![]() |
| Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Saat menutup Porprov XII NTB 2026 di GOR Turida, Mataram, Sabtu (25/7). |
MANDALIKAPOST.com- Penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB 2026 resmi berakhir dengan Kota Mataram keluar sebagai juara umum setelah meraih 200 medali emas. Namun, sejumlah kericuhan yang terjadi di beberapa cabang olahraga (cabor) menjadi sorotan. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal memastikan akan memanggil jajaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan evaluasi akan dilakukan pada Selasa (28/7) sebagai tindak lanjut atas berbagai persoalan yang muncul selama pelaksanaan Porprov yang berlangsung sejak 16 Juli 2026.
"Besok, Selasa, kita akan lakukan evaluasi. Bahwa ada kekurangan dalam penyelenggaraan di sana-sini, itu menjadi tanggung jawab kita bersama. Ini menjadi bahan perbaikan agar penyelenggaraan PON 2028 bisa sebaik mungkin," ujar Iqbal usai menutup Porprov XII NTB 2026 di GOR Turida, Mataram, Sabtu (25/7).
Menurut Iqbal, evaluasi tersebut bertujuan mengidentifikasi akar persoalan di balik sejumlah insiden yang terjadi selama Porprov. Hasil evaluasi akan menjadi bekal penting bagi NTB yang bersama Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Ia mengakui berbagai dinamika yang terjadi selama Porprov menjadi alarm bagi kesiapan NTB dalam menggelar ajang olahraga berskala nasional.
"Insya Allah kita bisa menjadi penyelenggara yang terbaik. Kita harus mempersiapkan diri, baik dari sisi fisik, infrastruktur, kualitas penyelenggaraan, maupun atlet-atletnya," katanya.
Selain aspek penyelenggaraan, Iqbal juga menyoroti kondisi infrastruktur olahraga di NTB yang dinilai masih perlu pembenahan agar memenuhi standar nasional.
"Kalau soal venue, pemerintah pusat sudah berkomitmen memberikan bantuan untuk renovasi," ujarnya.
Ia juga memastikan panitia besar penyelenggara PON 2028 akan segera dibentuk.
"Dalam satu sampai dua bulan ke depan harus sudah kita siapkan," tegasnya.
Meski diwarnai sejumlah persoalan, mantan Duta Besar Indonesia untuk Turki itu tetap optimistis NTB mampu menjadi tuan rumah PON yang sukses.
"Baik buruknya penyelenggaraan ini adalah hasil kerja kita bersama. Sudah saatnya kita belajar dan melengkapi berbagai kekurangan. Saya juga mengingatkan pengurus KONI provinsi, kabupaten, dan kota agar fokus mempersiapkan PON 2028," ujarnya.
Sementara itu, Ketua KONI NTB Mori Hanafi menilai penilaian bahwa Porprov 2026 gagal tidak tepat. Menurutnya, dari lebih dari 6.000 pertandingan yang digelar, hanya tiga hingga empat pertandingan yang diwarnai persoalan, yakni pada cabang olahraga pencak silat, drum band, voli pantai, dan BMX.
"Dari lebih 6.000 pertandingan, yang bermasalah hanya tiga atau empat. Masa gara-gara itu kita bilang semuanya rusak? Itu tidak fair," kata Mori.
Ia menjelaskan insiden yang terjadi di masing-masing cabang olahraga memiliki penyebab berbeda, termasuk senggolan antarpeserta pada BMX dan kericuhan di pertandingan pencak silat yang telah diakui sebagai kelalaian panitia cabang olahraga.
"Jadi masa dari 6.000 pertandingan yang bermasalah hanya tiga, lalu Porprov disebut gagal. Itu hanya 0,0 sekian persen," ujarnya.
Mori mengakui masih terdapat kelemahan dalam aspek pelayanan, terutama transportasi atlet menuju venue pertandingan. Namun, menurutnya persoalan tersebut dapat segera diatasi dan tidak mengganggu keseluruhan pelaksanaan Porprov.
"Kalau di medis dan pertandingan tidak ada masalah. Yang sempat terkendala hanya transportasi, tetapi itu sudah terurai. Jadi jangan sampai muncul framing seolah-olah Porprov ini gagal," tandasnya.

