Cerita Wik-Wik : Tak Kusangka Ibu Mertua Ternyata Suka Melakukannya

MandalikaPost.com
Sabtu, Maret 30, 2024 | 10.38 WIB
Ilustrasi Kisah Hidup.


KISAH HIDUP - Adzan magribh masih terngiang di telinga. Wanita paruh baya duduk di kursi kayu teras rumah, baru saja usai berbuka dan menunaikan kewajiban salatnya.




Masih mengenakan mukenah, pandangannya kosong menatap ke depan. Sesekali menarik nafas panjang lalu menghempaskan perlahan.



Goresan perjalanan hidup yang kelabu seakan melintas dalam benak ingatannya. Dadanya serasa sesak, ada penyesalan yang terurai dalam tetes airmata di pipi.




Namanya Lastri, usianya 43 tahun. Walau sudah tidak muda lagi, gurat kecantikan masih nampak jelas padanya. Belum ada kerutan tanda menua di kulitnya.



"Duh Gusti, Kulo nyuwun pangapuro Mu. Aku ini insan penuh dosa, ampuni saya ya Maha Pengasih dan Maha Penyayang," bathin Lastri tergetar dan terus mengucap kalimat istigfar.



Setelah hatinya lega, dia kembali ke dalam. Galih cucunya yang sudah mulai belajar berpuasa, masih menikmati semangkuk es buah di depan televisi.



Ini hari pertama Galih mampu berpuasa penuh, sampai waktu berbuka tiba.Lastri mendekat dan memangku bocah lelaki yang tampan itu. Mengelus kepalanya, mencium pipinya.



"Buk, Galih mau es buah lagi," ucap Galih. "Iya sayang, nanti ibu ambilkan lagi. Tapi nanti ya, kita harus tarawih dulu," jawab Lastri. "Asik, makasih Bu," balas Galih, wajahnya berbinar bahagia.



Galih memanggilnya dengan sebutan Ibu, panggilan paling mulia di bumi untuk sesosok wanita yang mesti kita muliakan. Sejak bayi, tangan Lastri yang merawat Galih dengan penuh kasih sayang.



Setiap melihat Galih, Lastri mengenang Risma. Putrinya yang sudah lebih dulu dipanggil sang Khalik ketika berjuang melahirkan Galih, 5 tahun yang lalu.



"Maafkan ibu nak, semoga kamu tenang di sisiNya," bathin Lastri mendoakan.


Ramadhan delapan tahun silam, Lastri masih berusia 35 tahun, ketika Risma menikah dengan Prambudi. Risma baru lulus SMA usianya 18 tahun. Resepsi digelar cukup mewah, karena Prambudi anak pak Bambang, seorang pejabat penting daerah.



Lastri menghadiri acara bahagia putrinya itu. Tapi situasinya tidak tepat, karena Risma belum bisa menerima ibunya. Risma merasa malu kalau orang sampai tahu profesi gelap ibunya itu. 



Pakde Hasan dan bude Jum yang mendampinginya di pelaminan sudah menasehati Risma untuk menerima Lastri dan memaafkan ibunya itu. Tapi Risma berkeras, dia hanya mau mengakui Pakde dan Bude yang membesarkannya.



Hati Lastri bagai tersayat, tak diakui sebagai ibu oleh anak semata wayangnya. Sajian prasmanan hotel berbintang sama sekali tak menimbulkan minat makannya, Lastri melangkah pergi dari acara resepsi itu.



Walau bersedih, Lastri bisa menerima perlakuan Risma padanya. Ayah Risma meninggal dunia, saat Risma berusia 3 tahun. Dan sejak itu, Lastri justru terjebak dalam kehidupan malam di Kota. Menitipkan Risma untuk diasuh pakde Hasan dan bude Jum, kakak dari mendiang suami Lastri.



"Ibuk? ibu kok lamun lamun, ayok kita berangkat tarawih," Galih menyadarkan lamunan Lastri. "Oya nak, ayo berangkat,". Dibenahinya mukenah, lalu bersiap menggandeng Galih ke Musholla di ujung gang sebelah. 




Ramadhan kali ini, Lastri ingin Istiqomah dalam ikhtiar memohon penghapusan dosa-dosa terdahulu pada Sang Maha Kuasa. Momen spiritual yang berat dan luar biasa, di saat semua bayangan akan semua dosa selalu melintasi benaknya.



Dia tak peduli lagi dengan cibiran orang, kecuriaan para tetangga, akan perubahannya. "Paling cuma alim dan gamis pas bulan puasa aja. Habis lebaran pasti kembali ke habitatnya, . Bully dan cibiran itu, sudah kebal di telinga. Lastri tak mau ambil pusing.




Malam di sudut lain Kota, Prambudi menghisap rokok dalam-dalam. Menghembuskan asapnya seperti melepas kepenatan. Pria tampan berusia 26 tahun ini sedang gundah. Rindu pada mendiang Risma, istrinya dulu.


Walau sudah tiga tahun ini dia kembali berumah tangga dan mendapatkan Yeni sebagai pengganti Risma, Prambudi tetap belum bisa melupakan Risma, Cinta pertamanya di masa SMA. Dia juga merindukan Galih, anak mereka.


"Mas, tolong ambilkan Cika pampers ya. Pipis lagi nih," suara Yeni memanggilnya. Prambudi mematikan rokok, beranjak ke kamar, mengambilkan apa yang diminta istrinya. Cika kecil baru berusia 8 bulan, nampak senang melihat kedatangan papanya.


Setelah bercanda gurau dengan Cika, Prambudi kembali ke depan. Menghabiskan sisa kopi sambil menikmati rokok yang membawa lamunan kembali ke masa lalunya. Masa indah bersama Risma mendiang istrinya.


Lima tahun yang lalu, Risma sedang mengandung besar. Prambudi bahagia, setelah dua tahun lebih menikah mereka bakal punya momongan anak sendiri. Hatinya juga senang bahwa Risma mulai sadar dan bisa menerima Bu Lastri sebagai ibunya.


Prambudi ingat benar saat Risma memintanya menghubungi Bu Lastri dan mengajaknya untuk tinggal bersama di rumah mereka. Beberapa pesan WA dikirim Pram ke nomor yang diserahkan Risma. Tetapi jawabannya selalu sama.



"Aku di penginapan Surgawi mas. Open sore malam 16.00 SD 23.00. Cuss, service full. Buat yang serius aja,". Selalug begitu jawaban dari nomer hape yang diberinama Bu Lastri, mertua.


Prambudi bingung bagaimana lagi cara menghubungi bu Lastri. Dengan hati bimbang, dia pun memutuskan mendatangi penginapan Surgawi. Hanya itu cara satu satunya untuk bisa bertemu dan mengajak Lastri pulang.


Malam selepas pulang kerja, Prambudi memacu mobilnya ke penginapan Surgawi yang letaknya di perbatasan Kota. Sebelumnya dia sudah mengabari Risma kalau dia akan mencari ibunya sepulang kantor. Dan Risma mengijinkan.


Lastri baru saja membersihkan diri. Lima belas menit yang lalu, dia berhasil memberikan pelayanan sempurna untuk lelaki hidung belang berusia setengah baya. Duduk di tepi pembaringan, Lastri menghitung uang rejekinya hari ini.


Tak lama berselang, bel pintu kamar berbunyi. Sesosok pria muda berdiri di hadapannya ketika Lastri membukakan pintu. Dengan senyuman penggoda iman, Lastri langsung saja menariknya masuk. Secara profesional Lastri pun bekerja.


"Bu Lastri?," ujar pria muda yang tak lain adalah Prambudi, suami Risma. Tapi Lastri tak memahami itu ialah menantunya. "Jangan panggil bu, panggil aja mbak, atau cukup Lastri," balas Lastri. Pram ingin menjelaskan, tapi semua terlambat.


Ulah Bu Lastri pada dirinya sudah lebih dulu mengalahkan akal sehat, dan terlanjur membangkitkan geloranya. 

"Bu, eh mbak.., saya sebenarnya," ujarnya. "Sudah, nanti saja kasih testimoninya. Sekarang dihayatin aja," bisik Lastri.


Lastri benar benar nggak mengenali Pram, karena saat resepsi pernikahannya dengan Risma dulu, dia nggak sempat bertemu muka, lantaran keburu diusir oleh anaknya. Yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana melaksanakan tugas dengan baik.


Hal yang sebenarnya tabu untuk mereka lakukan, akhirnya terjadi juga. Pram sudah terjebak dalam hubungan kerjasama antara menantu dan mertua.

Nasi sudah jadi bubur, di saat lampu kembali menerangi ruangan.


Lastri nampak tercenung ketika Prambudi menjelaskan semua. Pram meminta maaf, atas yang barusan terjadi. "Maafkan Pram ya Bu, tak seharusnya seperti ini," ujarnya. "Gapapa nak, ibu juga yang salah," balas Lastri lirih.


Semua kenangan itu masih membekas dalam ingatan Prambudi. Bagaimana sang mertua memberikan pengalaman dan sensasi asmara yang jauh lebih berkesan dari yang mampu diberikan Risma, istrinya. Peristiwa yang akhirnya meluluhkan Lastri untuk mau memaafkan Risma, putrinya.


Prambudi kembali menghisap rokoknya, menghela nafas panjang sambil menyebut pelan nama mertuanya. Kenangan indah itu terkadang melintas dan ingin sekali diulanginya kembali. 

"Mas, istirahat sudah malam. Jangan ngerokok dan begadang,". Yeni memanggilnya dari dalam kamar mereka.


Bulan Ramadhan memang momen luar biasa yang bisa menggugah hati setiap insan bertaqwa. Hal buruk dan penuh dosa, selalu saja terurai kembali setiap malam menjelang tidur. Begitu yang di rasakan Lastri saat ini.


Galih sudah terlelap, setelah tadi berpesan untuk dibangunkan ketika jadwal makan sahur tiba. Sementara di sampingnya, Lastri berbaring diatas dua

tangannya. Ingatannya kembali melayang ke masa lalu yang suram itu.


Kesadaran menyentuh hati kecilnya justru di saat Sang Kuasa memberikan cobaan terberat baginya. Peristiwa tak terlupakan ketika pak Bambang tercabut nyawanya saat meraih kebahagiaan semu di atas tubuh Lastri. Dia pergi bersama semua harapan yang dijanjikan.


Usai pernikahan Prambudi dan Risma dahulu, Pak Bambang mengejar Lastri yang menangis tersedu sambil melangkah keluar dari hotel meninggalkan resepsi pernikahan anaknya. Bambang orang tua Prambudi berhasil menenangkan Lastri dan membujuknya.


Setelah perkenalan itu, dan mengetahui alasan mengapa Risma tak bisa menerima Lastri sebagai ibunya, Bambang justru berpikiran untuk membantu masalah Lastri dengan cara dan keinginannya sendiri. "Mulai sekarang, kamu berhenti bekerja seperti itu ya. Aku yang akan menanggung hidupmu,".


Jalinan hubungan kerjasama Pak Bambang dan Lastri pun terbangun. Hingga dua tahun kemudian, peristiwa itu terjadi. Pak Bambang yang sudah berusia 54 tahun, mendadak mengejat di suatu malam saat sedang diberi pelayanan maksimal oleh Lastri.Janji menikahi pun tak akan bisa dipenuhi.


Lastri bagai kehilangan arah. Kepergian pak Bambang mengguncang jiwanya. Kehidupan malam pun kembali digelutinya, demi bisa menyambung hidup di Kota yang keras dan kejam ini.


Hati Lastri semakin tersayat sembilu, karena beberapa bulan kemudian. Prambudi menantunya justru menjadi pelanggan baru baginya. Ayah dan anak itu, sama sama pernah mendayung sampan mungil Lastri dalam perjalanan indah menuju pesisir surga dunia yang fana. (****)




RUBRIK Kisah Hidup menuangkan kisah kehidupan yang diangkat dari cerita kisah nyata dan dikemas ulang dalam bentuk cerita romantis, cerita dewasa.


Kisah yang diangkat diambil dari Kisah Nyata, dan juga fiksi rekaan semata. Kesamaan nama, tempat, dan alur cerita bukanlah sebuah kesengajaan.


Simak Kisah Hidup lainnya di channel YouTube PUTRIE MANDALIKA.


https://www.youtube.com/@putriemandalika1277




Semoga setiap cerita bisa diambil hikmah dan manfaatnya. 




Punya cerita dan ingin berbagi? Kirim ke email : redaksimandalikapost@gmail.com







Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cerita Wik-Wik : Tak Kusangka Ibu Mertua Ternyata Suka Melakukannya

Trending Now