![]() |
| Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Indah Dhamayanti Putri, menggelar sosialisasi dan dialog bersama siswa-siswi SMKN 1 Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Rabu (21/10/2026) |
MANDALIKAPOST.com — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Indah Dhamayanti Putri, menggelar sosialisasi dan dialog bersama siswa-siswi SMKN 1 Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), terkait pencegahan kekerasan fisik, kekerasan seksual, perundungan (bullying), serta pendewasaan usia perkawinan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian roadshow Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) NTB di Pulau Sumbawa. Selain Kabupaten Sumbawa Barat, kegiatan serupa juga menyasar Kabupaten Sumbawa melalui kunjungan ke sejumlah desa berdaya.
Dalam kegiatan tersebut, Indah Dhamayanti Putri menekankan pentingnya memberikan ruang dialog kepada generasi muda agar mereka memahami bentuk-bentuk kekerasan, dampak perundungan, serta risiko pernikahan pada usia anak.
Menurutnya, antusiasme para siswa dalam mengikuti kegiatan menunjukkan bahwa kalangan pelajar membutuhkan ruang untuk menyampaikan pendapat, bertanya, dan berdiskusi mengenai persoalan yang mereka hadapi.
“Anak-anak cukup antusias karena mereka membutuhkan ruang dialog. Kita memilih tempat terbuka agar mereka lebih semangat dan mengikuti kegiatan dengan senang hati,” ujarnya.
Pada Rabu (21/10/2026)
Indah juga menyoroti pentingnya
pemahaman mengenai perbedaan antara candaan dan perundungan. Menurutnya, hal tersebut perlu menjadi perhatian agar para pelajar mampu memahami batasan dalam berinteraksi, terutama ketika perkataan atau tindakan tertentu dapat menyakiti perasaan orang lain.
Ia menilai, pencegahan perundungan dan kekerasan di lingkungan sekolah membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk guru, orang tua, organisasi pelajar, dan masyarakat.
Di lingkungan sekolah, Indah mendorong organisasi siswa intra sekolah (OSIS) agar lebih aktif mengambil peran dalam menyosialisasikan pencegahan kekerasan kepada sesama pelajar. Pendekatan melalui teman sebaya dinilai dapat membantu pesan-pesan tersebut lebih mudah diterima.
“Semua pihak memiliki kepentingan dan kewajiban yang sama. Kita harus mencegah agar tidak terjadi tindakan yang saling menyakiti,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BKKBN, Lalu Makripudin, mengatakan kegiatan yang dilaksanakan BKOW NTB tersebut merupakan bagian dari program edukasi bagi pelajar di tingkat SMA dan SMK, khususnya mengenai pencegahan kekerasan seksual dan pendewasaan usia perkawinan.
Menurutnya, sosialisasi tersebut penting karena kasus kekerasan seksual masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Kekerasan dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, pesantren, hingga keluarga.
Karena itu, edukasi kepada generasi muda perlu terus diperkuat agar mereka memahami bahaya kekerasan seksual, mampu mengenali tindakan yang tidak pantas, serta mengetahui pentingnya upaya pencegahan dan perlindungan diri.
“Kita berharap dengan sosialisasi ini, tingkat kekerasan seksual semakin menurun. Bahkan, kita berharap NTB bisa mencapai nol kasus kekerasan seksual,” ujarnya.
Selain kekerasan seksual, Makripudin menyoroti persoalan perkawinan usia anak di NTB. Ia menyebutkan, persentase perkawinan usia anak di provinsi tersebut pernah mencapai sekitar 18 persen dan kini turun menjadi sekitar 14 persen.
Meski mengalami penurunan, ia mengingatkan agar seluruh pihak tidak lengah dan tetap memperkuat sosialisasi, khususnya di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, para pelajar diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan hingga lulus tanpa harus terhenti akibat perkawinan pada usia anak.
“Harapannya, ketika anak masuk ke sekolah, baik SMA maupun SMK, mereka bisa menyelesaikan pendidikannya sampai tamat. Kita tidak ingin di tengah perjalanan sekolah mereka menikah sehingga pendidikan menjadi terhambat,” katanya.
Makripudin menambahkan, upaya pencegahan perkawinan usia anak membutuhkan koordinasi lintas sektor. Meski belum terdapat satuan tugas khusus yang menangani persoalan tersebut secara tersendiri, sejumlah regulasi dan lembaga perlindungan anak telah tersedia di daerah untuk mendukung upaya pencegahan.
Melalui kegiatan sosialisasi dan dialog di sekolah, pemerintah berharap kesadaran pelajar mengenai bahaya kekerasan fisik, kekerasan seksual, perundungan, dan perkawinan usia anak semakin meningkat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya memperkuat perlindungan terhadap generasi muda serta mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan mendukung masa depan anak-anak di Nusa Tenggara Barat.

