19.

TANGGAPAN 1:
Henry : Saya akan mulai dari definisi klaster. Klaster kasus adalah sekumpulan kasus yang jalur penularannya mengarah ke satu sumber yang sama (kasus indeks).
Klaster Gowa memberikan kontribusi besar karena banyaknya jamaah tabligh yang secara bersamaan menghadiri satu acara yang sama dan pada waktu yang sama, yang diadakan di Gowa. Jumlah jamaah yang pergi ke Gowa saja sudah banyak Pak (sekitar 4.000an), Jadi, tidak mengherankan apabila sebagian besar dari orang ini terpapar virus saat berkerumun di Gowa atau saat dalam perjalanan pulang-pergi bersama-sama. Selanjutnya, semua kasus yang jalur penularannya terhubung dengan kasus dari Gowa ini akan masuk ke dalam kluster Gowa. Sekalipun ada banyak orang yang tertular di pasar atau pun di mall, selama jalur penularannya berhubungan dengan kasus Gowa ya akan tetap masuk ke klaster Gowa.
Kenapa tidak ada klaster Pasar?
Karena COVID-19 ini menular dari orang ke orang Pak. Virus ini tidak ada begitu saja di NTB. Virus ini dibawa ke NTB melalui beberapa jalur, yaitu jalur kasus Gowa, jalur kasus Jakarta, Bogor, dan kasus-kasus lain yang tertularnya di luar NTB (kasus impor). Nah dari kasus-kasus impor ini lah kemudian ditelusuri siapa saja yang pernah kontak dengan mereka dalam 14 hari terakhir. Selanjutnya kasus-kasus yang tertular dari kasus impor tersebut akan dikelompokkan menjadi klaster-klaster sesuai dengan jalur penularannya.
Karena virus ini datangnya dari luar dan dibawa orang (tidak ada secara alami di NTB atau Indonesia), jadi tidak mungkin ada definisi klaster pasar. Akan lain ceritanya apabila virus ini ditularkan dari hewan ke manusia, seperti flu burung misalnya. Jika demikian, bisa saja ada klaster pasar karena pengunjung dan pedagang pasar sangat mungkin tertular dari unggas yang diperjual-belikan di pasar. Semoga ini cukup jelas nggih Pak.

Muazar : 2. Kemudian saya temui beberapa cluster Gowa yang asalnya dinyatakan positif dan di karantina lalu pulang untuk menjaga etika saya cari no HP dan tidak tatap muka langsung tetapi melalui media VC WA. Para cluster ini selama karantina, diminta olah raga, makanan cukup dan diberikan vitamin. Setelah itu walau ada beberapa yang memang harus dirawat tidak sampai ada yang masuk ICU atau perawatan sampai di infus segala bahkan tidak ada yang namanya diberikan nafas tambahan dari alat ventilator, Alhamdulillah wa syukurilah beliau-beliau sehat bugar kembali.

TANGGAPAN 2:
Henry : Pasien klaster Gowa tidak semuanya baik-baik saja, apalagi seperti pernyataan Bapak bahwa COVID-19 ini hanya seperti terkena flu biasa. Kenyataanya ada juga yang meninggal Pak. Silakan cek beritanya di sini:
https://www.vivanews.com/berita/nasional/45854-pasien-klaster-gowa-di-ntb-meninggal-total-positif-61-orang
Saya bahkan mendapat informasi dari tenaga kesehatan yang menangani pasien di NTB bahwa ada satu kasus klaster Gowa yang datang dengan kondisi batuk berdarah.
Setiap kasus memang akan mengalami gejala yang berbeda-beda dan menurut WHO, mayoritas kasus (80%) memang akan bergejala ringan atau tidak bergejala sehingga tidak membutuhkan penanganan medis yang kompleks. Namun, orang-orang ini tetap bisa menularkan ke orang lain yang rentan sakit berat dan meninggal seperti kelompok lanjut usia atau orang dengan penyakit penyerta. Strategi penanggulangan pendemi yang efektif adalah pemutusan rantai penularan. Oleh karena itu, penting untuk mendeteksi kasus sebanyak-banyaknya untuk kemudian diobati sesuai kondisi klinisnya dan diisolasi agar tidak menularkan ke orang lain. Jika penularan tidak terkendali maka dikhawatirkan akan terjadi lonjakan kasus yang melebihi kapasitas rumah sakit dan tenaga medis sehingga akan banyak pasien COVID-19 dan pasien lainnya yang terlantar dan terancam meninggal apabila tidak mendapat perawatan yang optimum.

Muazar : 3. Masih ingat dengan cluster 1 dan 2? Yang beliau adalah tokoh agama dan punya lembaga pesantren. Isu pertama kali yang muncul dan informasi yang saya terima pesantren ditutup karena ada yang terpapar bahkan 1 desa dan kecamatan terpaksa di tutup di Lombok Timur. Tetapi kemudian beliau di nyatakan sehat dan santri-santri tidak ada yang terpapar bahkan anak-anaknya juga tidak ada, anehnya sang tukang urut Alhamdulillah negatif covid-19.

TANGGAPAN 3:
Henry : Sekali lagi saya tegaskan bapak keliru memahami istilah atau konsep dasar kluster. Untuk kluster Jakarta (pasien nomor 1) telah menularkan ke pasien nomor 2, 6, 9, 10, 25. Jadi, klaim bapak sangat fatal mengatakan tidak ada yang terpapar oleh pasien nomor 1. Lagipula tidak ada yang aneh dengan ini Pak. Jika kenyataannya tidak ada orang lain yang tertular dari kasus pengelola pesantren ini, bukan berarti virus ini tidak mampu menularkan ke orang lain. Lihat lah hampir 7 juta orang di dunia dan nyaris 29.000 orang di Indonesia yang tertular. Atau jangan jauh-jauh, lihat lah total kasus di NTB yang kini mencapai 705 kasus dan 18 kematian per tanggal 4 Juni (https://corona.ntbprov.go.id/). Kita harusnya berterima kasih atas respons cepat yang dilakukan petugas kesehatan. Mereka telah dengan segera merawat dan mengisolasi pasien, serta gerak cepat melakukan pelacakan kontak dan karantina untuk mencegah penularan meluas dari klaster ini.

Muazar : 4. Secara riel saya tau ada beberapa pejabat Lombok Barat yang ikut Rapit Tes, pada rapit tes pertama dengan produk dari negara tertentu dinyatakan reaktif covid-19, tetapi kemudian dilakukan tes ulang dengan produk rapit tes lainnya dan swap toh hasilnya negatif dan beliau-beliau sehat bugar.

TANGGAPAN 4:
Henry : Hasil rapid test yang reaktif tidak menunjukkan bahwa sesorang sedang sakit COVID-19, melainkan menunjukkan ada tidaknya antibodi spesifik terhadap virusnya. Jika kemudian hasil swabnya negatif maka dapat berarti dua hal. Pertama, rapid test tersebut menangkap antibodi virus lain yang serupa dengan virus penyebab COVID-19 (bisa jadi yang dideteksi adalah antibodi SARSCOV atau MERSCOV). Kedua, bisa jadi orang tersebut memang betul sudah terinfeksi COVID-19 namun virus tidak lagi terdeteksi saat dilakukan swab karena orang yang bersangkutan sudah sembuh. Antibodi jangka panjang (IgG) akan diproduksi tubuh di sekitar hari ke-10 setelah infeksi dan akan bertahan di tubuh selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Jadi tidak aneh kalau rapid testnya positif namun swab negatif apabila sesorang sudah sembuh dari COVID-19.
Saya pernah membahas tentang ini di media lokal (https://tabulanews.id/hasil-rapid-tes-positif-belum-tentu-positif-corona/)  dan di kelas umum yang bisa disaksikan videonya di youtube (https://youtu.be/ou78kzZeOKM )

Muazar : 5. Pada beberapa kesempatan pejabat negara ini yaitu Presiden, keluar dalam acara bersama banyak orang juga pakai masker tidak seperti layaknya pakai masker, diletakkan di dagunya termasuk Gubernur NTB, pakai masker tetapi juga tidak dipakai sebagainya layaknya pakai masker! Artinya apa? Beliau-beliau ini tentu tau resiko covid-19, kalau memang berbahaya. Kenapa demikian adanya pakai masker?

TANGGAPAN 5:
Henry : Saya kurang jelas pesan apa yang ingin Bapak sampaikan di sini. Apakah Bapak bermaksud mengatakan bahwa Pak Gubernur tidak tahu cara memakai masker yang benar? Atau bahwa Pak Gubernur menganggap remeh penularan COVID-19? Atau Bapak mau bilang kalau Gubernur NTB sebenarnya meyakini bahwa COVID-19 ini tidak berbahaya dan hanya seperti flu biasa (seperti yang Bapak klaim) sehingga beliau merasa tidak perlu menggunakan masker dengan benar?
Mohon klarifikasinya Pak.

Muazar : 6. Saya pun tanya kepada beberapa keluarga yang meninggal karena covid-19. Dari 3 yang saya tanyakan, 1 usia dibawah 40 tahun yang meninggal. 2 diatas 50 tahun. Keluarga mengatakan bahwa yang meninggal itu memang positif covid-19 tetapi punya penyakit lainnya seperti Diabetes Melitus dan 2 nya mengemukakan bahwa punya riwayat penyakit paru-paru (tidak menyebut spesifik penyakit paru-paru apa)

TANGGAPAN 6:
Henry : Singkat saja Pak. Lantas kalau beliau tidak terkena COVID-19 dan hanya kena flu biasa, apakah beliau-beliau akan meninggal saat itu juga Pak? Jika Bapak bisa buktikan demikian, saya akan kampanye bahwa COVID-19 sama seperti flu biasa.

Muazar : 7. Sekarang ada salah satu mantan mahasiswa saya yang ayahnya dikatakan positif covid-19. Saat kontrol ke dokter pada mulanya adalah karena memang kontrol rutin karena punya penyakit paru-paru, usianya sekitar 60an ke atas. Setelah sampai di klinik langsung di nyatakan positif covid dan harus dirawat di RS, anehnya yang diminta merawat adalah anak nya sendiri, sudah dilakukan rapit tes, tetapi yang merawat tidak positif covid-19? Aneh kan padahal merawat selama bebepa hari. Dan saat di rumah sakit, hanya diberikan antibiotik, vitamin dan perawatan penyakit parunya. Alhamdulillah sampai sekarang beliau sehat. Semoga tetap sehat.

TANGGAPAN 7:
Henry : Saya gagal paham dengan pemikiran Bapak. Apakah Bapak berharap semua orang yang merawat pasien COVID-19 akan tertular secara otomatis? Tentu tidak Bapak. Risiko merawat pasien COVID-19 tentu akan berbeda-beda. Dari yang Bapak ceritakan ini, Ayahanda yang sakit tidak sampai memerlukan prosedur pertolongan seperti pemasangan ventilator yang meningkatkan risiko tenaga kesehatan untuk tertular karena ada prosedur memasukkan alat ke dalam tenggorokan pasien yang merupakan sarang virus. Dalam teori, ada yang disebut dengan dosis-respons. Semakin besar dosis paparan virus, maka semakin besar risiko seseorang tertular. Kalau petugasnya menggunakan APD dan tidak ada prosedur risiko tinggi, maka dosis paparannya akan rendah sehingga kemungkinan tertular pun akan rendah.

Muazar : 8. Saya prihatin dengan para tenaga kesehatan yang terpapar covid-19, mereka saat ini sangat dibutuhkan oleh kita semua dalam menangani Covid-19 ini. Namun saya juga merasa aneh, beberapa yang terpapar justru bukan dari perawat dan dokter yang langsung merawat pasien covid-19 bahkan ada dokter spesialis kandungan dan juga dokter spesialis anastesi?!
Bisa jadi memang penularannya dari pasien tanpa gejala. Tetapi pasien tanpa gejala itu kemana? Apa yang bersangkutan masuk perawatan RS atau sehat? Ini yang perlu di identifikasi secara khusus.

TANGGAPAN 8:
Henry : Petugas kesehatan bisa terpapar saat merawat pasien yang diketahui positif atau pasien terifeksi namun tidak diketahui positif oleh petugas yang menangani. Jangan heran kalau banyak dokter gigi atau spesialis THT yang tidak merawat pasien COVID-19 namun tertular. Itu sangat bisa terjadi karena pasien-pasien yang mereka tangani bisa jadi adalah pembawa virus, hanya saja belum teridentifikasi sebagai kasus positif karena belum diperiksa.

Muazar : 9. Tentang banyaknya kasus positif Covid-19 di NTB yang berdampak pada anak, saya memang bukan ahli penyakit anak tetapi membaca beberapa artikel terbaru bahwa rapit tes ini erat kaitannya dengan imun seseorang apalagi anak. Penyakit anak itu lebih sering adalah ISPA seperti batuk, pilek dan demam. Nah ketika di rapit tes pada saat mereka sakit, apalagi menggunakan rapit tes produk negara tertentu bisa jadi langsung positif. Lha wong pejabat yang sehat bugar di tes dengan rapit tes produk negara itu aja bisa positif apalagi anak-anak? Apalagi jika anak-anak itu saat diperiksa dalam kondisi kurang fit karena batuk, pilek dan demam.

TANGGAPAN 9:
Henry : Pak Doktor yang terhormat, rapid test bukan alat diagnosa melainkan alat untuk skrining. Rapid test mengukur keberadaan antibodi spesifik terhadap virus SARS-COV-2 yang menjadi penyebab COVID-19. Apabila sesorang dinyatakan reaktif berdasarkan rapid test, maka harus dilakukan pemeriksaan PCR untuk memastikan apakah didalam sampel lender tengorokan orang tersebut terdapat virusnya atau tidak. Jika pun seseorang reaktif rapid test namun negative PCR, bukan berarti orang tersebut tidak pernah terinfeksi virus. Bisa jadi orang tersebut sudah pernah terpapar virus, namun sudah sembuh sehinga virus tidak lagi dapat terdeteksi oleh tes PCR.
Kekeliruan mendasar dari gagasan Bapak dalam poin ini adalah menganggap bahwa semua kasus anak yang positif di NTB adalah berdasarkan pemeriksaan rapid test. Ini KEKELIRUAN FATAL ! Pernyataan Bapak ini sangat-sangat tidak mendasar. Jika Bapak tidak tahu bagaimana diagnosa COVID-19 ditegakkan, harusnya Bapak tanya ke Satgas atau ke dinas Kesehatan, cross check ke bagian laboratorium rujukan dan cross check lagi dengan membaca panduan nasional pengendalian COVID-19. Kalau Bapak kesulitan melakukan itu, Bapak bisa googling protokol diagnosa COVID-19 di Indonesia! Sesimpel itu Pak. Jangan blunder seperti ini. Kan bikin malu kolega Bapak yang masuk ke dalam tim ahli. Bikin malu Bupati atau siapapun yang mengangkat Bapak sebagai tim ahli tingkat kabupaten.

Muazar : 10. Maka seperti kata Dr. Jack direktur RSU Kota Mataram dalam Lombok Post hari ini 2 Juni 2020 mengemukakan akan melakukan swap ulang pada anak yang dinyatakan positif covid-19, saya lebih percaya beliau selain direktur juga dokter yang tentu hal impiris dan pengalaman sebagai direktur RS rujukan covid-19 sudah tau bagaimana sebenarnya covid-19 ini.

TANGGAPAN 10:
Henry : Bapak berhak untuk memilih percaya siapa pun. Akan tetapi, Bapak perlu melakukan cross check ke sumber lain sebelum Bapak mengambil kesimpulan. Sebagai seorang Doktor dan dosen, saya yakin Bapak paham dengan metodologi penelitian ilmiah. Tentu Bapak sudah hatam bahwa untuk menyimpulkan suatu pertanyaan secara kualitatif, harus dilakukan triangulasi data. Kalau pun Bapak memilih mengambil kesimpulan hanya berdasarkan “keterangan ahli”, tentu Bapak juga masih ingat bahwa Bapak harus bertanya ke beberapa ahli sampai Bapak mendapatkan jawaban yang menunjukkan kesepakatan dari para ahli tersebut. Mohon maaf, harus saya katakan bahwa penarikan kesimpulan berdasarkan pendapat satu orang sangat tidak mencerminkan kajian ilmiah seorang ahli.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Anggap Corona Sama dengan Flu Biasa, Epidemiolog Nilai Opini Dr Muazar Tak Berdasarkan Kajian Ilmiah

Trending Now

Iklan

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, 

pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online