![]() |
| Pentas: Pertunjukan tari tradisional, Tari Tandang Mendet yang diperagakan oleh Sanggar Aldak Emas Sembalun, (Foto: Istimewa/MP). |
Di tengah antusiasme anak-anak muda yang aktif berlatih hingga memenuhi berbagai undangan pertunjukan, gerakan regenerasi dari bawah ini justru terbentur oleh keterbatasan sarana dan prasarana. Hingga saat ini, para pelaku seni terpaksa meminjam perlengkapan pertunjukan dari sanggar lain untuk latihan maupun pentas.
Penggiat pelestarian Tari Tandang Mendet Sembalun, Eolansyah menyampaikan bahwa semangat generasi muda menjaga warisan nenek moyang seharusnya diimbangi dengan perhatian dan intervensi nyata dari pemerintah daerah maupun instansi terkait.
"Kami tidak ingin Tari Tandang Mendet ini kelak hanya menjadi cerita pengantar tidur atau sekadar dokumantasi kusam di masa lalu. Tarian ini adalah napas tradisi dan kehormatan leluhur yang harus tetap hidup di tanah Sembalun," tegas Rolansyah saat dikonfirmasi, Rabu (26/8).
Ia menambahkan, pemerintah daerah hendaknya tidak menutup mata terhadap ikhtiar mandiri yang telah dirintis oleh masyarakat dan pemuda setempat.
"Generasi muda kami sudah membulatkan tekad untuk menjadi benteng terdepan menjaga warisan leluhur. Namun, merawat peninggalan leluhur tidak cukup hanya dengan modal tekad. Kami sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah, terutama untuk ketersediaan alat pertunjukan yang memadai, agar anak-anak muda tidak patah semangat di tengah jalan," lanjutnya.
Masyarakat dan para pelaku seni berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Timur maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dapat hadir memberikan dukungan konkret.
Berupa fasilitas yang diharapkan tidak sebatas kesempatan tampil di panggung seremoni, melainkan mencakup bantuan sarana-prasarana, penyediaan ruang latihan, pembinaan berkelanjutan, pendokumentasian, hingga promosi ke tingkat nasional dan internasional.
Tari Tandang Mendet bukan sekadar koreografi pertunjukan, melainkan identitas kultural dan kebanggaan Nusa Tenggara Barat. Kehadiran pemerintah secara nyata dinilai menjadi kunci agar regenerasi seni tradisi ini terus menyambung dari generasi ke generasi.

