![]() |
| Sembako: Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin saat ditemui awak media di Pendopo, (Foto: Rosyidin/MP). |
Langkah ini diambil tidak hanya sebagai bantuan sosial, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, optimis bahwa intervensi ini akan memberikan dampak langsung terhadap pengendalian harga di pasar.
"Kita akan berikan lagi sembako untuk masyarakat miskin. Pembagian sembako ini nanti pasti akan berpengaruh terhadap inflasi setelah kita bagi," terang Haerul Warisin saat ditemui di Selong, Rabu (4/3/2026).
Meskipun program ini tetap berjalan, terdapat penyesuaian dari sisi fiskal. Total anggaran tahun ini mengalami penurunan sebesar Rp10 miliar jika dibandingkan dengan alokasi tahun 2025 yang mencapai Rp40 miliar. Penurunan ini merupakan dampak dari kebijakan efisiensi anggaran yang diberlakukan oleh pemerintah pusat.
Kondisi tersebut memaksa pemerintah daerah untuk memutar otak agar bantuan tetap tepat sasaran dan merata. Strategi yang diambil adalah dengan melakukan penyesuaian volume isi paket, khususnya pada komoditas beras.
"Saya minta supaya yang menerima lebih banyak, iya cukup berasnya saja yang dikurangi dari jumlah sebelumnya. Misalnya berasnya hanya 5 kilogram kemudian ada gula, ada minyak dan sebagainya," jelas Bupati.
Jika pada tahun sebelumnya masyarakat menerima 10 kilogram beras, kali ini paket dikurangi menjadi 5 kilogram. Namun, pengurangan volume ini dilakukan demi memperluas jangkauan penerima manfaat.
Dengan total dana Rp30 miliar yang bersumber dari APBD Lombok Timur, pemerintah menargetkan bantuan ini dapat menjangkau sedikitnya 198 ribu masyarakat miskin. Fokus utama penyaluran adalah warga yang masuk dalam kategori kesejahteraan desil satu hingga desil dua.
Diharapkan, dengan adanya paket sembako yang berisi beras, gula, dan minyak goreng ini, beban dapur masyarakat prasejahtera selama Ramadan dapat terbantu, sekaligus menekan lonjakan permintaan pasar yang biasanya memicu kenaikan harga.

