Jagung NTB jadi Pemasok Pertama Industri Produk Makanan, DNA Kembangkan Aplikasi SIJI

MandalikaPost.com
Jumat, September 17, 2021 | 21.24 WIB Last Updated 2021-09-18T13:29:54Z
Dirut PT DNA, Dean Novel menunjukan aplikasi SIJI di ponselnya kepada sejumlah wartawan di Mataram.

MANDALIKAPOST.com - Sementara jagung daerah lain hanya bisa masuk ke pasar produksi pakan ternak, komoditi jagung rendah alfatoksin dari Nusa Tenggara Barat (NTB) justru sudah menjadi pemasok pertama kebutuhan jagung untuk food productions. 


"NTB menjadi daerah pertama pemasok jagung untuk kebutuhan pangan atau food, bukan untuk feed atau pakan ternak," kata Direktur Utama PT Datu Nusra Agrobisnis (DNA), Dean Novel, Jumat 17 September 2021 di Mataram.


Menggandeng lebih dari 5.900 petani jagung di Lombok Timur, PT Datu Nusra Agrobisnis (DNA) mengembangkan budidaya jagung rendah alfatoksin di kawasan Pringgabaya dan Sambelia sejak tujuh tahun terakhir.


BACA JUGA : Irigasi Tetes Tidak Mangkrak, Masalahnya Diduga Ada di Perusahaan Mitra 


Saat ini PT DNA tercatat beberapa kali mengirimkan puluhan ton jagung rendah alfatoksin ke sejumlah perusahaan produksi makanan, seperti PT Miwon Indonesia.


"Kami juga menjalin kerjasama dengan BUMD NTB, PT Gerbang NTB Emas (GNE), untuk pengiriman jagung rendah alfatoksin ke luar daerah," katanya.


Dean menjelaskan, potensi komoditi jagung di NTB sangat besar. Hanya saja belum digarap maksimal. 


Selain itu, pola tanam yang masih konvensional juga membuat mutu dan kualitas produk jagung yang ada sebagian besar sulit menembus pasar untuk produksi pangan.


Menurutnya, pola tanam serentak untuk sebuah komoditi yang akhirnya bermuara pada panen raya, ada sisi baiknya dalam menjaga ketersediaan stok komoditi. Namun, di lain sisi, akan menjadi bumerang karena produksi berlebihan berisiko tak terserap pasar dan harga akan anjlok.


BACA JUGA : GNE dan DNA Kirim 15 Ribu Ton Jagung Rendah Alfatoksin ke Miwon


Karena itulah, dalam budidaya jagung rendah alfatoksin PT DNA mengembangkan pertanian jagung berkesinambungan.


"Misalnya kebutuhan pasar 1000 ton. Maka yang akan terserap ya 1000. Jika produksinya berlebihan, pas panen raya harga malah anjlok. Dengan pertanian berkelanjutan, kita atur pola tanamnya agar semua hasilnya bisa masuk pasar," katanya.


Hal ini juga yang akan dikembangkan PT DNA di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, terutama di kawasan program irigasi tetes.


Keberhasilan pola di Sambelia dan Pringgabaya, menurut Dean, akan direplikasi di KLU nantinya.


"Gambarannya begini, misal kita ada 200 hektare, makan kita bagi menjadi 20 blok. Nah blok satu menanam, blok lainnya mengolah lahan, dan begitu seterusnya. Sehingga saat ada yang panen, ada juga yang mulai menanam, produksinya terjaga dan bisa menyesuaikan kebutuhan pasar," katanya.


PT DNA benar-benar serius mengembangkan komoditi jagung rendah alfatoksin. Dean menjelaskan, jagung rendah alfatoksin bukan soal jenis benih jagungnya, tetapi lebih kepada pola perawatan tanaman yang intensif. Semuanya dilakukan dengan sangat terukur, baik saat menanam, memberi pupuk, hingga masa panennya.


Untuk itu, DNA mengembangkan aplikasi digital bernama Sistim Informasi Jagung Indonesia (SIJI). Dalam aplikasi internal PT DNA tersebut, jumlah petani mitra perusahaan tercatat dan terdata dengan baik by name by address dan sesuai NIK masing-masing. Luas lahan garapan dan juga aktivitas mereka pun akan tercatat dengan baik dalam satu aplikasi tersebut.


"Jadi database petani mitra sangat komprehensif, petaninya siapa, luas lahannya berapa, dan apa yang sedang dilakukan tercatat. Jadi terukur berapa yang sedang tanam, berapa yang panen," katanya.


Menurut dia, saat ini aplikasi SIJI masih bersifat internal DNA, namun ke depan bisa dikembangkan menjadi aplikasi terpadu untuk pengembangan komoditi jagung di wilayah Provinsi NTB ini.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jagung NTB jadi Pemasok Pertama Industri Produk Makanan, DNA Kembangkan Aplikasi SIJI

Trending Now