Iklan

Pesona Bilebante dan Sembalun Dipromosikan dalam ISED Dialogue Forum 2020

MandalikaPost.com
Senin, November 09, 2020 | 12:58 WIB Last Updated 2020-11-09T05:58:48Z
Desa Wisata Hijau Sembalun, Lombok Timur.

JAKARTA - Pesona Desa Wisata Bilebante Lombok Tengah dan Desa Wisata Sembalun Lombok Timur dipromosikan melalui tampilan video dalam ISED Dialogue Forum 2020, yang digelar Kementerian PPN /Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) secara virtual pada Senin 9 November 2020.


ISED Dialogue Forum 2020 dihadiri oleh Divisi Pengembangan Kerjasama Kedutaan Besar Federal Jerman untuk Indonesia Dr David Tantow, Country Director GIZ for Indonesia, ASEAN and Timor Leste, Martin Hansen, Principal Advisor Project ISED, Ruly Marianti, Direktur Industri, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bappenas, Leonardo Adypurnama, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria br Simanungkalit, Analis Kebijakan Direktorat Pengembangan SDM Pariwisata Kemenparekraf, Surana, dan sejumlah peserta lainnya.


Program Inovasi dan Investasi untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan yang Inklusif (ISED) merupakan kerjasama bilateral pemerintah Indonesia dan Jerman yang didukung oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN / Bappenas) dan diimplementasikan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH. Program akan memasuki tahun yang keempat dan terakhir pada Juni 2021. 


Desa Bilebante dan Desa Sembalun merupakan desa yang masuk dalam bagian program ISED. Para peserta menyaksikan keindahan Bilebante dan Sembalun di Lombok melalui video Virtual Tour yang ditampilkan dalam Forum.


Potensi wisata berbasis sumberdaya lokal di desa tersebut digali dan dipromosikan, SDM kepariwisataan juga diberi pelatihan berkelanjutan, termasuk potensi UMKM dan pemanfaatan teknologi digital.


Ketua Desa Wisata Hijau Bilebante, Lombok Pahrul Azim mengungkapkan, Desa Bilebante sangat terbantu dengan implementasi proyek-proyek kerja sama bilateral Indonesia – Jerman. 


Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan dapat dirasakan oleh masyarakat desa, antara lain pengembangan keterampilan yang berujung pada perbaikan pendapatan keluarga. 


"Masih banyak pekerjaan rumah yang menanti Desa Bilebante agar lebih berkembang lagi, tapi kami optimis dengan keberlanjutan kerja sama yang sudah terjalin,” katanya.


Video promosi pariwisata Desa Bilebante dan Desa Sembalun di Lombok dibuat oleh komunitas masyarakat pelaku wisata di Desa tersebut. 


GM Hotel Aruna Senggigi, Weni Kristanti mengakui cukup terbantu dengan program ISED terutama untuk mendorong digitalisasi Aruna Senggigi.


"Digilatisasi dalam promosi dan pemasaran kami rasakan sangat membantu terutama di masa pandemi saat ini," kata Weni.


Program ISED di Lombok yang mendorong model bisnis inkusif di sektor pariwisata juga dirasakan dampaknya bagi pelaku UMKM.


Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria br Simanungkalit mengatakan, model bisnis inklusif yang melibatkan banyak pihak dan stakeholders bisa menjadi model pengembangan industri UMKM dan juga pariwisata ke depan.


"Masyarakat atau komunitas pariwisata di Desa misalnya, bisa memikili kemampuan mempromosikan dan memasarkan potensinya secara berkelanjutnya," katanya.


Ia memaparkan, sektor pariwisata dan UMKM memang yang paling terdampak di masa pandemi saat ini. Berbeda dengan krisis moneter 1998 dimana UMKM justru mampu bertahan dan bertumbuh, pandemi memiliki tantangan tersendiri.


Namun, menurutnya, masih banyak juga industri dan UMKM yang bisa bertahan. Terutama bagi mereka yang bisa mendorong pemanfaatan tekbologi digital dan mampu beradaptasi dengan masa pandemi.


"UMKM banyak yang tumbuh, misalnya kuliner. Adaptasi bagaimana kuliner yang sehat dan pemasaran melalui digital sangat membantu," katanya.


Victoria mengatakan, saat ini pemerintah tengah gencar mendorong pemanfaatan digital. Model bisnis inklusi akan semakin membantu tercapainya sasaran.


Bisnis inklusi ini berbeda dengan program CSR yang lebih dominan ke bantuan sosial. Dengan model bisnis inklusi maka semua pihak dapat saling mensupport, karena didalamnya ada peningkatan kapasitas SDM, produksi, dan rantai pemasaran yang berkisenambungan.


Country Director GIZ for Indonesia, ASEAN and Timor Leste, Martin Hansen mengatakan kebanggaannya atas capaian program ISED di Lombok, Indonesia. Diharapkan program kemudian bisa diaplikasikan di daerah-daerah lainnya di Indonesia.


Dialogue Forum 2020 dilakukan guna memupuk keberlanjutan manfaat kerja sama antara seluruh mitra proyek melalui pendekatan bisnis inklusif di sektor pariwisata berkelanjutan di Lombok.

   

Direktur Industri, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bappenas, Leonardo Adypurnama Alias Teguh Sambodo menjelaskan, melalui forum diskusi ini, keberlanjutan manfaat kerja sama antara seluruh mitra dalam implementasi proyek melalui pendekatan bisnis inklusif di sektor pariwisata di Lombok perlu dipupuk dan ditingkatkan ke skala nasional dan kebijakan. 


"Sebab, pariwisata menjadi salah satu sektor pilihan dan andalan dalam pembangunan ekonomi yang paling layak dan berkelanjutan,” katanya. 


Principal Advisor Project ISED, Ruly Marianti mengatakan, bisnis inklusif merupakan suatu pendekatan di mana masyarakat yang berada di piramida ekonomi yang paling dasar, turut diikutsertakan dalam satu mata rantai usaha suatu perusahaan atau entitas usaha, baik sebagai pemasok, distributor, retailer dan konsumen yang bertujuan pada perubahan dan peningkatan ekonomi bagi kedua belah pihak.


“Seluruh kerja sama dalam proyek ISED diimplementasikan dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan yang datang dari sektor swasta, publik serta akademisi guna memastikan hasil capaian yang maksimal. Proyek ISED berupaya menghadapi tantangan dari sisi permintaan (demand side) dengan berkerja secara erat dengan mitra dari sektor swasta,” urainya.


Beberapa implementasi proyek ISED diarusutamakan dalam bentuk pengembangan keterampilan salah satunya menggunakan implementasi pendekatan bisnis inklusif kepada penerima manfaat, seperti karyawan mitra proyek dan juga masyarakat desa. 


Adapun sejumlah kegiatan proyek ISED yang menggunakan pendekatan bisnis inklusif di sektor pariwisata berkelanjutan bersama mitra swasta dapat ditemui dalam bentuk: 1) wisata kebugaran bersama Martha Tilaar Group, 2) membuka peluang kegiatan wisata dan tujuan wisata bersama Panorama Group dan Wise Steps Travel, 3) mengembangkan potensi kopi bersama Indonesia Coffee Academy (ICA) di bawah naungan Anomali Group, 4) pembelajaran praktik pertanian kopi yang baik bersama Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI), 5) mengembangkan potensi lokal kuliner Lombok bersama Generasi Baru Dapur Indonesia (GBDI), serta 5) mengembangkan potensi tujuan wisata yang ramah lingkungan bersama di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika bersama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC).


Perwakilan mitra sektor swasta, Head of Corporate Communications Martha Tilaar Group, Palupi Candra mengatakan, pihaknya sangat bangga dapat turut berkontribusi bersama proyek ISED mengembangkan potensi masyarakat menjadi lebih baik lagi melalui pendekatan bisnis inklusif. 


"Kami pun berkomitmen agar anak bangsa terutama kaum perempuan bisa mengembangkan diri, menjadi terampil, dan memanfaatkan potensi yang dimiliki sehingga dapat turut berkontribusi dalam memajukan perekonomian keluarga, wilayah sekitarnya hingga bangsa,” katanya.


Melalui ISED Dialogue Forum 2020, partisipasi para pemangku kepentingan dalam proyek ISED dapat diperluas. 


Hal ini sangat penting mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang mengakibatkan penurunan yang signifikan pada sektor pariwisata. Padahal, sebelum pandemi Covid-19, kegiatan pariwisata terus meningkat dan menyumbang pendapatan devisa tertinggi dari keseluruhan sektor jasa, dan pemerintah telah menetapkan pengembangan sepuluh destinasi pariwisata prioritas termasuk di dalamnya Nusa Tenggara Barat.


Untuk diketahui, kerja sama bilateral pemerintah Indonesia – Jerman di sektor pariwisata berkelanjutan akan terbina selama sepuluh tahun di 2021 mendatang. 


Beberapa capaian utama yang telah dikontribusikan antara lain: 


1) Pendekatan yang digunakan dalam memilih sektor atau komoditas unggulan untuk pengembangan ekonomi lokal dan daerah, antara lain melalui pendekatan rantai nilai (value chain approach).


2) Adopsi standar global (Global Sustainable Tourism Council) untuk pelaksanaan pembangunan pariwisata berkelanjutan nasional dan menjadi Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.


3) Pedoman Desa Wisata Hijau yang disusun dengan kolaborasi strategis dengan 5 kementerian terkait dan 1 sektor swasta.


4) Lebih dari 300 orang menerima manfaat dari pekerjaan baru yang dibarengi dengan kondisi kerja yang lebih baik serta perbaikan pendapatan.


5) Lebih dari 1.700 orang menerima pelatihan yang inovatif untuk meningkatkan peluang kerja, termasuk di dalamnya, pemberdayaan lebih dari 5.000 masyarakat dan/atau pemilik usaha kopi lokal di kegiatan pelatihan e-learning barista. 


Keterampilan yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan ini akan sangat membantu masyarakat untuk bertahan dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang sangat menghantam sektor pariwisata. 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pesona Bilebante dan Sembalun Dipromosikan dalam ISED Dialogue Forum 2020

Trending Now

Iklan

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, 

pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online