Iklan BNS

Gede Gunanta : Lombok jangan Kehilangan Mutiaranya !!

MandalikaPost.com
Jumat, Agustus 05, 2022 | 17.17 WIB
Gede Gunanta, A.Pi., SH.

MANDALIKAPOST.com - Owner Hotel Bidari Mataram, Gede Gunanta, A.Pi., SH., didaulat menjadi senior consultant di perusahaan Mutiara berbasis di Andaman Island, India.


Bukan tanpa alasan, Gede Gunanta (56) dipilih karena ia merupakan satu dari sangat sedikit ahli breeding kerang mutiara (pinctada maxima) di daerah ini, bahkan di Indonesia.


Menjadi ahli breeding Kerang Mutiara, pencapaian Gede Gunanta secara otodidak bisa menjadi inspirasi generasi muda. Khususnya di sektor kepariwisataan daerah Nusa Tenggara Barat (NTB).


"Lombok, jangan sampai kehilangan mutiara - nya," kata Gede Gunanta, saat dijumpai Mandalika Post, Jumat 5 Agustus 2022 di Mataram.


Mutiara memang menjadi ikon wisata Lombok, NTB sejak dahulu. Kualitas mutiara jenis South Sea Pearl produksi Lombok berkelas internasional.


Sayangnya, ikon estetik bernilai tinggi ini, belakangan mulai ditinggalkan. Padahal, jika dikembangkan, proses budidaya hingga produksi kerajinan mutiara Lombok, bisa menjadi sebuah destinasi minat khusus yang bisa menjadi magnet bagi wisatawan.


BACA JUGA : Destinasi Eduwisata "Lombok Pearl", Upaya Mengembalikan Kejayaan Mutiara Lombok 


Tiga tahun lalu, melalui assosiasi Insan Pariwisata Indonesia (IPI) Provinsi NTB, Gede Gunanta pernah menawarkan gagasan untuk membangun sebuah kawasan destinasi wisata edukasi "Lombok Pearl" di kawasan The Mandalika yang dikelola ITDC. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan kejayaan Mutiara Lombok yang dulu sempat kuat menjadi ikon pariwisata NTB.


Menurut Gunanta, di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Mutiara juga ditetapkan sebagai ikon pariwisata Lombok, yang ditandai dengan event Internasional Pearls Auction dan Ajang Pemilihan Ratu Mutiara pada rentang tahun 2009-2012 silam.


Namun, nasib Mutiara yang sempat menjadi andalan penghasil devisa NTB, kini semakin redup dan lemah, karena tidak didukung oleh adanya kualitas mutiara terbaik. Selain itu kurangnya promosi, inovasi dan kreatifitas dalam hal pemasaran juga memperburuk kondisi tersebut.


"Dulu wisatawan kalau ke Lombok pasti berpikir beli Mutiara di Lombok. Tapi sekarang ikon ini seperti hilang," katanya.


Gede Gunanta menjelaskan, konsep Destinasi Wisata Edukasi "Lombok Pearl" ialah sebuah kawasan yang akan memadukan destinasi wisata pantai dengan budidaya mutiara laut selatan yang lengkap dari proses pembibitan hingga terpajang di galery pameran.


Menurutnya, kawasan ini sangat ideal jika dibangun di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika di Lombok Tengah. Sebab, dengan keberadaan Destinasi Wisata Edukasi "Lombok Pearl" ini, akan lebih mendorong Lombok sebagai destinasi wisata dunia.


Secara teknis, papar Gede Gunanta, kawasan hanya membutuhkan lahan sekitar 5 are yang akan digunakan untuk membangun laboratorium, galery, dan restauran. Selain itu akses pantai dan laut untuk keperluan budidaya mutiara.


Nantinya, para wisatawan yang berkunjung ke kawasan The Mandalika, dapat merasakan dan berinteraksi langsung tentang bagaimana proses budidaya kerang mutiara, proses penyuntikan nukleus mutiara, dan juga bagaimana memanen mutiara laut selatan.


Mereka juga bisa melihat pameran produk mutiara di galery yang tersedia, ditambah bisa menikmati hidangan di restauran dengan menu khusus kerang laut.


"Destinasi wisata edukasi Lombok Pearl ini pasti akan mengembalikan kejayaan Mutiara kita yang kini redup," katanya.


Toh, gagasan Gunanta ibarat angin lalu. Pemprov NTB melalui Dinas Pariwisata dan Ekraf, juga pihak ITDC selaku pengelola kawasan Mandalika, belum melirik gagasan brilian itu, hingga saat ini.


Tiga tahun berlalu. Kini, sebuah perusahaan Mutiara asal India justru mendahului. Mereka bakal membuat produksi mutiara berkelas di perairan Pulau Andaman. Dan, Gede Gunanta direktrut sebagai salah satu tenaga ahlinya.


"Saya sudah dihubungi dan diminta menjadi tenaga ahli di sana. Sebuah perusahaan Mutiara asal India yang berbasis di Andaman Island," ujarnya.


Jatuh Cinta ke Lombok karena Mutiara


Soal Mutiara, Gede Gunanta bisa dibilang profesornya. Dalam budidaya mutiara laut, proses breeding atau kawin kerang mutiara (pinctada maxima) sangat menentukan hasil dan kualitas mutiara. Gunanta adalah satu dari hanya sedikit ahli yang paham tentang proses breeding ini.


Saat ini Gede Gunanta aktif sebagai konsultan Kekerangan (sea shell & oysters) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Gunanta juga menjadi salah satu anggota Tim ahli penyusun kurikulum untuk mata pelajaran Kekerangan SMK- DIKMENJUR Kementriann Pendidikan di tahun 2000-an.


Pria kelahiran Karangasem, Bali, 56 tahun silam ini putra dari pasangan yang sangat sederhana. Masa SD hingga SMP dihabiskannya di Bali. Berkat keuletan dan kecerdasan akademiknya, lepas SMP Gede Gunanta masuk SMA di Bogor, dengan beasiswa penuh Pemda Bali.


Lepas SMA, Gunanta berhasil masuk ke Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, jurusan Budidaya Perikanan.


Gede Gunanta tercatat sebagai lulusan terbaik untuk AquaKultur. Saat itu penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Pertanian dan Perikanan Syarifudin Baarsah.


Berbekal keilmuannya, Gede Gunanta sempat bekerja di sebuah perusahaan perikanan sambil menjadi dosen di Jakarta. Sayap perusahaan juga mengembangkan budidaya kerang Mutiara di perairan Alor dan Lembata, NTT.


Hingga pada tahun 2000-an, ia mencoba membuka budidaya mutiara sendiri, bekerjasama dengan support sebuah perusahaan asal Jepang. Lokasinya di Sumbawa dan Lombok Timur.


"Saat itu saya berusaha untuk budidaya mutiara laut, dan juga saya menjadi konsultan untuk breeding di beberapa perusahaan asing seperti Jepang dan Australia. Saya ke Lombok, juga karena terpesona dengan Mutiaranya," kata Gunanta.


Menurutnya, era 2000-an bisnis pariwisata di Lombok, NTB sudah nampak bakal bergeliat. Meski destinasi yang mampu dijual hanya Senggigi dan tiga Gili.


Sambil menjalankan bisnis Mutiaranya di sejumlah lokasi termasuk di Tual, Maluku Tenggara, Gunanta mulai membangun akomodasi penginapan di Mataram, NTB.


"Karena kondisi global dan pasar mutiara anjlok, maka pada 2006 lahan yang rencana untuk perluasan rumah tinggal di Mataram,  kami bangun untuk penginapan dimulai dengan 9 kamar. Ini awalnya berdiri Hotel Bidari ini," katanya.


Feeling Gunanta tepat. Sesaat setelah akomodasi terbangun di Mataram, harga mutiara terjun bebas.


Panen raya dengan hasil kisaran 400 Kg kutiara, dimana Gunanta memiliki 50% saham di perusahaan, gagal total. Harga Mutiara terjun bebas dari semula kisaran 10-20 USD ke angka 30-35 ribu rupiah/ gram.


"Beruntung (saat itu) hotel mulai beroperasi. Perusahaan mutiara CV Kinnan Indah Lestari dengan sekitar 120-an orang tenaga kerja di 3 lokasi di Tual tidak bisa bertahan. Bisnis kami lanjutkan ke perhotelan, masih di sektor pariwisata juga," katanya.


Toh, bagi Gede Gunanta tiap kisah hidup adalah pengalaman berharga. Pun ketika menerima kegagalan. Meski cenderung shuttle dengan Hotel Bidari, mimpi Gunanta untuk mengembalikan kejayaan Mutiara Lombok masih tersisa.


Konsep dan gagasannya tentang "Lombok Pearl" sebagai destinasi wisata edukasi dengan ikon mutiara Lombok, menurutnya, akan terus didorong. 


Ia berharap ITDC sebagai pengelola kawasan The Mandalika, dan juga pemerintah daerah, Provinsi NTB dan Pemda Lombok Tengah, bisa mempertimbangkan gagasan.


"Lombok jangan sampai kehilangan Mutiara-nya. Dan Lombok Pearl sebagai destinasi wisata edukasi, saya rasa akan sangat tepat untuk mengembalikan kejayaan mutiara Lombok secara berkesinambungan ke depan," ujarnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gede Gunanta : Lombok jangan Kehilangan Mutiaranya !!

Trending Now

Iklan