Iklan

Ponpes Darunnahdlatain NW Pancor Gelar Kegiatan Pena Bangsa

MandalikaPost.com
Selasa, Oktober 22, 2019 | 15:16 WIB Last Updated 2019-10-22T08:16:20Z
Kegiatan Pena Bangsa di Ponpes Darunnahdlatain NW Pancor, Lombok Timur. 


LOMBOK TIMUR - Pondok Pesantren Darunnahdlatain Nahdlatul Wathan, Lombok Timur, menggelar  serangkaian kegiatan kegiatan Penguatan Nilai Kebangsaan di Pesantren (Pena Bangsa), 21-24 Oktober 2019.

Kegiatan tersebut bagian dari program Bidang Kesejarahan, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2019.

"Kegiatan ini digagas dengan kesadaran bahwa nilai-nilai kebangsaan harus terus diperkuat untuk mengokohkan ikatan kebangsaan yang beragam demi kemajuan," kata Panitia sekaligus Humas Pondok Pesantren Darunnahdlatain Nahdlatul Wathan Pancor,  Dr. M. Halqi.

Dipaparkan, kegiatan dimaksudkan bahwa semangat kebangsaan yang dinafasi oleh nilai dan tradisi pesantren dapat menjadi modal dan model untuk menguatkan karakter kebangsaan bagi generasi penerus.

Kegiatan, yang diikuti oleh 7000 peserta ini terdiri dari santri, kiai, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan ini, mengangkat tema Pesantren dan Nilai Kebangsaan: "Merawat Ingatan Sejarah untuk Memperkokoh Keindonesiaan. Rangkaian kegiatan terdiri dari halaqoh kebangsaan, lomba esai kebangsaan, pameran kesejarahan, pemutaran film inspiratif, dan pojok sejarah".

Halaqoh Kebangsaan yang mendiskusikan narasi sejarah dan tradisi kebangsaaan di pesantren ini dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2019.

Halaqoh menghadirkan akademisi TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, M.A. dengan subtema: Keislaman dan Keindonesiaan: Wajah Kebudayaan Islam Indonesia; Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW H. Muhammad Djamaluddin, BE. M.Kom., dengan subtema: Peran Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW dalam Penguatan Kebangsaan; akademisi Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag. dengan subtema: Ulama dan Tradisi Kebangsaan dari Masa ke Masa: Sebuah Pengalaman di Nusa Tenggara Barat; alumni santri Dr. TGH. Salimul Jihad M.Ag. dengan subtema: Peran Santri dalam Pembangunan Indonesia di Era Teknologi Digital 4.0, yang akan dimoderatori oleh Dr. H. Muhammad Hirjan Nahdi, M.Hum. 

Selain itu juga digelar Lomba Esai Kebangsaan yang menjadi ajang kreativitas santri dalam menyusun esai dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Tema lomba esai dalam bahasa Arab adalah Syabuna Syabun Indunisiyyun: Tajribah wa Amal (Bangsa Kita adalah Bangsa Indonesia: Pengalaman dan Harapan) dan tema lomba esai dalam bahasa Inggris adalah Indonesia Is Our Nation: Experience and Hope.

Lomba dimulai tanggal 10 September-10 Oktober 2019 ketika para peserta mengirimkan karya esainya.
"Dari esai-esai yang terkumpul Dewan Juri memilih 5 esai terbaik dalam bahasa Arab dan 5 esai terbaik dalam bahasa Inggris untuk dipresentasikan pada tanggal 23 Oktober 2019 untuk menentukan juara 1, 2, 3," katanya.

Juga digelar pameran Kesejarahan, yang menggambarkan perjalanan pesantren dan kontribusinya dalam membangun bangsa dan negara, diadakan pada tanggal 21-24 Oktober 2019.

Pameran akan menampilkan foto-foto, naskah, dan benda-benda bersejarah lainnya yang ada di pesantren.

"Ada juga pemutaran film inspiratif berkerjasama dengan Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP Paud dan Dikmas) Provinsi NTB menggunakan mobil bioskop keliling," kata Halqi.

Film-film yang akan diputar adalah film-film dokumenter yang dibuat oleh komunitas yang pembuatannya difasilitasi oleh Direktorat Sejarah seperti film dokumenter KH. Hasyim Asyari, Ki Hajar Dewantara, dan lain-lain. Pojok sejarah akan memamerkan buku-buku terbitan Direktorat Sejarah dan buku-buku koleksi Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW yang bertemakan sejarah.

Menurutnya, beragam acara yang didesain dalam kegiatan Pena Bangsa ini menjadi bagian dari  kontribusi (legacy) pesantren dari masa ke masa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menanamkan nilai-nilai toleransi sangat signifikan dalam mempersatukan kehidupan masyarakat.

Pesantren yang menampilkan wajah Islam yang tawassuth (memilih jalan tengah), tasamuh (toleran), dan tawazun (menjaga keseimbangan) memberikan kontribusi penting dalam pembentukan bangsa-negara Indonesia sejak masa prapenjajahan, penjajahan, perjuangan kemerdekaan, proklamasi kemerdekaan, masa pasca kemerdekaan sampai masa kontemporer.

Oleh karena itu, dalam setiap periode sejarah bangsa Indonesia, Tradisi Pesantren selalu dapat mengambil peran yang penting. Mudahnya demokrasi tumbuh di Indonesia, yang kini menjadi negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat.

"Salah satunya adalah ditopang oleh Islam Indonesia yang berwajah tawassuth, yang inklusif, akomodatif, toleran dan menerima UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai final," tegasnya. (*)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ponpes Darunnahdlatain NW Pancor Gelar Kegiatan Pena Bangsa

Trending Now

Iklan

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, 

pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online