Upaya Vitalisasi Budaya dan Ekonomi, SembaluNina Bangun Ekosistem Tenun Lokal Berkelanjutan

Rosyidin S
Senin, Agustus 31, 2026 | 22.06 WIB Last Updated 2026-08-31T14:06:33Z
Tenun: Nampak semangat dari para peserta pelatihan menenun kain khas Sembalun, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com — Industri pariwisata di Kawasan Paer Sembalun berkembang pesat, namun distribusi manfaat ekonominya dinilai belum dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal. Menyikapi persoalan tersebut, komunitas SembaluNina berinisiatif membangun ekosistem kerajinan tenun secara komprehensif untuk mendorong regenerasi penenun muda sekaligus memperkuat identitas kebudayaan daerah.


Manager SembaluNina, Baiq Sri Mulya, mengungkapkan bahwa kerusakannya bersifat sistemik akibat degradasi lingkungan dan disintegrasi sosial dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pemulihan kawasan tidak bisa lagi dilakukan melalui pendekatan yang parsial.


"Kita semua sadari beberapa tahun terakhir ini mulai merasakan dampak dari kondisi degradasi lingkungan dan disintegrasi sosial. Karena kerusakannya bersifat sistemik, kita berpikir solusinya pun harus sistemik, tidak bisa menyelesaikan masalah sistem dengan pendekatan parsial," ujar Baiq Sri Mulya di Sembaulun, Senin (31/8).


Baiq Sri Mulya menyoroti bahwa sebagian besar pelaku utama pariwisata di Sembalun saat ini didominasi oleh pemodal besar, sementara masyarakat lokal kerap hanya mendapatkan dampak sekunder. Di sisi lain, tradisi menenun menghadapi ancaman kepunahan akibat minimnya keterlibatan generasi muda. Saat mendirikan Koperasi Produsen Tenun Sangkabira Sembalun pada 2023, jumlah anggotanya hanya 20 orang yang didominasi generasi senior.


"Ada kesenjangan demografi karena generasi muda belum melihat tenun sebagai potensi mata pencaharian yang lukratif. Bagi penenun aktif sekalipun, menenun masih menjadi pekerjaan alternatif, sementara pekerjaan utamanya tetap bertani atau mengajar," jelasnya.


Untuk mengatasi persoalan tersebut, SembaluNina menggelar rangkaian program pengembangan ekosistem tenun selama enam bulan yang didukung oleh Pena Bulu dan Uni Eropa melalui Program COEVOLVE-2. Program ini mencakup Focus Group Discussion (FGD), pelatihan pewarnaan alami, hingga pelatihan menenun selama dua minggu yang diikuti oleh 20 penenun muda dari berbagai desa di kawasan Sembalun.


Dalam prosesnya, SembaluNina bekerja sama dengan UIN Mataram, Majlis Adat Paer Sembalun, dan ahli tenun senior untuk mengidentifikasi serta mendokumentasikan keaslian motif lokal. Hasilnya, ditemukan sekitar 20 motif khas yang terinspirasi dari keanekaragaman hayati dan budaya Sembalun.


"Untuk memperkuat identitas lokal, kami sedang memproses pendaftarannya melalui Indikasi Geografis (IG). Karena ini adalah hak komunal masyarakat Paer Sembalun, bukan hak paten perorangan," tegasnya. 


Selain regenerasi dan perlindungan hukum, program ini juga membekali peserta dengan formulasi pewarnaan yang konsisten serta standarisasi penentuan Harga Pokok Penjualan (HPP) berbasis jumlah benang untuk membangun konsistensi harga dan kualitas. Seluruh peserta yang menyelesaikan pelatihan ini nantinya akan difasilitasi alat tenun dan diintegrasikan menjadi anggota Koperasi Sangkabira.


Rencana integrasi budaya ini juga mencakup ide pengembangan Bale Adat Desa Beleq sebagai museum hidup, tempat di mana aktivitas menenun dan kesenian tradisional seperti gamelan dapat hidup kembali serta masuk dalam itinerary pelaku usaha perjalanan wisata.


Baiq Sri Mulya berharap mandat pembangunan masyarakat ini dapat dikembalikan kepada pemerintah agar dapat memberikan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan.


"Kami ingin mengembalikan mandat ini kepada pemerintah, baik pemerintah desa maupun kabupaten. Apa yang kami kerjakan ini dapat menjadi praktik baik. Agar dampaknya bisa sistemik dan meluas, pemerintah yang memiliki kewenangan dan kapasitas untuk mereplikasinya," pungkasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Upaya Vitalisasi Budaya dan Ekonomi, SembaluNina Bangun Ekosistem Tenun Lokal Berkelanjutan

Trending Now