![]() |
| Kungker: Menteri Pendidikan Dasar Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu'ti M.Ed saat memberikan maklum kepada warga Muhammadiyah Lombok Timur, (Foto: Rosyidin/MP). |
Acara monumental ini dihadiri langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar Menengah (Mendikdasmen) RI sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) NTB Dr. TGH. Falahuddin, Rektor ITKes Muhammadiyah Selong Dr. H. Moh. Juhad, M.AP., Ketua PDM Lombok Timur Roma Hidayat, S.T., Sekretaris Daerah Lombok Timur Dr. H. Muhammad Juaini Taofik, serta Direktur Pondok Pesantren Boarding School Selong,TGH. M. Arhandika Rahman, Lc.
Dalam amanatnya, Prof. Abdul Mu’ti menekankan bahwa eksistensi amal usaha Muhammadiyah, khususnya di bidang pendidikan, tidak boleh dikelola secara amatir. Institusi pendidikan Muhammadiyah harus bertransformasi menjadi pusat keunggulan (center of excellence) yang mencerminkan modernitas dan spiritualitas yang kuat.
"Berbagai pintu dan jalan kebaikan itu kita buka, dan Muhammadiyah membukanya lewat jalur pendidikan, kesehatan, santunan, hingga ekonomi. Namun, amal yang banyak itu harus excellent, harus ahsanul amala. Tidak boleh kita membuat amal usaha itu asal jadi, asal-asalan, atau kaleng-kaleng," ujar Prof. Abdul Mu'ti di hadapan para tokoh dan civitas akademika.
Ia menambahkan bahwa estetika dan kemegahan infrastruktur kampus memiliki korelasi psikologis terhadap etos belajar mahasiswanya.
"Kita bangun amal usaha ini sebagai aktualisasi dari pikiran yang maju dan spirit yang kuat untuk menjadi yang terbaik. Jadi, kalau gedungnya megah, orang akan semangat. Tapi kalau gedungnya megap-megap, ya orang akhirnya merasa pengap," selorohnya yang disambut tawa hadirin.
Sebagai akademisi sekaligus tokoh ulama, Prof. Mu’ti juga mengingatkan pentingnya watak tajdid (pembaharuan) yang menjadi DNA gerakan Muhammadiyah. Ia mengajak perguruan tinggi untuk menghindari tragedy of the common sebuah kondisi di mana lembaga pendidikan bertumbangan karena hanya menjadi pengikut umum tanpa memiliki distingsi atau kekhususan.
"Islam mengajarkan kita untuk be the first, menjadi yang pertama. Jangan jadi makmum terus. Menjadi follower itu bagus, tetapi menjadi founder*l atau inovator itu jauh lebih bagus. Menjadi inovator artinya kita menerapkan prinsip ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Jangan anti-perubahan. Jadi, jangan sampai kita menjadi follower yang sekadar *copy-paste," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menguraikan tiga dimensi pembaharuan yang harus melekat pada gerak Muhammadiyah, yaitu pembaharuan pemikiran (tajdidul fikri), pembaharuan dalam pengamalan keagamaan (tajdidul fiqhi), serta pembaharuan dalam strategi gerakan (tajdidul harakah).
Ia mencontohkan bagaimana digitalisasi zakat melalui sistem auto-debet merupakan bentuk nyata dari fikih yang berkemajuan, yang memanfaatkan teknologi modern tanpa mereduksi nilai syariat.
Menyoroti tantangan lokal di Nusa Tenggara Barat, seperti fenomena pernikahan usia dini dan angka putus sekolah yang kompleks, Prof. Mu’ti meminta Rektor ITKes Muhammadiyah Selong untuk melahirkan terobosan akademis yang membumi. Ia merefleksikan bagaimana KH. Ahmad Dahlan dahulu mengajarkan Surah Al-Ma'un, di mana agama tidak sekadar dihafal secara kognitif, melainkan diaktualisasikan dalam tindakan nyata menyelamatkan masyarakat dari kemiskinan dan kebodohan.
"Banyak lembaga pendidikan yang terjebak pada tren, misalnya fokus pada tahfidz. Itu bagus. Namun, kalau hanya hafal tanpa mengerti artinya dan tidak tahu cara mengamalkannya, lalu apa bedanya Muhammadiyah dengan yang lain? Pendidikan itu harus meaningful, harus bermakna dan berdampak secara sosial," tuturnya penuh kharisma.
Di akhir ceramah kebangsaannya yang bernuansa pengajian tersebut, Prof. Mu’ti mendorong ITKes Muhammadiyah Selong yang diakuinya sebagai satu-satunya kampus dengan nomenklatur teknologi sosial dan kesehatan di bawah naungan Muhammadiyah se-Indonesia untuk segera melakukan upgrade kelembagaan menjadi universitas.
Langkah ini dinilai selaras dengan target pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita keempat, yaitu mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul melalui jalur pendidikan.
Dengan diletakkannya batu pertama ini, komitmen kolaboratif antara birokrasi daerah, tokoh agama, dan akademisi diharapkan mampu mempercepat pembangunan fisik sekaligus memicu lompatan kualitas pendidikan di Lombok Timur.

