![]() |
| Pilkades: Bener atau pamflet Salah satu bakal calon Kepala Desa Banjarsari, Masriin, (Foto: Istimewa/MP). |
Berbeda dari kontestan lain, Masriin datang membawa visi besar untuk merangkul kembali nilai-nilai leluhur yang dinilainya kian tergerus zaman. Dengan mengusung tagline "Jaga Agama, Jaga Adat", ia berkomitmen menjadikan kebudayaan dan nilai religius sebagai fondasi utama pembangunan desa.
"Pertama, kami akan mengangkat masalah adat yang sudah mulai hilang di sini untuk dilestarikan kembali. Maksudnya, supaya dari segi agama maupun adat itu bisa berjalan beriringan dan bersinergi dalam menjalankan roda pemerintahan. Tanpa adab dan adat yang kuat, agama juga nanti bisa melenceng," ujar Masriin saat dikonfirmasi pada Rabu (28/10).
Sebagai pemangku adat, Masrin prihatin dengan sejumlah potensi seni budaya dan pariwisata lokal yang terbengkalai. Salah satunya adalah objek wisata Waterpark Taman Sari serta kesenian tradisional seperti Peresean, Ngayu-ayu, dan Wayang Kulit yang sudah lama tak tersentuh pemerintah desa.
Ia menegaskan, jika diberikan amanah oleh masyarakat, pengelolaan pariwisata desa akan dirombak total untuk mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes) dan membangkitkan ekonomi kreatif warga.
"Di sini ada tempat adat yang terbengkalai yaitu Waterpark Taman Sari karena sistem pengurusannya kurang maksimal. Kalau saya dipercaya memimpin Desa Banjarsari, kepemimpinannya akan dirotasi. Kita juga punya kesenian Peresean dan Wayang Kulit yang dulu jadi media penyebaran agama. Budaya-budaya ini akan kita promosikan lewat media sosial untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara," ungkapnya.
Tak hanya berfokus pada pelestarian budaya, Masrin menekankan bahwa regenerasi seni akan diselipkan ke sektor pendidikan melalui kegiatan ekstra kurikuler di sekolah-sekolah. Bahkan, ia menyatakan kesiapannya turun langsung membina generasi muda.
"Kalau kita mau membina desa budaya, kita harus melakukan regenerasi. Untuk Peresean, kalau saya terpilih jadi kepala desa, saya sanggup turun langsung menjadi pelatihnya. Pemimpin itu harus memberi contoh, baik dari segi praktik maupun ilmu," tegas Masriin.
Di sektor sosial dan kesehatan, Masrin menyoroti pentingnya kehadiran pemerintah desa dalam mendampingi warga miskin ekstrem maupun warga yang tidak mampu.
Ia berencana mengalokasikan hasil dari pengelolaan potensi desa untuk menyokong operasional ambulans gratis, pengurusan BPJS, hingga bantuan pendidikan bagi anak tidak mampu. Semua program kerja tersebut nantinya akan dirumuskan secara transparan melalui Musyawarah Desa (Musdes).
Menjelang tahapan verifikasi faktual berkas pendaftaran yang diikuti oleh empat orang bakal calon, Masriin meminta pihak panitia Pilkades untuk bekerja secara jujur dan transparan demi mengayomi seluruh kontestan, khususnya putra daerah Banjarsari.
Di akhir keterangannya, Masriin menyampaikan imbauan menyejukkan kepada seluruh masyarakat dan sesama kontestan agar menjaga kondusivitas selama tahapan Pilkades berlangsung. Ia menekankan pentingnya berpolitik secara gentleman dan kesatria serta menolak keras praktik politik uang (money politics).
"Saya mengajak semua calon, jangan sampai kita memakai politik uang dan saling menjelekkan satu sama lain. Semua calon ini adalah putra-putra terbaik Banjarsari. Bagi saya, siapapun yang mengeluarkan uang saat pencalonan, arahnya pasti bakal berbisnis saat menjabat. Dan siapa yang menerima uang, berarti dia berutang. Mari kita maju secara profesional, gentlemen, dan berdikari demi Banjarsari yang lebih baik," pungkasnya.

