![]() |
| Stok Beras: Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman meninjau gudang beras memastikan stok beras aman, (Foto: Istimewa/MP). |
Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (7/4), Mentan Amran menegaskan bahwa posisi cadangan pangan Indonesia saat ini berada pada level yang sangat kuat, jauh melampaui rata-rata stok nasional di tahun-tahun sebelumnya.
“Per tadi pagi, stok kita sudah 4,6 juta ton. Kemarin 4,5 juta ton, hari ini naik lagi. Ini adalah capaian tertinggi sepanjang sejarah. Dengan kondisi ini, stok beras nasional kita aman untuk 10 hingga 11 bulan ke depan,” tegas Amran di hadapan anggota dewan.
Lonjakan cadangan pangan ini menjadi angin segar saat stabilitas dunia terganggu. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran telah memicu gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz, menyebabkan lonjakan biaya energi dan kelangkaan bahan baku pupuk bagi banyak negara di Asia.
Sementara negara tetangga seperti Malaysia mulai menghadapi fenomena penimbunan barang dan Filipina harus mencari alternatif pasokan pupuk, Indonesia justru berhasil meningkatkan produksi domestik secara signifikan. Tercatat, produksi beras tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton, melonjak 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Amran menekankan bahwa situasi global saat ini adalah alarm keras bagi seluruh bangsa untuk berhenti bergantung pada impor.
“Kita tidak boleh bergantung pada pihak luar untuk kebutuhan strategis seperti pangan. Apa yang terjadi di kawasan Timur Tengah menjadi pelajaran penting bahwa kemandirian pangan adalah harga mati,” ujarnya.
Meski stok melimpah, pemerintah tetap waspada terhadap tantangan domestik, yakni musim kemarau 2026 yang diprediksi BMKG mulai melanda pada April dan mencapai puncaknya di bulan Agustus.
Sebagai langkah preventif, Kementerian Pertanian telah mengaktifkan strategi pompanisasi besar-besaran dan optimalisasi lahan sejak awal Maret lalu. Fokus utama diarahkan pada percepatan tanam dan penggunaan varietas benih yang tahan terhadap kekeringan.
“Alhamdulillah, di tengah situasi global yang penuh tekanan, Indonesia justru mampu meningkatkan produksi dan memperkuat cadangan. Ini bukti kerja nyata seluruh pihak, mulai dari pemerintah, DPR, hingga petani,” tutur Amran.
Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, ketahanan pangan kini disinergikan dengan ketahanan energi. Untuk menangkal lonjakan biaya produksi akibat krisis energi dunia, pemerintah terus mendorong pengembangan biofuel berbasis kelapa sawit, tebu, jagung, dan singkong.
Selain itu, dukungan sarana produksi tidak main-main. Hingga tahun 2025, sebanyak 171 ribu unit alat dan mesin pertanian (alsintan) telah disalurkan, dengan target tambahan 37 ribu unit pada tahun 2026 untuk mempermodern sistem pertanian nasional.
Mentan menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pangan adalah instrumen kedaulatan yang tidak bisa ditawar.
“Melalui langkah-langkah ini, pemerintah berkomitmen memastikan ketahanan pangan tetap terjaga, sekaligus memperkuat ketahanan energi sebagai fondasi menuju kemandirian bangsa,” pungkasnya.

