![]() |
| Ilustrasi: Gambar gerakan salto atau freestyle yang sangat berbahaya jika ditiru oleh anak-anak dan atau orang dewasa jika tidak proporsional, apa lagi bukan ahlinya, (Foto: Istimewa/MP). |
Tragedi ini dipicu oleh aksi nekat korban yang mencoba meniru gerakan salto atau freestyle (kepala dibawah, kaki diatas) berbahaya yang banyak ditemukan di konten media sosial.
Kematian Izanadi bukan sekadar berita duka, melainkan sebuah peringatan keras mengenai bahaya laten konten digital, urgensi penanganan medis segera, serta rapuhnya pengawasan anak di tengah fenomena orang tua yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, peristiwa bermula saat Izanadi mencoba melakukan aksi salto di rumahnya setelah menonton konten di internet. Gejala awal muncul tepat pada malam takbiran Idulfitri.
Korban mengeluh sakit kepala hebat disertai muntah-muntah. Namun, minimnya pemahaman membuat keluarga awalnya menganggap itu hanya penyakit biasa atau pengaruh non-medis, pada akhirnya dibawa ke pengobatan tradisional (tabib).
Siti Nurhaliza, kakak kandung korban, menceritakan penyesalannya saat menyadari bahwa keterlambatan penanganan medis menjadi faktor krusial.
"Dia mengeluh sakit kepala itu dari malam takbiran. Tengah malam muntah, bahkan dikasih minum pun muntah. Pikiran saya saat itu mungkin dia kena asam lambung karena perut kosong," ujar Siti saat ditemui di Lenek Baru, Senin (11/5).
Kondisi sempat terlihat membaik sebelum akhirnya memburuk drastis satu minggu kemudian. Setelah dilarikan ke RSUD Dr. R. Soedjono Selong dan dirujuk ke RSUD Provinsi NTB di Mataram, hasil diagnosis medis menunjukkan adanya pendarahan otak yang telah menyebar akibat benturan fisik, bukan karena hal mistis.
Tragedi ini menyingkap tabir masalah sosial di masyarakat, yakni kuatnya kepercayaan pada pengobatan tradisional dan fenomena "anak migran" yang kehilangan figur pengawas. Siti Nurhaliza menyayangkan sikap lingkungan yang sempat mengarahkan korban ke dukun atau ritual tradisional daripada ke rumah sakit.
"Saya geram karena dianggap kena guna-guna, sampai diajak ritual tradisional. Padahal secara medis dia butuh penanganan cepat. Saya berharap Dinas Kesehatan melakukan penyuluhan ke desa-desa, khususnya di desa orang tua adek saya itu. Supaya kalau ada apa-apa jangan ke tukang urut dulu, tapi ke medis," tegas Siti.
Di sisi lain, Kepala Desa Lenek Baru, Qamarudin, S.Pd, menyoroti lemahnya kontrol terhadap anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja ke luar negeri. Izanadi diketahui tinggal bersama kakek dan neneknya.
"Rata-rata ini yang orang tuanya dua-duanya di luar negeri, sehingga diasuh oleh nenek atau bibiknya. Memang tidak bisa optimal pendampingannya. Kami selalu sampaikan, janganlah sampai kedua orang tua pergi (ke luar negeri). Minimal salah satu tinggal untuk mengontrol anak," ungkap Qamarudin.
![]() |
| Duka: Siti Nurhaliza, kakak kandung korban, (Foto: Rosyidin/MP). |
Pihak kepolisian melalui Kapolsubsektor Lenek, IPDA Alam Prima Yogi, mengonfirmasi bahwa cedera leher dan kepala yang dialami korban merupakan dampak langsung dari upaya meniru atraksi profesional di platform seperti TikTok tanpa pengawasan.
"Dugaannya dia mengikuti adegan yang dilakukan oleh orang-orang berpengalaman. Inilah dampak kemajuan teknologi, apa yang ada di TikTok dan platform medsos lainnya ditonton anak-anak dan dikira menarik untuk dicontoh. Orang dewasa pun kalau tidak paham tidak akan bisa melakukannya, apalagi anak-anak," jelas IPDA Yogi.
IPDA Yogi menegaskan bahwa kepolisian telah melakukan langkah preventif ke sekolah-sekolah untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang. Ia meminta pihak sekolah dan orang tua lebih peka terhadap aktivitas digital anak.
Sebelum kondisinya menurun akibat infeksi pasca-operasi (hidrosefalus) dan meninggal dunia pada Minggu, 3 Mei 2026, Izanadi sempat meninggalkan pesan menyentuh melalui sebuah video pendek. Ia meminta teman-temannya untuk tidak mengikuti jejaknya.
Siti Nurhaliza, sang kakak, menutup ceritanya dengan harapan agar orang tua lebih ketat menjaga literasi digital anak-anak mereka.
"Pesan saya untuk teman-temannya, jangan bermain bahaya kayak salto-salto itu. Biar ini jadi pelajaran. Tontonan anak-anak harus dijaga, karena mereka bukan atlet dan tidak tahu risikonya," pungkasnya
Kini, Izanadi telah tiada. Namun, kisahnya tertinggal sebagai alarm bagi kita semua. Bahwa di balik layar gawai (HP) yang berkilau, terdapat risiko nyata yang bisa merenggut nyawa jika luput dari pengawasan dan literasi medis yang tepat.
Pelajaran Penting untuk Publik:
1. Peka Gejala: Muntah dan sakit kepala setelah terjatuh adalah tanda bahaya (red flag) cedera otak. Segera bawa ke RS, bukan tukang urut.
2. Filter Konten: Anak-anak belum memiliki kemampuan kognitif untuk membedakan atraksi profesional dengan permainan biasa.
3. Kehadiran Fisik: Pendampingan orang tua/wali sangat krusial dalam masa pertumbuhan anak, terutama di era digital.


