Iklan BNS

Pokdarwis Temukan Serpihan Kapal Laut Diduga Peninggalan Belanda

Rosyidin
Minggu, Juli 17, 2022 | 20.49 WIB

Warga melihat kemunculan serpihan Kapal Laut yang diduga peninggalan Belanda (photo/Rosyidin)

MANDALIKAPOST.com--Jebolnya tanggul tambang galian pasir besi di pantai Dedalpak desa Pohgading, Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur.  Memunculkan serpihan Kapal Laut yang diduga sisa-sisa peninggalan Belanda ratusan tahun yang lalu.

Hal itu menjadi perhatian bagi anggota Pokdarwis Pondok Kerakat desa setempat, melakukan koordinasi bersama pemerintah dan intansi terkait untuk memastikan serpihan kayu yang diduga Kapal Laut peninggalan Belanda.

"Kita sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan intansi terkait, untuk memastikan serpihan kayu Kapal itu", kata Asri, Anggota Pokdarwis saat dikonfirmasi melalui via telpon. Minggu (17/7).

Jebolnya tanggul dan penemuan serpihan kayu Kapal tesebut pada hari Kamis 14 Juli 2022 oleh warga setmpat.

"Alhamdulillah, kemarin sudah dipasang garis Police Line di lokasi oleh Kapolsek Pringgabaya, Supaya masyarakat tidak mendekat", katanya.

Menurut informasi yang diterima oleh Asri dari para orang tua dan tokoh masyarakat setmpat. Kemungkinan kapal tersebut peninggalan Belanda, dan atau kapal Cina membawa harta karun yang tenggelam di wilayah itu.

"Menurut cerita dari orang tua kami, ada dua kemungkinan bongkahan kapal itu. Yakni, peninggalan  Belanda atau kapal Cina yang tenggelam pada zaman itu. Cerita ini, diceritakan oleh nenek moyang kami turun temurun", ucap Asri.

Dijelaskan, lokasi penemuan tersebut merupakan bekas labuhan Damar yang masuk pada kawasan Bangsal Poh-Gading di era tahun 1857 Masehi.

Selain kayu serpihan Kapal, beberapa benda juga menjadi temuan masyarakat seperti piring kuningan. "Lokasi itu bekas pelabuhan dagang dan pangkalan militer. Ini menurut reprensi dari teman kita Gegen", Sebutnya.

Bahkan kata Asri lebih lanjut, sejak munculnya bongkahan kayu tersebut, menjadi obyek tontonan masyarakat karena penasaran.

Sebagian kayu, besi dan barang lainnya di dalam kapal dijarah oleh masyarakat. Untuk mendapatkan kayu, masyarakat  menggunakan mesin pemotong sebagai upaya penjarahan.

Untuk diketahui, katanya lebih lanjut empat bulan yang lalu warga setmpat  juga menemukan satu rongsokan kapal laut ditempat yang sama. Namun sayang kayu dan benda lainnya habis dijarah oleh masyarakat.

Hal itulah yang dikhawatirkan dan tidak diinginkan oleh Asri. Menurutnya rongsokan kapal tersebut bisa dijadikan situs sejarah dan cakar budaya daerah setempat.

"Apa yang diceritakan oleh kakek buyut kita selama ini benar adanya. Juga, ini sebagai langkah awal pemerintah dan ahli arkeolog untuk meneliti keberadaan rongsokan kapal itu", jelas Asri.

Ia pun meyakini, masih banyak benda-benda peninggalan dalam kapal tertimbun pasir. Karena lokasinya merupakan bangsal atau pelabuhan perdagangan di era Belanda menguasai  Indonesia.

"Areal temuannya kan, masuk kawasan penambangan pasir besi, saat ini menjadi  kolam pengerukan. Namun karena tanggul atau pembatasnya jebol dihantam ombak, sehingga airnya surut itulah yang memunculkan kayu berbentuk moncong kapal laut", tutur Asri.

Senada yang disampaikan oleh salah satu tokoh masyarakat setempat, Satriawan bahwa dirinya pernah diceritakan oleh almarhum neneknya. Ada beberpa kapal ratusan tahun yang lalu tenggelam di lokasi tersebut.

"Almarhum nenek saya pernah menceritakan kami soal kapal laut yang tenggelam disana, nenek saya pun dapat cerita dari neneknya. Meski demikian, kami tidak berani memastikan kebenaran ceritanya", ujar Satriawan saat dikonfirmasi.

Hematnya, dari cerita turun temurun Satriawan menyimpulkan tentang kapal laut yang tenggelam pada masa itu yakni. Kapal Laut pengangkut garam, Kapal dapur Cina dan atau Kapal Militer.

"Kalu kita liat dari peta Belanda tahun 1857-1879. Artinya, lokasi penemuan itu kan menjadi sentral pedagang dan militer. Terbukti dengan adanya bekas nama  bangsal Poh-Gading", pungkasnya.

Adapun upaya yang dilakukan oleh tokoh masyarakat dan anggota Pokdarwis setempat. Pihaknya bergantian menjaga lokasi itu, bagi masyarakat yang ingin menjarah kapal tersebut tidak berani.

"Sementara ini, Anggota Pokdarwis stanbay secara bergantian menjaga tempat itu untuk sementara waktu. Sambil menunggu penelitian dari pemerintah dan pihak terkait, untuk mengungkap kebenaran cerita dari nenek moyang kita", kata Satriawan.

Satriawan bersama tokoh masyarakat lainya berharap, rongsokan kapal tersebut menjadi atensi pemerintah dan instansi terkait untuk segera melakukan penelitian dan mengangkat rongsokan kapal.

"Kita sudah melaporkan penuman itu ke pemerintah, termasuk ke ahli arkeolog. Tanggapannya akan segera melakukan penelitian", ucapnya.

"Rongsokan kapal itu kita mau angakat, dan jadikan sebagai cagar budaya", tutup Satriawan.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pokdarwis Temukan Serpihan Kapal Laut Diduga Peninggalan Belanda

Trending Now

Iklan