Iklan BNS

Sangkep Beleq Awiq-Awiq Pariwisata Kepaeran Sembalun

Rosyidin
Kamis, Juli 29 | 21.32 WIB
Pertemuan Sangkep Beleq untuk merumuskan awig-awig kepariwisataan di Sembalun.

MANDALIKAPOST.com - Destination Management Organization (DMO) Sembalun, bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Sembalun dan Majelis Adat Kemangkuan Sembalun, menggelar Sangkep Beleq dalam rangka pemebahasan awik-awik (aturan) pariwisata khusus Paer Sembalun. 


Acara tersebut, merupakan inisiasi dari tiga lembaga yakni, Pemerintah Kecamatan Sembalun, DMO Sembalun dan Majelis Adat Kemangkuan  Sembalunberlangsung di Room meeting hotel Nusantara Sembalun, Kamis (22/7/21). 


Acara itu, di hadiri oleh Wakil Bupati Lombok Timur H Rumaksi, Ketua Bale Mediasi NTB  Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, SH, MH, anggota DPRD Komisi II Rupnih S.Ag, Camat Sembalun Mertawi S.Pd. 


Turut hadir dalam giat tersebut yakni, stakeholder kunci dalam tata kelola pariwisata Sembalun diantaranya, KPH Rinjani Timur, Geopark Rinjani-Lombok, Sembalun 7 Summits, Kepolisian Sektor Sembalun, Koramil 1615 Sembalun. 


Serta dihadiri oleh 48 peserta dari enam desa yang mewakili seluruh elemen masyarakat dan Pentahelix pariwisata termasuk tokoh perempuan dan pelaku UMKM. 

Baiq Seri Mulia Direktur DMO Sembalun menyampaikan bahwa, ia bersama timnya memberanikan diri untuk mengusulkan ke pemerintah Kecamatan dan Majelis Adat Kemangkuan Sembalun. 


Dalam hal Menggunakan pendekatan melalui adat dan budaya, sebagai landasan membangun sebuah regulasi atau mupakat bersama dalam membentuk draft aiwik-awik "Pariwisata Kepaeran Sembalun". 


"Kita tidak bisa menunggu diperda yang sedang dibahas saat ini, karena itu kita tidak tau prosesnya berapa lama. Sementara kebutuhan regulasi sangat mendesak", jelas Lia. 


Lia memaparkan kenapa memilih kepaeran atau isaide itu, karena pariwisata merupakan salah satu isu yang sifatnya lintas batas. Sehingga menurutnya, tidak bisa mencarikan solusi atau membangun sistem sifatnya partial atau per desa. 


"Ini adalah pekerjaan yang besar dan berat, sehingga kami menawarkan pendekatannya harus kepaeran. Sehingga memerlukan kerja sama semua stakeholder dan elemen, termasuk media", kata Lia.



Lia alumni salah satu unuversitas Austeralia ini, mengatakan lebih lanjut.  Dengan kondisi sosial lingkungan sembalun saat ini, apa lagi ditambah dengan masa pandemi. Ia mengajak semua elemen masyayakat untuk belajar berfikir kepaeran, bukan lagi antar individu atau antar desa. dimana masyarakat Sembalun adalah sebagai saudara satu darah dan satu sejarah. 


"Karena hanya dengan semangat Sasak Sangkabira, Sembalun akan mampu menjadikan pariwisata sebagai alat untuk memperbaiki kualitas kehidupan saat ini maupun di masa depan. Mari sudah saatnya kita berpikir kepaeran", pungkas Lia. 


Harapannya nanti, ketika ini menjadi sebuah produk hukum.  Agar mempunyai kekuatan hukum yang cukup kuat, untuk mengikat yang bisa ditegakan bersama-sama kareana ini merupakan satau dari prospertipatif. 


"Harapan kita, bisa menjadi payung hukum yang di legaliataskan oleh pemerintah. Sehingga apa yang kita bahas hari ini (kemarin-red) tidak sia-sia", harap Lia. 


Senada apa yang disampaikan oleh Camat Sembalun, Martawi S.Pd. dalam sambutannya mengingatkan. Bahwa harus ada pranata atau awik-awik sebagai pedoman yang mengatur hubungan antara masyarakat dengan wisatawan, pelaku industry pariwisata, dan lingkungan. 


"Awik-awik ini nantinya diharapakan akan menjadi bentuk  kristalisasi dari ajaran agama. Dimana pentingnya hubungan emosional antara masyarakat kepaeran Sembalun dengan Rinjani", kata Mertawi. 


“Jika kita tidak kembali kepada kearifan lokal, maka generasi yang akan datang kehilangan informasi tentang identitas mereka” imbuh Mertawi. 


Sementara itu Wakil Bupati Lombok Timur, H Rumaksi dalam sambutannya. mengapresiasi terhadap usaha dan kepedulian masyarakat Sembalun untuk membantu pemerintah menghidupkan kembali nilai budaya dan kearifan lokal di lingkar Rinjani. 


“Sembalun sebagai salah satu Paer di lingkar Rinjani, harus bisa menghidupkan kembali budaya lokal untuk meningkatkan dampak ekonomi pariwisata”, kata Rumaksi 


Pendapat tersebut, dikuatkan kembali oleh  Ketua Bale Mediasi NTB yang juga mendukung inisiasi sangkep tersebut. 


“Jika kita gagal mempertahankan kearifan lokal lingkar Rinjani, generasi berikutnya akan menyalahkan kita atas kegagalan itu”, ujar Dr. H. Lalu Sajim 


Ia menyampaikan lebih lamjut kepada forum bahwa, awik-awik mempunyai posisi yang sangat kuat di mata hukum formal karena diakui keberadaannya oleh UUD 1945. 


"Awik-awik lahir dari masyarakat lokal, ini merupakan bentuk ujud nyata dari isi UUD 1945", katanya.



Untuk diketahui Sangkep tersebut berlangsung selama kurang lebih 1 hari, dan menghasilkan rekomendasi yang akan dikompilasi oleh tim penyusun draft. Selanjutnya dibahas kembali pada forum terbatas terdiri dari para ahli yang mengawal penyusunan awik-awik dengan pendampingan dari fasilitator. 


Adapun peserta sangkep menginventarisir awik-awik tidak tertulis yang pernah ada, kemudian disesuaikan dengan keadaan saat ini. 


Ada beberapa komponen dalam awik-awik tersebut, mencakup aspek lingkungan, sosial dan ekonomi. Yang akan mengikat seluruh elemen kepariwisataan termasuk didalamnya yakni masyarakat, wisatawan dan pelaku industri. 


Untuk memastikan ditegakkannya peraturan bersama ini, Lang-lang Desa dan Lang-lang Paer akan dibentuk setelah pengesahan. termasuk mekanisme pelaporan dan penanganan pelanggaran. 


Dokumen ini direncanakan akan dapat disahkan dan diberlakukan atau di undangkan dalam waktu dekat, serta berlaku efektif selambat-lambatnya tahun depan. 


Tentunya acara tersebut, melalui prokes Covid-19 dengan sangat ketat dimana peserta maupun undsngan diwajibkan menggunakan masker dan jaga jarak. Terbukti dengan  antusiasme peserta sangkep mengindikasikan bahwa masyarakat mendukung usaha para pihak di Sembalun untuk transisi menuju Quality Tourism.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sangkep Beleq Awiq-Awiq Pariwisata Kepaeran Sembalun

Trending Now

Iklan