Cerita Wik-Wik : Anak Angkatku Jadi Suami Keduaku !!

MandalikaPost.com
Selasa, Mei 07, 2024 | Mei 07, 2024 WIB Last Updated 2024-05-07T14:01:00Z
Ilustrasi Kisah Hidup.






KISAH HIDUP - Tak terasa sudah delapan tahun Rendi ikut bersama kami. Bocah kurus dan dekil itu kini tumbuh jadi pemuda yang tampan dan gagah. Badannya pun bagus terbentuk tinggi dan kekar.


Dan sesuatu yang sejak dulu aku kawatirkan pun terjadi. Rendi memiliki perasaan yang aneh padaku, dan aku pun mulai punya rasa yang sama terhadap anak angkatku itu.


Meski kami sudah berusaha membendung perasaan tak wajar tersebut, namun godaan iblis akhirnya menaklukan akal sehat kami. Aku dan Rendi anak angkatku terlibat hubungan rahasia yang tak semestinya.




Sebelumnya kenalin namaku Sinta, usiaku kini 34 tahun. Kisahku ini bermula ketika 8 tahun lalu suamiku mas Heri meminta kami untuk mengadopsi anak. Dia tak tega melihat bocah kurus itu mengamen di tengah hujan.


Saat itu Rendi berusia 10 tahun. Kurus tak terawat, putus sekolah, dan sebatangkara karena dua orangtuanya baru saja meninggal dunia. Aku dan mas Heri bertemu Rendi ketika sedang makan malam di gerai bakso.


Mas Heri merasa iba, dipanggilnya Rendi yang sedang ngamen di jalan. Ditanyainya apakah dia mau ikut kami dan kami rawat sebagai anak angkat??. Kami senang ketika Rendi mengangguk mau dan bersedia.




Lagipula, saat itu pernikahanku dengan mas Heri belum bisa punya anak. Kata mas Heri, biasanya dengan mengadopsi anak bisa menjadi pancingan agar kami bisa punya anak sendiri nantinya.


Sejak saat itu, Rendi pun tinggal bersama kami. Mas Heri suamiku mengurus syarat adopsi dari pengadilan, Rendi resmi menjadi anak angkat kami. Aku dan mas Heri sangat menyayangi Rendi.


Sejak ada Rendi, rejeki kami banyak mengalir. Mas Heri diangkat menjadi manajer operasional di perusahaan tambang tempatnya bekerja. Sementara jualan jajanku di rumah semakin laris.


Rendi kami sekolahkan dan sudah kami anggap seperti anak kandung sendiri. Walau hingga kini kami tetap belum dikaruniai anak, tapi kami bahagia sudah punya Rendi, meski hanya anak angkat.


Rendi anak yang sangat sopan dan rajin. Dia juga sangat dekat denganku dan mas Heri. Malah seringkali Rendi tidur di kmrku untuk menemani di saat mas Heri swmiku nggak ada.



Maklum tempat kerja mas Heri di seberang pulau, hanya bisa pulang sebulan sekali kalau sedang off. Swamiku memang makin sibuk seiring karirnya yang terus meningkat di perusahaan tambang.


Waktu memang cepat berlalu, tak terasa Rendi kini sudah lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah ke Yogyakarta. Aku merasa sedih jika nanti harus melepasnya pergi. Sebab selama ini kami sangat dekat.


Rendi juga menyampaikan hal yang sama, dia bilang nggak mau jauh dariku. Dan yang bikin aku sangat terkejut ketika Rendi mengungkapkan perasaannya padaku. Bukan hanya dengan ucapan, tapi Rendi membuktikannya dengan tindakan nyata.


Malam itu kami ngobrol di meja makan setelah makan malam. Mas Heri swamiku masih di pertambangan dan seminggu lagi baru akan pulang. Sedangkan bik Inah ART kami sudah duluan istirahat di kmr belakang.


"Rendi sayang sama mama," ujar Rendi.

"Iya syg, mama juga sayang kok sama kamu," balasku.

"Rendi suka dan cinta sama mama,".

"Mama pun begitu, mama cinta sama Rendi, kan Rendi anak mama,".

"Tapi Rendi cinta ma..,"

"Iya, anak harus sayang dan cinta mamanya,".




Aku heran mlm itu Rendi nampak gusar dan gerogi padaku. Kucubit pipinya lalu aku pamit mau istirahat sudah ngantuk. Tapi Rendi malah merajuk, dia ingin ikut tdr bersama di kmmr aku.


"Besok kalau Rendi kuliah kan gak bisa lagi bobok sama mama," katanya.

"Hmm, anak mama manja ah. Ya udah yuk, mama dah ngantuk nih," balasku. Kami pun beranjak pindah ke kmrku.


Sudah sebulan sejak Rendi lulus SMA dan sedang menunggu berangkat kuliah ke Yogya, aku merasa sangat dekat dengannya. Mungkin karena sebulan ini kami selalu ketemu berdua di rmh sebab Rendi sdh gak sekolah.


Tapi kedekatan yang kurasa sangat berbeda. Aku mulai merasa ada yang menarik dari anak angkatku itu. Perawakannya atletis dan tinggi membuat aku merasa nyaman dan terlindungi kalau sedang bersamanya.


Jantungku jadi sering berdebar jika melihat Rendi sedang olahraga dengan telanjang dada. Ototnya sangat membentuk nampak eksotis sekali. Dan, yang paling istimewa ada sesuatu yang tampak menggelembung setiap Rendi pakai celana training olahraga.


Malam itu waktu Rendi minta tidur bersamaku, hatiku berbunga bunga. Soalnya sudah lama sekali Rendi gak bobo lagi bareng aku. Dulu waktu masuk SMA dia sudah gak mau lagi tidur di kmrku, katanya dia sudah gede, malu kalo tidur sama mama.


Tumben malam ini Rendi minta lagi, bobok sama aku. Sampai di kmr aku salin pakeyan dengan gaun tidur pink kesukaanku. Rendi langsung Rebah di ranjang dan aku menyusul di sampingnya.


"Rendi peluk mama ya mah??," ujar Rendi yang melingkarkan tangannya ke tbhku.

"Iya peluk aja, mama mau bobok ya Ren," balasku yang membelakangi Rendi.

Aku bilang mau bobok dan ngantuk, tapi mataku malah gak bisa terpejam tidur.



Dadaku bergejolak saat tangan Rendi perlahan bergerak. Dengus hangat nafasnya menerpa leher belakangku. Aku merasa merinding yang enak. Rendi menyentuh satu bukit hangatku sambil meluk aku.


Posisi Rendi makin merapat di belakangku. Aku bisa merasakan sesuatu yang tegang dan mengeras menempel di bemper belakangku.

"Rendi.. tangannya jgn nakal ih.., mama ngantuk nih," ujarku sengaja protes.


Namun dalam hati aku penasaran sekali akan senekad apa ulah Rendi??. 

"Mama bobok aja, biar Rendi jagain. Cuma dipeyuk kok mah," bisiknya sambil merapatkan lagi pelukannya padaku.






Aku menunggu tahap selanjutnya, tapi Rendi diam saja. Dengkur halusnya mulai terdengar. Kubalikkan badan menghadap ke arahnya, ternyata Rendi duluan terlelap.

Entah dorongan apa yang hadir padaku, aku jadi ingin sekali mengecup Rendi.


Tapi baru saja kudekatkan wajahku, Rendi berbalik posisi. Kini dia tidur terlentang seperti memamerkan sesuatu yang tegak dan mengembang di balik cln pendeknya.

Gejolakku bergemuruh, ingin rasanya kuraih benda itu dan mengusapnya lembut.


Tapi nalar sehatku masih bekerja, aku gak boleh melakukan itu pada anakku, walau Rendi hanya sebatas anak angkatku. Kalau sampai mas Heri swamiku tahu pasti rumah tangga kami akan bubar, dan Rendi pasti akan diusir dan tak diakui lagi sebagai anak angkat.


"Sentuh saja mah.. genggam saja kalau mama suka," ujar Rendi lirih. Aku tersentak, tadinya mau berbalik badan, tiba tiba Rendi meraih tanganku dan membawanya ke arah bawah.

"Rendi?? Kok ini malah bangun sih??," bisikku.



Aku tak kuasa lagi terhempas rasa penasaranku. Tanganku meraih dan menggenggamnya. Rendi melenguh pelan, lalu menarik wajahku. Untuk pertama kalinya Rendi mengecup bhibierku, membuat aku lupa batasan dan membalasnya dengan bersemangat.


Untuk beberapa saat kami saling patok, saling bergumul dan menjelajahi masing-masing. Jujur aku menikmati sekaligus bertanya curiga dalam hati.

Kenapa Rendi seperti sudah sangat berpengalaman membuai hati wanita??.


"Kamu sudah sering ya Ren??. Ngaku sama mama Ren??,".

"Sdh cuma sekali mah,"

"Sama siapa??,"

"Sama bik Inah,".

"Whatss... ??,".


Kata Rendi semua terjadi waktu aku dan mas Heri sedang pergi ke Bali menghadiri acara peresmian kantor cabang perusahaannya mas Heri swmiku. Saat itu Rendi hanya tinggal di rumah berdua dengan bik Inah.


Saat itulah bik Inah masuk ke kmr Rendi dan merayunya. Rendi yang belum pernah pacaran akhirnya diajari sepenuhnya oleh bik Inah. Selama tiga hari aku dan mas Heri gak ada di rumah, mereka selalu melakukan hubungan itu.


Aku kecewa sekali. Perjaka Rendi sdh direnggut duluan oleh ART kami itu.

"Kok bisa sih Ren?? Kamu udah gak asli lagi dong??," ujarku.

"Ya maaf mah, abisnya bik Inah bikin Rendi nyaman sih," balasnya.


Aku hendak marah lagi tapi Rendi segera memeluk dan melumat bhibierku. Amarahku reda berubah jadi hasrat yang tabu, kuimbangi perlakuan Rendi. Dia membuatku mendsshh dan merintih seperti yang diperbuatnya sama bik Inah.



Hilang sudah batasan antara mama dan anak angkatnya. Rendi berhasil menyatukan raga kami. Dengan sadar dan tanpa ada paksaan aku menerima semua darinya. Aku pun menikmati ketika Rendi mulai bermain di atas tbhku.


Rendi memang jauh berbeda dengan mas Heri swmiku. Mas Heri hanya bersemangat di awal, giliran pertempuran sesungguhnya dia pasti Keok dalam hitungan 10 menit. Sedang Rendi, masih bertahan walau sudah hampir satu jam bersamaku.


Rendi membawaku terbang, hingga dua kali aku mencapai puncak tujuanku. Anehnya, dia masih mampu menerbangkanku lebih tinggi hingga nafasku ngosngosan dan hampir kewalahan. Tapi aku bahagia sekali.


Hingga akhirnya, Rendi bekerja lebih cepat dan berhasil membawa kami mencapai puncak tertinggi secara bersamaan. Rendi mengecup bhibirku sambil melepaskan ledakannya di dalam ruang hampaku.


"Uhh.. Rendi sayang mama, Rendi cinta mah," bhisiknya.

"Uihh Renhh.. deres banget, banyak banget Renhh.. mama juga cinta sayang..," balasku.

Kami rebah, tersungkur dengan nafas yang belum normal.


"Kenapa Rendi lakukan ini ke mama??,"

"Rendi cinta mah. Dari dulu Rendi sdh naksir sama mama,"

"Apa Ren?? Sejak kapan??,"

"Sejak Rendi tinggal disini dan jadi anak angkat mama dan papa,". (***)




RUBRIK Kisah Hidup menuangkan kisah kehidupan yang diangkat dari cerita kisah nyata dan dikemas ulang dalam bentuk cerita romantis, cerita dewasa.


Kisah yang diangkat diambil dari Kisah Nyata, dan juga fiksi rekaan semata. Kesamaan nama, tempat, dan alur cerita bukanlah sebuah kesengajaan.


Simak Kisah Hidup lainnya di channel YouTube PUTRIE MANDALIKA.


https://www.youtube.com/@putriemandalika1277


Semoga setiap cerita bisa diambil hikmah dan manfaatnya. 


Punya cerita dan ingin berbagi? Kirim ke email : redaksimandalikapost@gmail.com





Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cerita Wik-Wik : Anak Angkatku Jadi Suami Keduaku !!

Trending Now