![]() |
| Audensi: Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin menerima audiensi Dinas Perindustribuan Provinsi NTB di ruang rapat Bupati, (Foto: Istimewa/MP). |
Hal tersebut menjadi poin utama dalam audiensi antara Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, bersama Dinas Perindustrian Provinsi NTB dan Perum Bulog di ruang rapat Bupati baru-baru ini.
Langkah strategis ini diambil untuk memastikan potensi lokal, seperti porang dan kelapa, tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat di Bumi Gora.
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Haerul Warisin menyoroti komoditas porang sebagai salah satu andalan ekonomi daerah. Menariknya, harga porang di Lombok Timur saat ini menunjukkan tren positif di angka Rp10.200 per kilogram, melampaui harga standar yang ditetapkan Bulog.
“Porang menjadi salah satu andalan daerah. Perawatannya relatif mudah karena tidak memerlukan pupuk khusus, dan waktu panennya fleksibel sesuai keinginan petani,” ujar Bupati Haerul.
Hilirisasi porang di Lombok Timur kini telah mencapai kapasitas produksi 50 hingga 60 ton per hari, mulai dari pengolahan umbi hingga menjadi tepung. Tak hanya porang, Bupati juga membuka pintu lebar bagi investor, khususnya untuk komoditas kelapa yang lahannya membentang luas di Lombok Timur.
Terkait penguatan ekonomi akar rumput, Pemkab Lombok Timur fokus pada tujuh desa berdaya, yakni Desa Tetebatu, Sakra, Pijot, Pringgabaya Utara, Sembalun Bumbung, Pesanggrahan, dan Lendang Nangka Utara. Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Lalu Wiranata, menjelaskan bahwa program ini adalah intervensi khusus untuk desa dengan kategori miskin ekstrem.
Menanggapi hal itu, Bupati meminta agar bantuan dilakukan secara presisi. Ia mengusulkan penggunaan kartu khusus untuk distribusi sembako agar lebih tepat sasaran. Di sisi lain, Perum Bulog melalui Wakil Pimpinan Wilayah NTB, Rizal, menegaskan komitmennya.
“Bulog siap mendukung berbagai program di Lombok Timur, termasuk penyediaan beras untuk program desa berdaya serta ketahanan pangan daerah melalui gerakan operasi pangan murah,” tegas Rizal.
Untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, Pemkab Lombok Timur mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai dan sayuran.
Tak main-main, pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,5 miliar untuk pembangunan greenhouse. Fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta produktivitas hasil pertanian lokal tanpa bergantung pada pasokan luar daerah.
Selain fokus pada sektor industri dan pangan, Bupati juga menerima 754 mahasiswa KKP Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang akan diterjunkan ke 58 desa di lima kecamatan. Bupati menaruh harapan besar agar para mahasiswa menjadi motor penggerak literasi digital di pedesaan.
“Mahasiswa diharapkan dapat memberikan literasi digital kepada masyarakat, termasuk membantu mengatasi kendala layanan seperti BPJS maupun sistem pembayaran pajak secara digital. Upaya ini penting untuk meningkatkan pelayanan publik sekaligus meminimalisasi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD)," pungkas Bupati.
Melalui sinergi antara hilirisasi industri, penguatan pangan oleh Bulog, dan dukungan literasi digital dari akademisi, Lombok Timur optimistis mampu menciptakan ekosistem ekonomi desa yang mandiri dan berdaya saing global.

