‎Di Balik Bale Berdaya, Ada Cerita Panjang UMKM Sumbawa yang Bangkit dan Naik Kelas ‎

Panca Nugraha
Senin, Juli 20, 2026 | 17.33 WIB Last Updated 2026-07-20T09:33:34Z
Gerai Bale Berdaya di kawasan Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III Sumbawa, NTB.


MANDALIKAPOST.com – Tak sedikit wisatawan yang datang ke Sumbawa langsung terpikat oleh keindahan alamnya. Dari pantai berpasir putih, gugusan pulau kecil, hingga budaya yang masih terjaga, Tanah Samawa menyimpan banyak pesona yang membuat orang ingin kembali.


‎Namun kini, ada pemandangan lain yang menyambut para penumpang sesaat setelah menginjakkan kaki di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III Sumbawa.


‎Di salah satu sudut terminal, berdiri sebuah gerai sederhana bernama Bale Berdaya Hub. Rak-rak kayunya dipenuhi aneka produk khas Sumbawa. Ada kopi dengan aroma khas pegunungan, madu hutan, tenun, jajanan tradisional, hingga berbagai kerajinan tangan berbahan alami.


‎Bagi sebagian orang, Bale Berdaya Hub hanyalah gerai oleh-oleh. Namun bagi para pelaku UMKM di Sumbawa, tempat itu adalah simbol perjalanan panjang. Sebuah ruang yang mempertemukan mimpi, kerja keras, dan harapan agar produk-produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.


‎Di balik setiap kemasan yang tersusun rapi, tersimpan cerita tentang orang-orang yang memilih bertahan ketika usahanya hampir berhenti. Ada yang menjaga resep turun-temurun agar warisan budaya tidak hilang. Ada pula yang mengubah limbah menjadi karya bernilai ekonomi. ‎Semua cerita itu bertemu di Bale Berdaya Hub.


‎Pengelola Bale Berdaya Hub, Delia Puspita Cahyani, masih mengingat betul bagaimana perjalanan gerai tersebut hingga akhirnya berdiri di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III Sumbawa pada pertengahan 2025.


‎Menurutnya, kehadiran Bale Berdaya Hub bukan sekadar menghadirkan tempat berjualan, tetapi menjadi etalase yang memperkenalkan wajah baru UMKM Sumbawa kepada setiap orang yang datang ke Tanah Samawa.


‎"Alhamdulillah, sambutan pasar sangat baik. Dari Januari sampai Juni 2026, penjualan dan omzet terus meningkat. Produk yang ada di sini bukan hanya dibeli masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan, pelaku perjalanan bisnis, dan tamu dari berbagai daerah yang datang ke Sumbawa," ujar Delia kepada Mandalika Post, medio Juli 2026.


‎Di dalam gerai berukuran sekitar 4 x 8 meter itu, puluhan produk UMKM dipajang dengan tampilan yang modern. Namun di balik penataan yang menarik, ada proses panjang yang tidak banyak diketahui orang.


‎Delia bercerita, semua berawal ketika PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), sebuah perusahaan tambang di pulau Sumbawa, menjalankan Program Bale Berdaya sebagai bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) pada 2024.


‎Program tersebut menjangkau lebih dari 100 pelaku UMKM yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Sumbawa, yakni Sumbawa, Lantung, Lenangguar, Lunyuk, Moyo Hulu, Orong Telu, dan Ropang.


‎Saat itu Delia dipercaya menjadi fasilitator Bale Berdaya di Kecamatan Moyo Hulu. Selama hampir dua tahun mendampingi pelaku UMKM, ia melihat sendiri bagaimana usaha-usaha kecil yang sebelumnya berjalan seadanya mulai bertransformasi menjadi lebih profesional.


‎Para peserta tidak hanya diajarkan membuat produk yang lebih baik. Mereka juga mendapatkan pelatihan mengenai peningkatan kualitas produk, pengemasan, literasi keuangan, pencatatan arus kas, legalitas usaha, strategi pemasaran digital, hingga membangun identitas merek.


‎"Yang berubah bukan hanya produknya. Cara berpikir para pelaku UMKM juga berubah. Mereka mulai memahami bahwa usaha harus dikelola secara profesional agar bisa berkembang. Pendampingan dari Bale Berdaya membuka wawasan kami tentang bagaimana membangun usaha yang berkelanjutan," katanya.


‎Menurut Delia, perubahan itulah yang kemudian melahirkan gagasan membangun Bale Berdaya Hub.


‎"Kalau tidak ada pendampingan dari Program Bale Berdaya AMMAN, mungkin kami belum sampai memiliki gerai seperti ini. Program ini menjadi jembatan yang mempertemukan produk-produk lokal dengan pasar yang lebih luas. Bagi kami, Bale Berdaya Hub bukan sekadar tempat berjualan, tetapi rumah bersama bagi UMKM Sumbawa," ujarnya.


Sri Apriana Kartina, pemilik UD Tina Tini, bersama produk Manjareal, kudapan tradisional Sumbawa.


‎Di antara puluhan produk yang memenuhi etalase Bale Berdaya Hub, terdapat satu jajanan tradisional yang selalu mengundang rasa penasaran para wisatawan.


‎Namanya Manjareal. ‎Sekilas bentuknya sederhana. Dibuat dari kacang tanah dan gula, lalu dibungkus menggunakan daun lontar. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah panjang yang melintasi zaman.


‎Konon, Manjareal dahulu bukan makanan yang bisa dinikmati semua orang. Kudapan itu hanya disajikan saat kerajaan menerima tamu kehormatan atau dalam acara-acara penting di lingkungan bangsawan Sumbawa.


‎Seiring perkembangan zaman, keberadaan Manjareal perlahan mulai tersisih oleh berbagai makanan modern. Tidak sedikit generasi muda yang bahkan tidak lagi mengenal jajanan tradisional tersebut.


‎Kekhawatiran itulah yang dirasakan Sri Apriana Kartina, pemilik UD Tina Tini.


‎Pada 2017, Tina memutuskan memulai usaha rumahan warisan orangtuanya, dengan satu tujuan sederhana, menjaga agar Manjareal tidak hilang ditelan zaman.


‎"Manjareal bukan sekadar jajanan. Dulu makanan ini disajikan untuk tamu besar dan para raja di Sumbawa. Saya merasa sayang kalau warisan budaya seperti ini hilang begitu saja," tutur Tina.


‎Berawal dari dapur sederhana, Tina tetap mempertahankan resep tradisional yang diwariskan turun-temurun.


‎Kacang tanah direbus hingga matang, kemudian dihaluskan sebelum dimasak bersama gula pasir sampai membentuk adonan yang padat. Setelah didinginkan, adonan dicetak menggunakan daun lontar dan dikeringkan hingga menghasilkan tekstur khas yang menjadi ciri Manjareal.

Meski tetap mempertahankan cita rasa asli, Tina menyadari bahwa produk tradisional harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. ‎


Kemasan harus lebih menarik. Mutu harus meningkat. ‎Legalitas harus dipenuhi. ‎Dan yang tidak kalah penting, produk harus memiliki cerita.


‎Kesempatan itu datang ketika Tina mengikuti Program Bale Berdaya yang diinisiasi PT Amman Mineral Internasional Tbk pada 2024.


‎"Bale Berdaya benar-benar mengubah cara kami melihat usaha. Sebelumnya saya hanya fokus membuat produk. Setelah mengikuti pendampingan, saya belajar bagaimana meningkatkan kualitas, memperbaiki kemasan, mengurus legalitas, memahami pemasaran digital, hingga membangun cerita di balik produk. Ternyata konsumen tidak hanya membeli rasa, tetapi juga membeli cerita," katanya.


‎Kini, Manjareal tampil dengan wajah baru. Kemasan yang lebih modern membuatnya mudah dibawa sebagai buah tangan tanpa menghilangkan identitasnya sebagai kuliner khas Tanah Samawa.


‎Lebih membanggakan lagi, produk tersebut kini menjadi salah satu oleh-oleh unggulan yang dipasarkan di Bale Berdaya Hub Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III Sumbawa.


‎"Alhamdulillah sekarang Manjareal semakin dikenal. Banyak wisatawan yang awalnya penasaran karena mendengar cerita tentang jajanan para raja. Setelah mencoba, mereka kembali membeli untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh," ujar Tina sambil tersenyum.

‎AMMAN dan Bale Berdaya, Menumbuhkan Peluang dari Potensi Lokal

‎Namun, Manjareal bukan satu-satunya kisah tentang kebangkitan UMKM di Sumbawa. Di sudut lain Tanah Samawa, ada cerita berbeda yang lahir bukan dari resep warisan leluhur, melainkan dari kreativitas mengubah sesuatu yang selama ini dianggap tak bernilai menjadi produk yang diminati pasar.


Dian bersama produk kerajinan Gemala Crafts.


‎Jika Sri Apriana Kartina menjaga sejarah melalui cita rasa Manjareal, maka Faradian Agustin memilih menciptakan harapan baru melalui limbah gedebong pisang.

‎Perempuan asal Pantai Jempol, Labuhan Sumbawa, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa itu merupakan pendiri Gemala Crafts, sebuah usaha kerajinan yang kini dikenal dengan berbagai produk home décor berbahan alami. Namun, jalan yang ditempuh untuk sampai pada titik itu tidaklah mudah.

‎Faradian mengawali usahanya dengan membuat berbagai suvenir, seperti bros dan aksesori wanita. Saat itu, bahan baku yang digunakan masih berupa material siap pakai, seperti kawat, mutiara akrilik, dan berbagai ornamen lainnya.

‎Meski menghasilkan produk yang menarik, tingginya biaya produksi membuat usaha tersebut sulit berkembang. Minat pasar yang terus menurun akhirnya memaksanya berhenti. Demi tetap bertahan, Faradian bahkan sempat beralih ke usaha kuliner selama hampir satu tahun.

‎"Saya sempat berpikir mungkin memang bukan jalan saya di bidang kerajinan. Tetapi di sisi lain saya juga merasa sayang kalau harus meninggalkan dunia yang memang saya sukai," kenangnya.

‎Semangat itu kembali tumbuh pada 2020 ketika ia mencoba membangun kembali Gemala Crafts. Sayangnya, pandemi Covid-19 menjadi tantangan baru. Aktivitas ekonomi melambat dan pasar kerajinan ikut lesu. ‎Situasi tersebut justru mengubah cara pandangnya.

‎Pasca pandemi, Faradian mulai mencari bahan baku yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sekaligus memiliki nilai ekonomi. Pilihannya jatuh pada limbah gedebong pisang yang selama ini hanya dianggap sampah setelah pohonnya ditebang.

‎Berawal dari sebuah kotak tisu sederhana, Faradian mulai bereksperimen mengembangkan berbagai produk baru.

‎Kini Gemala Crafts memproduksi beragam kerajinan dan dekorasi rumah berbahan alami, mulai dari kotak tisu, bingkai cermin, aksesori bros, hiasan dinding, hingga berbagai produk dekoratif lainnya yang memadukan sentuhan modern dengan material ramah lingkungan.

‎"Saya hanya ingin mengangkat potensi bahan alami yang mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Gedebong pisang ternyata bisa diolah menjadi produk yang unik dan memiliki nilai jual," ujar Faradian kepada Mandalika Post.

‎Perjalanan Gemala Crafts kemudian memasuki babak baru ketika Faradian terpilih menjadi peserta Program Bale Berdaya yang diinisiasi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) pada 2024.

‎Baginya, pelatihan tersebut menjadi pengalaman pertama mengikuti program pendampingan UMKM secara menyeluruh sejak menekuni dunia kerajinan.

‎"Ini pelatihan pertama yang pernah saya ikuti selama bergelut di bidang kerajinan. Program Bale Berdaya dari AMMAN benar-benar membuka wawasan saya. Kami tidak hanya diajarkan membuat produk yang bagus, tetapi juga bagaimana mengelola usaha dengan baik dan membaca kebutuhan pasar," katanya.

‎Menurut Faradian, manfaat terbesar yang dirasakan bukan hanya bertambahnya pengetahuan, tetapi juga perubahan pola pikir dalam menjalankan usaha.

‎Melalui pendampingan tersebut, ia belajar meningkatkan mutu produk, memperbaiki desain dan kemasan, mengelola keuangan usaha, menyusun arus kas, memanfaatkan pemasaran digital, hingga memperluas jaringan pemasaran.

‎"Banyak hal positif yang saya dapatkan dari Program Bale Berdaya. Sekarang saya lebih memahami bagaimana meningkatkan kualitas produk, menentukan harga yang sesuai, mengelola keuangan usaha, sampai memasarkan produk melalui media digital. Manfaatnya benar-benar kami rasakan," ungkapnya.

‎Pendampingan tersebut mulai membuahkan hasil. Produk-produk Gemala Crafts kini telah dipasarkan di sejumlah gerai home décor di Sumbawa, tersedia di Bale Berdaya Hub Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III Sumbawa, serta mulai menjangkau konsumen dari berbagai daerah melalui platform perdagangan elektronik seperti Shopee.

‎Bagi Faradian, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang peningkatan penjualan. ‎Lebih dari itu, ia merasa bangga karena limbah gedebong pisang yang dahulu dipandang sebelah mata kini mampu berubah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkenalkan kreativitas masyarakat Sumbawa kepada pasar yang lebih luas.

‎"Harapan saya, Program Bale Berdaya dari AMMAN bisa terus berkesinambungan. Masih banyak pelaku UMKM di Sumbawa yang membutuhkan pendampingan seperti ini agar bisa berkembang dan naik kelas," katanya.

‎Kisah Tina dan Faradian hanyalah dua dari ratusan cerita yang tumbuh bersama Program Bale Berdaya.

‎Program yang dijalankan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) bersama KUMPUL sebagai bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) itu mulai dilaksanakan pada 2024 dengan melibatkan lebih dari 100 pelaku UMKM yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Sumbawa, yakni Sumbawa, Lantung, Lenangguar, Lunyuk, Moyo Hulu, Orong Telu, dan Ropang.

‎Melalui program tersebut, para pelaku UMKM mendapatkan pendampingan secara intensif, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, pengembangan kualitas produk, legalitas usaha, literasi keuangan, pemasaran digital, hingga membuka akses kemitraan dan pasar yang lebih luas.

‎Hasilnya cukup menggembirakan. Rata-rata omzet peserta meningkat hingga 100,2 persen. Banyak pelaku UMKM berhasil memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Halal, memperkuat identitas merek, meningkatkan standar mutu produk, hingga memperluas jangkauan pemasaran.

‎Puncak program tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Festival Bale Berdaya pada 2025 yang mempertemukan para pelaku UMKM dengan pemerintah daerah, investor, mentor nasional, korporasi, lembaga keuangan, hingga calon mitra usaha.

‎Dari momentum itulah kemudian lahir Bale Berdaya Hub, sebuah etalase permanen yang kini menjadi ruang promosi bagi produk-produk unggulan UMKM Sumbawa di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III.

‎Vice President Social Impact PT Amman Mineral Internasional Tbk, Priyo Pramono, mengatakan Bale Berdaya merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong lahirnya UMKM yang tangguh dan mandiri.

‎"Bale Berdaya merupakan program pengembangan UMKM yang digagas AMMAN sebagai bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat. Fokus kami adalah mendukung pengembangan kewirausahaan di Sumbawa agar mampu tumbuh menjadi usaha yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing," katanya.

‎Menurut Priyo, pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga membangun ekosistem yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar, jaringan usaha, serta peluang kolaborasi yang lebih luas.

‎"Kami berharap UMKM Sumbawa yang mengikuti Program Bale Berdaya dapat terus berkembang menjadi roda penggerak perekonomian lokal, membuka lapangan kerja, sekaligus mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasasional," katanya.

‎Kini, setiap wisatawan yang singgah di Bale Berdaya Hub mungkin hanya melihat deretan kopi Sumbawa, madu hutan, tenun, Manjareal, kerajinan berbahan gedebong pisang, dan puluhan produk khas lainnya.

‎Padahal, di balik setiap produk yang tersusun rapi itu tersimpan perjalanan panjang para pelaku UMKM yang memilih bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

‎Ada warisan kuliner para raja yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Ada limbah alam yang disulap menjadi karya bernilai tinggi. Ada pula semangat untuk terus belajar, berinovasi, dan berkembang.

‎Melalui Bale Berdaya, PT Amman Mineral Internasional Tbk tidak hanya membuka akses pasar bagi UMKM lokal, tetapi juga ikut menumbuhkan optimisme bahwa potensi terbaik Tanah Samawa dapat tumbuh dari tangan-tangan masyarakatnya sendiri.

‎Dan ketika setiap pengunjung membawa pulang produk-produk itu sebagai oleh-oleh, sesungguhnya mereka juga membawa pulang cerita tentang ketekunan, kreativitas, dan semangat masyarakat Sumbawa yang terus bergerak menuju masa depan.

‎Di tengah aktivitas operasionalnya sebagai perusahaan tambang tembaga di Pulau Sumbawa, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari hasil produksi, tetapi juga dari bagaimana manfaatnya dirasakan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

‎Melalui Program Bale Berdaya, sentuhan pemberdayaan itu kini dapat dilihat secara nyata. Bukan hanya dalam bentuk pelatihan, tetapi juga lahirnya UMKM yang lebih percaya diri, memiliki legalitas usaha, mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, hingga hadirnya Bale Berdaya Hub sebagai etalase permanen produk-produk lokal di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III Sumbawa.

‎Bagi Sri Apriana Kartina, Faradian Agustin, Delia Puspita Cahyani, dan ratusan pelaku UMKM lainnya, pendampingan tersebut bukan sekadar program, melainkan titik balik yang membuka peluang untuk berkembang dan naik kelas.

‎Keberhasilan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengembangan UMKM membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan dan kolaborasi dari berbagai pihak. Ketika dunia usaha, pemerintah, komunitas, lembaga pendamping, dan masyarakat berjalan bersama, potensi lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang membanggakan.

‎Pada akhirnya, setiap produk yang tersusun di Bale Berdaya Hub bukan sekadar oleh-oleh khas Sumbawa. Di baliknya ada cerita tentang ketekunan, inovasi, dan harapan—bahwa dengan pendampingan yang tepat, karya-karya anak daerah mampu menembus pasar yang lebih luas sekaligus membawa nama baik Tanah Samawa ke tingkat nasional. (*)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • ‎Di Balik Bale Berdaya, Ada Cerita Panjang UMKM Sumbawa yang Bangkit dan Naik Kelas ‎

Trending Now