Fenomena Open BO Sasar Remaja, Kasus HIV di Selong Mulai Masuki Usia Sekolah

Rosyidin S
Rabu, Mei 06, 2026 | 17.23 WIB Last Updated 2026-05-06T09:23:32Z
AIDS: Kepala Puskesmas Selong, Baiq Lilik Setiawati, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com – Tren penyebaran virus HIV/AIDS di wilayah kerja Puskesmas Selong, Kabupaten Lombok Timur, kini memasuki fase yang mengkhawatirkan. Tidak lagi didominasi oleh kelompok tenaga kerja luar daerah, virus ini mulai menjangkiti kelompok usia produktif dan remaja akibat maraknya praktik pergaulan bebas melalui aplikasi daring (online).


Kepala Puskesmas Selong, Baiq Lilik Setiawati, mengungkapkan bahwa pada triwulan pertama tahun 2026, pihaknya telah mencatat adanya satu temuan kasus baru. Padahal, pihaknya berharap angka penularan bisa ditekan hingga nol di tahun ini.


"Harapan kita sebenarnya tahun ini nol, tapi ternyata triwulan satu ini sudah ada angka (kasus baru). Jadi target nol itu sudah pecah, karena tahun 2025 dua orang," ujar Baiq Lilik saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (6/4).


Berdasarkan data kumulatif, saat ini terdapat 16 orang penderita HIV yang berada dalam pembinaan Puskesmas Selong. Meski tidak semua penderita merupakan warga asli Selong, mereka secara rutin berkoordinasi dan berobat ke puskesmas tersebut karena merasa nyaman dengan pelayanan dan kerahasiaan yang terjaga.


Lilik menyoroti pergeseran pola penularan yang kini menyentuh usia sekolah. Jika dulu penularan identik dengan riwayat bekerja di luar kota, kini pola tersebut berganti melalui interaksi di dunia maya.


"Sekarang penyebarannya sudah mulai beranjak ke usia-usia muda. Informasi yang kita dapatkan dari penderita, pemicunya dari online. Jadi pemesanan-pemesanan itu lewat online," ungkapnya merujuk pada maraknya praktik prostitusi daring.


Ia menambahkan bahwa usia SMA saat ini sangat rentan karena gaya hidup yang cenderung liberal. Bahkan, indikasi awal penderita biasanya baru diketahui setelah mereka mengeluhkan gejala Infeksi Saluran Kemih (ISK).


Menanggapi fenomena ini, Puskesmas Selong memperkuat langkah preventif melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah. Edukasi diberikan secara spesifik agar siswa memahami batasan tubuh dan risiko dari perilaku seks bebas.


Selain HIV, pihak puskesmas juga mencatat tingginya angka penderita Sifilis (raja singa). Berbeda dengan HIV, penderita Sifilis masih memiliki peluang kesembuhan total jika menjalani pengobatan rutin.


Untuk menjangkau kelompok berisiko, Puskesmas Selong juga rutin menggelar pemeriksaan kesehatan di tempat umum.


"Kami punya program sekali sebulan pemeriksaan di taman kota Selong. Kami turun untuk menyasar itu (kelompok berisiko), termasuk pemeriksaan infeksi lainnya," tambah Lilik.


Terkait penanganan 16 orang yang masuk dalam daftar kumulatif, Baiq Lilik menegaskan bahwa pihaknya tidak melakukan karantina layaknya pasien COVID-19, melainkan melakukan pembinaan secara proaktif guna memutus rantai penularan.


"Penanganannya tidak ada karantina karena ini masalah privasi, tidak boleh dipublish. Alhamdulillah mereka proaktif, sehingga kita terus berikan edukasi agar tidak menyebarkan lagi ke orang lain. Kita juga minta mereka berterus terang kepada pasangan masing-masing," pungkasnya.


Pihak puskesmas mengimbau para orang tua untuk lebih memperketat pengawasan terhadap penggunaan perangkat digital anak-anak mereka guna menghindari terjerumus dalam pergaulan bebas berbasis aplikasi.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Fenomena Open BO Sasar Remaja, Kasus HIV di Selong Mulai Masuki Usia Sekolah

Trending Now