Menyemai Asa Di Kaki Rinjani: Kisah Hajrul Azmi Membawa Kopi Sembalun Naik Kelas

Rosyidin S
Selasa, Juni 16, 2026 | 11.14 WIB Last Updated 2026-06-16T03:51:16Z
Kopi: Hajrul Azmi, seorang penggiat kopi dari lereng Rinjani saat menunjukkan produk Lokka Coffe. (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com — Bagi sebagian orang, secangkir kopi hanyalah pelengkap pagi. Namun bagi Hajrul Azmi, seorang prosesor pendiri brand lokal Lokka Coffe (Lombok Kopi Akademi) Sembalun, komoditas hitam ini adalah jembatan kesejahteraan bagi puluhan petani di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).


Berawal dari ketidaksengajaan satu dekade lalu, pria asal Kecamatan Sembalun, Lombok Timur ini kini sukses mengubah wajah pertanian kopi lokal dari sistem tengkulak menuju pasar yang lebih bermartabat.


Saat ditemui di kediamannya pada Kamis (11/6) yang lalu. Azmi pria bersahaja ini, juga dikenal sebagai penggiat literasi ini mengenang kembali awal mula langkahnya terjun ke dunia kopi pada tahun 2016. Semuanya bermula dari seorang petani asing yang datang ke rumahnya untuk meminjam uang sebesar Rp400.000 dengan jaminan 50 kilogram kopi.


"Saya agak curiga nih dengan si kopi ini dan penasaran. Curiganya saya di petani nih, kok bisa kopi ini semurah itu?" kenang Azmi.


Rasa penasaran itu membawanya berselancar di media sosial hingga menjelajahi kedai-kedai kopi di Kota Mataram. Di sana, ia terkejut mendapati secangkir kopi dihargai Rp15.000 hingga Rp30.000, padahal hanya menghabiskan sekitar 10 gram bubuk kopi. 


Setelah menghitung kalkulasi ekonomi, ia menyadari adanya ketimpangan yang luar biasa antara kesejahteraan petani di hulu dan keuntungan pengusaha di hilir.


Selama bertahun-tahun, petani kopi di Sembalun dan Sajang terjebak dalam lingkaran setan sistem ijon. Mereka terpaksa mengambil uang terlebih dahulu dari para pengepul atau tengkulak sebelum musim panen tiba.


Akibatnya, saat panen tiba, petani tidak memiliki daya tawar dan harus menerima harga berapa pun yang ditetapkan sepihak, bahkan hingga menyentuh angka ironis Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram, yang berbentuk gelondongan (biji kopi yang masih ada kulitnya).


Tergerak untuk memutus mata rantai tersebut, Azmi kembali menemui petani dan mengumpulkan sekitar 30 orang di Dusun Sajang untuk membentuk kelompok tani. Modalnya bukan janji bantuan sosial, melainkan komitmen untuk bekerja keras memperbaiki kebun dan belajar proses pasca-panen secara benar, mulai dari metode pemetikan gelondong merah hingga teknik penjemuran.


"Pesan saya kepada petani ini, kalau kita bikin kelompok jangan mengharapkan bantuan dari pihak mana pun, apa lagi dari Pemerintah. Yang penting kita ini mau kerja tunjukkan komitmen untuk maju bersama," tegasnya.


Langkah tersebut membuahkan hasil. Pada tahun pertama, kelompok tani binaan Azmi berhasil mendongkrak harga jual kopi dari Rp20.000 menjadi Rp35.000 per kilogram, dan terus merangkak naik ke angka Rp45.000 pada tahun berikutnya. Mereka pun sempat mengibarkan bendera kelompok bernama 'Kopi Tujak'. Tujak artinya kopi ditumbuk (kopi tubruk).


Namun, ujian berat datang saat gempa bumi mengguncang Lombok pada tahun 2018. Aktivitas perkebunan sempat lumpuh total selama hampir enam bulan. Di tengah kepungan bantuan sembako dari berbagai lembaga swadaya masyarakat (NGO), Azmi mengambil keputusan berani demi kemandirian kelompoknya.


"Saya bilang ke salah satu NGO dari Malaysia waktu itu, saya rasa tidak usah berikan kami beras lagi. Meski kami kena musibah, kenapa ndak mau beras? Karena saya punya kelompok tani kopi, bantu saya di sana saja. Saat ini kami butuh pengolahan kopi beserta peralatan yang kita butuhkan, beras bisa kami beli sendiri," cetus Azmi.


Sikap teguh itu membuahkan bantuan mesin Pulper (pengupas kopi) pertama mereka. Konsistensi kelompok ini pun akhirnya melirik perhatian Bank Indonesia (BI), yang kemudian mengucurkan dana hibah sebesar Rp1 miliar untuk membangun infrastruktur gudang dan pengolahan yang lebih mumpuni.


Sadar bahwa satu brand kelompok tidak akan mampu menampung seluruh hasil panen petani yang kian melimpah, Azmi melakukan lompatan mandiri pada tahun 2019 dengan mendirikan brand sendiri bernama "Lokka Coffee".

Bubuk Kopi: Kemasan bubuk kopi Arabika dan Robusta, prodak Lokka Coffe. (Foto: Rosyidin/MP).

Nama 'Loka' sendiri memiliki filosofi ganda yang mendalam. Pertama, diambil dari bahasa lokal Sajang,  yakni "Nyeloka", yang berarti duduk berkumpul sambil bercerita. Kedua, merupakan akronim dari "Lombok Kopi Akademi", buah dari pengalamannya setelah menyelesaikan pendidikan formal di Indonesia Coffee Academy, Jakarta, dan mengantongi 14 sertifikat kompetensi kopi bertaraf nasional dan internasional.


Kini, kedai Lokka Coffe milik Azmi di Dusun Bawak Nao, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun. Tepatnya persis dibawah kaki gunung Rinjani tidak sekadar menjadi tempat transaksi dagang, melainkan ruang edukasi eksklusif.


Pengunjung tak hanya disajikan kopi, tetapi juga diajak memahami cerita di balik setiap cangkir dan tetesan kopi serta aroma yang khas. Di kedai tersebut pembeli bisa tau ceritanya mulai dari varietas kopi, ketinggian tanam, cita rasa dan cara penyajian kopi hingga proses pasca panen.


Azmi menerapkan standar ketat berskala dunia (World Coffee Standard) dalam setiap penyajiannya, seperti penggunaan timbangan digital dengan rasio penyeduhan (brewing ration) yang presisi antara 1:12 hingga 1:18. Untuk kopi arabika khas Sembalun yang tumbuh di ketinggian di atas 1.000 MDPL, ia sangat merekomendasikan metode manual brew seperti V60, French Press, dan Caflano.


Hebatnya, seluruh ilmu mahal ini ia bagikan secara cuma-cuma (free) kepada khusus warga lokal Sembalun dan Sajang yang ingin belajar mendalami industri hilir kopi.


"Saya mau gratiskan teman-teman Sembalun yang ingin belajar tentang kopi, mulai dari pembibitan hingga siap diminum, supaya kita kenal dulu kopi kita. Kita mau jualan ini kan harus kenal dong brand kopi kita. Kopi itu tidak cukup dengan hanya transaksi atau diminum saja, pasti ada cerita di balik itu," ungkapnya dengan nada penuh kepedulian.


Meski kedainya dikonsep secara eksklusif dengan kunjungan harian yang sengaja dibatasi demi menjaga kualitas interaksi, perputaran ekonomi Lokka Coffe terus melesat. Produk bubuk (powder) dan biji kopi sangrai (roasted beans) miliknya kini telah menguasai pusat-pusat oleh-oleh di Senggigi dan berbagai daerah di Lombok, serta merambah pasar digital melalui Shopee dan TikTok.


Bahkan, perkebunan binaannya kini rutin dikunjungi oleh wisatawan lokal, domestik, dan mancanegara. Bahkan pelajar dari dua negara tetangga, salah satunya Malaysia hingga saat ini.


Keberhasilan tata kelola pasca panen ini berdampak langsung pada dompet para petani. Saat ini, harga kopi Robusta green bean (biji kopi mentah siap sangrai) berkualitas tinggi di tingkat petani binaan Azmi mampu menembus angka Rp100.000 per kilogram, berbanding terbalik dengan harga di tingkat tengkulak yang hanya berkisar antara Rp75.000 hingga Rp85.000.


"Untuk jenis Arabika kopi khas Sembalun, yang green bean harga di kelompoknya bisa mencapai Rp150.000 hingga Rp170.000 per kilogram," papar Azmi.


Azmi melihat potensi pasar kopi di Sembalun masih sangat masif, bahkan setara dengan kebutuhan pokok harian. Berdasarkan kalkulasinya, perputaran konsumsi bubuk kopi di tingkat lokal Kecamatan Sembalun saja bisa menghabiskan sekitar 90 kilogram per hari jika masyarakat meminumnya tiga kali sehari.


Melalui Lokka Coffe, Azmi membuktikan bahwa dengan edukasi yang tepat, komoditas lokal tidak hanya mampu bersaing di pasar modern, namun yang terpenting, mampu memerdekakan petani dari jerat kemiskinan struktural di tanah mereka sendiri.


"Pesan saya, untuk petani kopi jadi pertama perbaiki kebun, kedua diperbagus proses pasca panen, dan untuk kita yang prosesor atau yang membuat kopi bubuk segala macam itu hargai petani. Kemudian untuk yang peminum kopi atau customer minum kopi kesukaan anda sesuai dengan selera anda, jangan ikut-ikutan," pungkas Azmi, sembari menutup obrolannya.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menyemai Asa Di Kaki Rinjani: Kisah Hajrul Azmi Membawa Kopi Sembalun Naik Kelas

Trending Now