Dosen UM Kembangkan Briket Dari Sampah Organik

Rosyidin
Minggu, Mei 14, 2023 | 18.14 WIB Last Updated 2023-05-14T10:17:18Z

Kurangi penggunaan bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca, Dosen UM ubahsampah daun dari lingkungan kampus menjadi briket yang bernilai. (Foto: Istimewa/MP).


 MANDALIKAPOST.com – Briket adalah bahan bakar padat sebagai sumber energi yang ramah lingkungan. Yang bisa digunakan  sebagai energi alternatif

pengganti minyak bumi dan energi lain berasal dari dari fosil.


Salah satu limbah yang cukup potensial untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif adalah sampah organik. Selain limbah pertanian seperti sekam padi, jerami, ampas tebu,

batang dan tonkol jagung serta limbah-limbah pertanian atau perkebunan lainnya.


Dari sinilah Guru Besar Geografi Universitas Negeri Malang (UM), Profesor Dr. Sumarmi M,Pd mengubah sampah organik menjadi bahan bakar briket.


Hal itu, guna mendorong masyarakat di lingkungan kampus untuk tidak hanya pedulilingkungan. Namun bisa  memanfaatkan sampah, khususnya sampah daun menjadi kreasi yang bermanfaat, salah satunya dengan pembuatan briket.


“Dengan konsep, Green Campus salah satu upaya kita mendorong mahasiswa untuk Green Entrepreneurship,” jelas Prof. Sumarmi, dalam rilis yang diterima media ini, Minggu (14/5).


“Sampah daun ternyata bisa diolah menjadi briket yang bernilai ekonomis,” ujarnya.


Pengelolaan sampah daun menjadi briket merupakan salah satu cara untuk, mengurangi jumlah sampah organik yang pada akhirnya akan terdegradasi dan menjadi sumber emisigas rumah kaca.


Menurut Guru Besar UM ini, briket sebagai bahan bakar padat yang terbuat dari bahan organik seperti smapah daun dan yang lainnya.


Adapun proses pembuatannya, lanjut Dosen Geogerafi UM dari sampah daun dengan cara pengeringan dan pemadatan sampah daun yang telah dikumpulkan. Setelah itu, sampah daun dihancurkan menjadi ukuran yang lebih kecil dan dicampur dengan arang bathok kelapa yang dihaluskan.


Batok kelapa yang selama ini berupa limbah yang ada di sekitar masyarakat dan di pasar-pasar tradisional, bisa menjadi bahan perekat briket.


“Kemudian kita diberi bahan pengikat berupa lem yang terbuat dari tepung tapioka. Lalu campuran itu kita padatkan, kreumdian dibentuk menjadi briket menggunakan mesin pemadat briket,” terangnya.


Pembuatan briket tersebut dari bahan organik, campurannya bisa divariasikan. Mulai dari menambahkan bubuk abu sisa pembakaran, tatal (bekas gergajian), pembakarantempurung kelapa, maupun daun kering yang dihaluskan dan seduhan tepung tapioka.


“Berdasarkan hasil penelitian, bahan campuran yang memiliki kemampuan daya nyala yang tinggi itu menggunakan campuran tempurung kelapa," terang Sumarmi.


Briket dari sampah daun katanya lebih lanjut, dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti kayu atau batubara dalam industri dan rumah tangga.


“Penggunaan briket ini dapat membantu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan,” kata Sumarmi .


Pengelolaan sampah daun menjadi briket merupakan salah satu alternatif yang baik dalam mengurangi jumlah sampah yang ada khususnya di lingkungan Universitas NegeriMalang dan di lingkungan masyarakat pada umumnya dengan konsep. “Green Campus” guna mendorong mahasiswa untuk green entrepreneurship.


Selain itu, rogram ini sambungnya jelas menjadi inspirasi untuk perguruan tinggi bahkan instansi yang lain secara umum.


"Sesuai dengan visi UM menjadi kampus sehat yang mencerdaskan, sehingga kami bertujuan mengurasi sampah. Selain itu  juga mendidikorang-orang untuk cinta kepada lingkungan dan mampu berwirausaha," tutup Guru Besar Geografi Universitas Negeri Malang tersebut.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dosen UM Kembangkan Briket Dari Sampah Organik

Trending Now