Berawal dari Trauma Gempa, Kardi Sulap Anggur Lombok Jadi Produk Bernilai Tinggi ‎

Panca Nugraha
Senin, Juli 27, 2026 | 18.00 WIB Last Updated 2026-07-27T10:00:42Z
Kardi bersama Kaban BRIDA NTB, Gede Putu Aryadi.

MANDALIKAPOST.com – Penampilannya sederhana dan bersahaja. Namun di balik kesederhanaannya, Kardi, SPt., warga Desa Darek, Kabupaten Lombok Tengah, menyimpan gagasan besar untuk mengangkat komoditas anggur lokal menjadi produk bernilai tinggi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.



‎Buah pemikirannya tidak hanya melahirkan konsep Desa Wisata Anggur di Desa Senanggalih, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, tetapi juga menghadirkan produk wine lokal berkualitas yang diberi label Kardi Wine.



‎Kreativitas Kardi bahkan berkembang menjadi konsep pertanian terintegrasi. Kebun anggur dikelola secara swadaya oleh masyarakat, pupuk berasal dari kotoran ternak, sementara kemasan wine dibuat menggunakan bambu sehingga tampil lebih alami dan ramah lingkungan.


"Sekarang Kardi Wine ada tiga varian, yakni Red Wine, Yellow Belgi, dan Rose Wine. Kemasannya juga bukan botol kaca, tetapi bambu, jadi semuanya lebih natural dan alami," ujar Kardi saat ditemui di Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi NTB, Senin 27 Juli 2026.



‎Saat ini Kardi juga menjalin kemitraan dengan BRIDA NTB, terutama dalam pengembangan pupuk organik. BRIDA mulai memproduksi pupuk dengan komposisi campuran kotoran kambing, kelelawar, dan sapi, sekaligus menyediakan lahan pengembangan komoditas anggur.



‎"Namun yang di BRIDA ini kami fokuskan anggur untuk bahan sabun," katanya.
‎Perjalanan Kardi Wine sendiri bukanlah kisah yang lahir dalam semalam.



Semuanya berawal pada 2019, ketika gempa susulan masih mengguncang Kecamatan Sambelia, Lombok Timur.
‎Saat itu Kardi terlibat dalam kegiatan trauma healing bagi masyarakat Desa Senanggalih.



Ia melihat langsung bagaimana warga kehilangan harapan hingga berniat meninggalkan kampung halamannya.


Desa Wisata Anggur Senanggalih, Sambelia, Lombok Timur.



‎"Masyarakat saat itu trauma. Banyak yang ingin menjual aset lalu pindah ke daerah lain. Bahkan seekor sapi ada yang dijual hanya Rp500 ribu. Saya melihat satu-satunya cara agar mereka kembali bersemangat adalah dengan memberi mereka aktivitas produktif, sehingga saya menginisiasi penanaman anggur," kenangnya.



‎Berbekal bibit anggur varietas Yellow Belgi, Kardi mengajak sekitar 700 kepala keluarga menanam anggur di halaman depan rumah masing-masing.



‎Selain membantu memulihkan kondisi psikologis warga pascagempa, kebun-kebun anggur itu perlahan mengubah wajah desa menjadi destinasi wisata dengan lorong-lorong yang dipenuhi kanopi tanaman anggur. ‎Dampaknya juga terasa secara ekonomi.



‎"Setiap are lahan bisa menghasilkan sekitar Rp2,5 juta setiap panen yang berlangsung tiga bulan sekali," jelasnya.
‎Melihat keberhasilan tersebut, Kardi mulai memikirkan hilirisasi hasil panen agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.



Dari sanalah lahir gagasan memproduksi wine lokal berbahan anggur hasil kebun masyarakat.



‎Tidak berhenti di sana, Kardi juga mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan pupuk organik berbahan kotoran sapi.



‎Pada 2023, ia mendirikan Hotel Sapi di kawasan Desa Prabu, yang berada di lingkar pariwisata Mandalika.



‎Menurutnya, selama musim hujan pelaku wisata di Kuta Mandalika kerap mengeluhkan limbah kotoran sapi yang terbawa air dari kawasan Prabu. Kondisi itu justru dilihatnya sebagai peluang.



‎"Saya berinisiatif membentuk Hotel Sapi agar kotoran ternak bisa dikelola menjadi pupuk organik, bukan lagi menjadi limbah," ujarnya.



‎Saat ini populasi sapi di Desa Prabu mencapai sekitar 1.700 ekor. Sebanyak 80 persen kotorannya telah dikelola melalui Hotel Sapi untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik bagi kebun-kebun anggur di Sambelia.



‎Bagi Kardi, seluruh rangkaian inovasi tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menjadikan anggur sebagai komoditas unggulan NTB yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



‎Ia berharap anggur Lombok tidak hanya dikenal sebagai buah segar, tetapi juga menjadi produk bernilai tinggi yang mampu mengangkat nama Nusa Tenggara Barat hingga ke pasar dunia. 


‎Kemasan Bambu, Libatkan Perajin Lokal hingga Kembangkan Produk Turunan Anggur

Kemasan Bambu Kardi Wine.

Sebagai bagian dari pengembangan produk, Kardi kini mulai meninggalkan kemasan botol kaca dan beralih menggunakan bambu sebagai wadah Kardi Wine.



Langkah itu bukan hanya untuk menghadirkan kesan alami, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha kerajinan di Lombok.



‎Bambu yang digunakan sebagai kemasan diproduksi melalui kemitraan dengan para perajin di Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah.



Sentuhan kerajinan tangan tersebut membuat tampilan Kardi Wine semakin unik dan memiliki identitas khas Nusa Tenggara Barat.



‎"Kami ingin produk ini benar-benar mencerminkan kekayaan lokal. Anggurnya dari masyarakat, pupuknya organik, dan kemasannya pun dibuat oleh perajin bambu di Lombok," ujar Kardi.



‎Menurutnya, konsep tersebut merupakan bagian dari pengembangan ekonomi sirkular, di mana setiap proses produksi melibatkan masyarakat lokal sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan petani anggur, tetapi juga pengrajin bambu, peternak, hingga pelaku wisata.

‎Ke depan, Kardi berharap ekosistem anggur Lombok terus berkembang melalui berbagai produk turunan. Selain wine, ia bersama BRIDA NTB juga tengah mengembangkan pemanfaatan anggur sebagai bahan baku sabun alami dan produk olahan lainnya yang memiliki nilai tambah.

‎"Harapan saya sederhana, anggur tidak hanya dikenal sebagai buah, tetapi menjadi identitas baru NTB yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dari hulu hingga hilir," tutupnya.(*)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Berawal dari Trauma Gempa, Kardi Sulap Anggur Lombok Jadi Produk Bernilai Tinggi ‎

Trending Now