Pilkada 2020 di NTB, "Mimpi Buruk" Para Petahana

MandalikaPost.com
Senin, November 11, 2019 | 11.43 WIB Last Updated 2019-11-11T03:43:22Z
Bambang Mei "Didu" Finarwanto SH MH.

MATARAM - Lembaga Kajian Politik Mi6 memprediksi sebagian besar petahana Pilkada serentak 2020 tujuh kabupaten/kota di NTB tumbang dan sebagian lagi tidak bisa maju karena sudah dua kali menjabat yakni Walikota Mataram, Bupati Lombok Tengah dan Bupati Dompu.

Sementara itu Petahana Bupati dan Wakil Bupati di KSB masih terlalu kuat dan digdaya untuk dikalahkan dalam pilkada 2020 karena kepemimpinannya yang merakyat dan dicintai mayoritas masyarakat KSB.

Fenomena akan  bertumbangannya  petahana di Pilkada 2020 tanda-tandanya sudah mulai nampak dari berbagai opini ataupun permasalahan yang muncul diruang publik.

"Ini sinyelemen awal  atau warning bahwa kepemimpinan para petahana diberbagai kabupaten/kota di NTB yang  muncul berbagai permasalahan tidak lagi kokoh atau mulai rapuh secara politik ," kata Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto , Minggu ( 10/11 ).

fenomena lain, kata lelaki yg akrab disapa didu, yakni makin banyaknya bermunculan calon -calon penantang petahana yang memiliki kapasitas dan performance yang baik untuk memimpin. Munculnya figur-figur baru ini  harus dimaknai sebagai antitesa terhadap kepemimpinan petahana.

"Di kota Mataram misalnya gelora perubahan yang berembus makin menguat menginginkan kepemimpinan yang baru di Pilkada 2020," tambahnya .

Maka tidak heran, imbuhnya   gelaran pilkada kota mataram akan menjadi ajang pertarungan prestise dan gengsi politik  antara petahana melawan rivalnya yang rata-rata pendatang baru.

"Pilkada kota Mataram 2020 akan berlangsung sengit dan ketat karena figur penantang petahana tidak bisa dipandang remeh. Apalagi gaung perubahan mulai menggema dimana-mana," ucapnya .

Selanjutnya Didu menambahkan kehendak perubahan yang digelorakan masyarakat diberbagai wilayah di NTB haruslah diterjemahkan sebagai keinginan rakyat ada perbaikan disemua sektor kehidupan.

"Ini faktor alamiah saja , rakyat ingin melihat pemimpin baru yang lebih baik dari era sebelumnya ," kata mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB ini.

Sementara itu lanjut didu , dari perspektif partai politik , pilkada serentak 2020 merupakan ajang pembuktian marwah dan legitimasi kekuatan mesin politik partai dalam mengagregasi dukungan pemilih.

Didu mengulas Partai Politik dalam Pilkada serentak 2020 akan lebih banyak menampilkan figur dari kadernya sebagai bagian kaderisasi kepemimpinan. Ini penting bagian dari penjejangan karier politik di masing-masing parpol.

"Kalaupun nanti yang diusung bukan kadernya,  tentu ada pertimbangan lain taktis dan strategis untuk memenangkannya," tambahnya .

Selain didu menambahkan,  agenda politik lainnya untuk menyongsong dan pemantapan Pilgub 2023 agar tidak mengulangi Kesalahan Pilgub 2018,  dimana calon pengusung dari parpol besar bertumbangan ditangan ZulRohmi yang hanya diusung demokrat dan PKS.

"Berkaca pada pileg 2019, maka kecendrungan  konstruksi dan koalisi politik yang terjadi dalam Pilkada 2020 , koalisi Parpol peraih suara terbanyak diprediksi akan memenangkan semua Pilkada serentak 2020," tukasnya.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pilkada 2020 di NTB, "Mimpi Buruk" Para Petahana

Trending Now