Cerita Wik-Wik : Empun, ART Pemuas Hasrat untuk Semua (PART 1)

MandalikaPost.com
Kamis, Oktober 26, 2023 | 13.31 WIB

Ilustrasi.

KISAH HIDUP - Perasaanku sudah nggak enak waktu mulai mandi. Seperti ada yang mengawasi aku. Dan benar saja, kang Darjo tiba-tiba masuk, membuatku sangat kaget sekali.


Aku sudah terlanjur melepas semua. Kehadiran kang Darjo tentu saja membuatku berusaha semampu mungkin meraih apa saja untuk menutupi.


Tapi semua terlambat. Dia lebih dulu mengambil semua pakeyanku yang tergantung di pintu. Aku pun tak bisa keluar karena kang Darjo berdiri di depan pintu dan menutupnya.


"Sekarang hanya ada kita berdua mpun. Ayolah tolongin aku sekali ini saja," kang Darjo menatapku dengan berbinar. Dia mengancam agar aku tak berteriak, dan mulai mendekatiku.


"Kang.., jangan kang. Tolong jangan," kataku. Percuma juga aku teriak saat itu. Rumah Kang Darjo di perkebunan yang jauh dari pemukiman lainnya. Dan rumah juga sepi.


Kak Sanah, sepupuku yang juga istri Kang Darjo sudah dibawa oleh paman dan bibi ke rumah sakit untuk bersalin. Bisa saja untuk waktu beberapa hari. Aku semakin takut.






Namaku Empun, 32 tahun. wanita dari desa pelosok kawasan perkebunan di ketinggian. Sudah enam bulan ini aku menumpang tinggal di rumah Kang Darjo dan kak Sanah.


Aku sedang kacau saat itu, sehabis bercerai dengan suamiku. Karena perkawinan kami yang sudah 8 tahun tapi tak juga kunjung dapat anak, suamiku memilih kawin lagi.


Padahal kami belum pernah memeriksakan, masalah kesehatan kami. Apakah aku atau suamiku yang bermasalah sehingga kami belum juga dikaruniai anak.


Sejak menikah delapan tahun lalu, tubuhku seiring waktu memang terus melar dan dibilang gendut. Mertuaku, akhirnya menuduh aku mandul karena kegemukanku.


Dengan alasan itu juga, mas Rahman suamiku tega kawin lagi. Tentu saja aku sakit hati dan memilih lebih baik bercerai saja dari suamiku itu. Toh, kami juga nggak punya anak.


Tapi sejak bercerai, ada saja masalah yang harus kuhadapi. Yang tadinya aku hanya ibu rumah tangga biasa yang mengandalkan uang dari suami. Kini harus mulai mandiri.


Waktu masih bersama mas Rahman, aku nggak terlalu pusing karena suamiku bekerja di puskesmas pembantu di Desa itu. Jadi untuk kebutuhan hidup tercukupilah.


Aku yatim piatu sejak kecil. Sehingga saat bercerai dan harus pergi dari rumah mas Rahman, aku akhirnya kebingungan. Saat itulah tak sengaja bertemu kang Darjo.


"Untuk sementara, kamu tinggal di rumah kami saja mpun. Sekalian nemenin kak Sanah mu yang mulai hamil besar. Biar ada yang bantu-bantu," kata Kang Darjo saat itu.


Kak Sanah juga senang menerima aku, karena dia anak satu-satunya dari paman dan bibiku. Waktu kecil kami juga sering bermain bersama. Aku merasa keluarga ini menyelamatkanku.


"Wes, kamu tinggal sini saja, kakakmu juga seneng ada yang nemani. Biar kamu nyaman juga disini," kata paman Karso, bik Narsih juga senang dengan kehadiranku.


Untuk ukuran di kampung, paman Karso termasuk berada. Punya sawah dan kebun yang cukup luas yang menopang kehidupan mereka selama ini. Juga menanggung kak Sanah.




Kak Sanah sendiri telat menikahnya. Dia baru saja dua tahun ini menikah dengan Kang Darjo, yang ini menjadi kepala mandor kebun di lahan pamanku. Kata paman, dari pada nggak kawin.


Awal tinggal di rumah pamanku, aku merasa bahagia dan nyaman. Malah aku merasa badanku makin melar saja di sana. Soalnya aku mulai bisa melupakan mas Rahman.


"Siapa bilang genduk mpun?, wong kamu ini seger kok, enak dipandang. Dari pada kak Sanah mu, malah kurus kering gitu," canda pamanku, saat kami sedang makan malam bersama.


Kak Sanah memang bertubuh kurus, sehingga penampilannya pun lebih cepat tua dibanding usia. Apalagi saat mulai hamil anak pertama ini. Kak Sanah sering sakit-sakitan.


Waktu aku pertama datang usia kandungan kak Sanah baru empat bulan. Dan selama menuju 9 bulan, semakin banyak pekerjaan rumah yang harus aku lakukan menggantkannya.


Aku mulai merasakan ada yang aneh dengan kang Darjo di saat usia kandungan kak Sanah masuk 8 bulan. Dia sering kali mencuri pandang padaku, dan aku tahu itu.


Kadang di saat aku sendiri di dapur, Kang Darjo mendekatiku dan sok akrab sikapnya seolah perhatian gitu. Tapi obrolannya selalu ngaco dan mengarah ke hal-hal begitu.


"Kamu ini udah bulanan cerai apa yo nggak kangen sama suamimu mpun?," dia memancingku. Dia juga menyalahkan mas Rahman yang menceraikan aku. 


Katanya, nggak mungkin aku yang mandul. Karena dilihat dari badanku yang segar, aku ini tergolong wanita yang subur banget. "Ibarat kebun, kamu ini lahan super mpun," rayunya.


Kang Darjo memang nggak setampan mas Rahman mantan suamiku. Tapi dia lebih tinggi dan lebih kekar badannya. Mungkin karena terbiasa kerja berat di kebun paman.


Aku sering merasa risih kalau sedang diajak ngobrol, karena matanya itu seperti jelalatan menatapku. "Kan kamu tembem mpun, ginal ginul, enak dipandang," katanya.


Cuma karena terbiasa ya aku anggap dia bercanda saja sebagai kakak ipar ke adiknya. Lagipula beberapa perkataan kang Darjo kurasa ada benarnya, terutama soal perceraianku itu.


Menemani masa kehamilan Kak Sanah dan memperhatikan pertumbuhannya setiap saat, membuat aku berpikir kelak aku juga akan menikah lagi dan hamil, biar bisa kutunjukan.


Kutunjukan ke orangtua mas Rahman kalau aku ini wanita normal dan sehat. Meski aku sedikit gendut, tapi aku nggak mandul. Aku seger dan enak dipandang, seperti kata Kang Darjo.


Setelah lima bulan berlalu, masa persalinan kak Sanah pun tiba. Pagi itu paman Karso, bik Narsih dan Kang Darjo mengantar ke rumah sakit yang letaknya di Kota, cukup jauh.


"Kamu nggak apa-apa ya jagain rumah mpun?. Nanti kan Pardi sama Giyem ke sini nemeni kamu," kata pamanku. Pardi dan Giyem adalah buruh tani yang bekerja pada paman.


"Iya paman, nggak apa-apa," jawabku. Mereka berangkat dengan mobil kijang tua punya paman. Aku pun menjaga rumah dan sedikit kecewa nggak bisa ikut menemani kak Sanah.




Sorenya aku memutuskan mandi lebih cepat, karena takut kalau kemalaman. Apalagi kebiasaanku kalau mandi pasti lama, karena aku senang sekali dengan air yang sejuk rasanya seger.


Perasaanku sudah nggak enak waktu mulai mandi. Seperti ada yang mengawasi aku. Dan benar saja, kang Darjo tiba-tiba masuk, membuatku sangat kaget sekali.


Aku sudah terlanjur melepas semua. Kehadiran kang Darjo tentu saja membuatku kaget dan berusaha semampu mungkin meraih apa saja untuk menutupi.


Tapi semua terlambat. Dia lebih dulu mengambil semua pakeyanku yang tergantung di pintu. Aku pun tak bisa keluar karena kang Darjo berdiri di depan pintu dan menutupnya.


"Sekarang hanya ada kita berdua mpun. Ayolah tolongin aku sekali ini saja," kang Darjo menatapku dengan mata berbinar. Dia memintaku agar tidak berteriak, dan mulai mendekatiku.


"Kang Darjo mau apa?.., jangan kang. Tolong jangan," kataku. Percuma juga aku berteriak saat itu. Karena rumah Kang Darjo di perkebunan yang jauh dari pemukiman lainnya. 


Aku sangat takut dan bergetar, apalagi Kang Darjo pun mulai melepas pakeyan dia. "Kang ih," aku berusaha menutup mata dengan tanganku. Kang Darjo menatapku dengan puas.


Sesekali menarik nafas melihat pemandangan di hadapannya yang membuat jiwa pria terbakar. Sementara aku dipertontonkan pemandangan yang hampir sama.


Dari sela jari tangan yang menutup mataku, aku masih bisa lihat sebuah kekuatan besar di hadapanku. Kerkasaan kekar yang pasti membuat wanita ingin merasakannya.


"Kang ih, udah. Mau ngapain? empun malu Kang," kataku memelas. Kang Darjo tak bergeming, tapi dia juga tak menyentuhku. Malah dia tersenyum dan tertawa kecil.


""Wes nggak usah takut gitu mpun. Aku cuma mau mandi bareng kamu kok," ujarnya. Aku tentu risih, tapi kupikir biarlah, kan cuma mandi bareng. Ketimbang dia berbuat macem-macem.


Lagipula aku sama sekali nggak bisa keluar dari situ, karena Kang Darso menghalangi di pintu. "Ih Kang Darjo ini, aneh. Tapi kan malu kang," kataku sambil berusaha menutupi.


"Udah santai aja, anggep aja kita mandi di kali. Kan hal yang biasa, nggak ngapa-ngapain juga," katanya. Dia langsung jebar-jebur mandi dengan senangnya.


Meski kami hanya mandi biasa dan sama sekali tidak bersentuhan. Tapi rasa aneh menjalar juga padaku. Seperti Kang Darso yang selalu melekatkan pandang padaku.


Aku pun sempat saja mencuri pandang ke arahnya. Pemandangan yang tak pernah kulihat, karena jauh sekali dengan mas Rahman mantan suamiku. Membuat aku sesak.


"Aku duluan mpun ya. Tak metik sayur dulu buat makan malam," kang Darjo pake handukku untuk mengeringkan badan, terus berpakeyan dan lebih dulu keluar.


Aku melanjutkan mandi dengan perasaan yang campur aduk saat itu. Merasa senang Kang Darjo nggak berbuat macam-macam. Tapi ada yang menggantung di pikiranku.


Malam itu aku masak sayur bayam dan lapapan terong di campur dadar telor. Sayur segar yang dipetik kang Darjo. Si Pardidan Giyem juga sudah datang dan kami makan bersama.


"Walah-walah, kamu ini mpun. Udah cantik pinter masak juga. Mantap lah," kata Kang Darjo. Si Pardi dan Giyem senyum-senyum sambil makan. Aku jadi malu saat itu.


"Ah kang Darjo, gombal," sahutku. Aku perhatikan Kang Darjo yang makan dengan lahapnya. Senang aku melihat lelaki yang makannya lahap begitu, apalagi masakan aku dipuji enak. 


Pikiranku masih tergelitik dengan kejadian sore tadi. Bagaimana Kang Darjo sudah melihat seutuhnya aku, seperti bayi yang baru lahir di hadapannya.


"Lho kamu kok malah ngelamun. Nih, Haak akk," Kang Darjo menyuapi aku, dan entah kenapa aku menerimanya dengan rasa bahagia. Aku merasa dimanjakan.


Kang Darjo cerita kalau dia sedang bahagia sekali, karena anak pertama mereka kata dokter laki-laki.Cuma kak Sanah harus dioperasi cesar menunggu dua hari lagi.


Jadi Kang Darjo pulang untuk mengambil keperluan dan baju ganti untuk kak Sanah, paman Karso dan Bik Narsih yang menunggu di rumah sakit. Akan dibawanya besok pagi.


Setelah makan, Pardi dan Giyem pamit pulang. Nggak jadi nginap karena Kang Darjo ternyata sudah pulang dan ada yang menemaniku jaga rumah. Tinggal kami berdua jadinya.


"Kamu nggak takut tidur sendirian mpun?," tanya Kang Darjo menggodaku, saat aku pamit mau tidur duluan. "Ih, emang Kang Darjo yang harus ada Kak Sanah baru bisa tidur?," kataku.




"Ya sudah. Tapi kalau butuh ditemani, jangan malu. Wong tadi juga nggak ngapa-ngapain tho," katanya sambil membakar rokok. Aku tersenyum dan meninggalkannya.


Entah kenapa aku merasa jadi sangat dekat sekali dengan Kang Darjo. Meski nampak kampungan, tapi dia lelaki yang pandai memanjakan istri. Pantas kak Sanah sangat bahagia.


Tapi bukan itu. Yang membayang sekarang hanyalah kejadian di kamar mandi itu. Kebugaran Kang Darjo membuat aku mulai menghayalkan kenyamanan itu.


Terus terang beberapa bulan bercerai adalah masa yang berat bagiku, karena tadinya terbiasa mendapatkan nafkah bathin dari mantan suamiku. Bagaimana pun aku membutuhkannya.


Aku jadi susah tidur memikirkannya. Bayangan Kang Darjo mulai menghantuiku. Entahlah, mungkin sikap kang Darjo sore tadi disengaja untuk menyiksa bathinku.


Kupikir pasti dia pun ingin sekali melakukannya bersamaku. Tapi nalarnya masih sehat, karena aku ini adalah adik sepupu kak Sanah, dan dia tak akan tega melukai hatinya.


Otakku mulai menyimpang dan menghayalkan seandainya sore tadi Kang Darjo lebih berani memaksaku. Oh, kenapa aku jadi ingin sekali mendapatkannya sekarang ini?.


"Huks.. huks," suara batuk Kang Darjo kudengar. Dia masih menonton televisi ditemani kopi dan rokok. Jarak kamarku dengan ruangan itu tak terlampau jauh. Aku berdebar.


Rasa inginku semakin tak wajar dan seperti tak bisa kubendung. "Kang Darjo.., sini Kang," kuberanikan diri memanggilnya dari pintu yang sedikit terbuka. 


Mata kang Darjo nampak berbinar, dia melangkah sambil membenahi sarungnya menuju ke kamarku. "Ada apa mpun?. Tuh kan tadi ditawarin nggak mau," katanya dengan senyum bangga.


"Ih kang Darjo. Sekarang Kang Darjo yang bantuin mpun ya? mau kang?," aku seperti sudah kehilangan nalarku malam itu. Desakan kebutuhanku ingin segera terpenuhi.


Tanpa basa-basi lagi Kang Darjo pun menggendongku ke kasur. Lalu mulai menuntunku untuk meraih apa yang aku butuhkan itu. Pujian-pujian kang Darjo seperti menambah semangatku.


"Kamu memang beda, mpun nggak pakau kasur pun pasti empuk," katanya.Aku memberikan yang terbaik buat kakak Iparku itu. Sejenak kami lupakan kak Sanah.


Sambil melakukannya padaku, kang Darjo mengaku dia juga sebenarnya sangat ingin denganku. Apalagi sejak kak Sanah mendekati melahirkan, dia nggak dapat jatah lagi.


Hal yang seharusnya sudah terjadi saat di kamar mandi, kami laksanakan dan rampungkan malam ini juga. Kang Darjo terus melakukannya sambil memuji keindahanku.


Aku semakin yakin selalu ada pesona tersendiri dari wanita gendut dan seger seperti ku bagi kaum adam. Sebaliknya, kekuatan yang kekar dari kang Darjo pasti membuai kaum hawa.


Dengan piawai Kang Darjo menggiring anganku hingga lupa daratan. Aku pun bahagia dibawanya, bahkan bisa memetik keindahan di puncak itu sampai tiga kali.


Hampir satu jam kami menempuh jalan itu. Kang Darjo adalah pria idaman yang membiarkan wanitanya lebih dulu mencapai pelabuhan yang dituju. Lalu dia pun menyusul berlabuh.


"Walah mpun. Kok sampai kejadian seh?," katanya, tapi tersenyum bahagia.


"Entahlah Kang, empun juga bingung," jawabku membalas senyumnya.


"Hmm ginal ginulmu itu mpun," ujarnya.


Kang Darjo menemaniku tidur sampai pagi, kemudian bergegas membawa keperluan bersalin kak Sanah ke rumah sakit. Aku mengantarnya sampai halaman.


"Kamu yang ati-ati jaga rumah. Ntar si Pardi dan Giyem yang nemanin ya mpun," katanya. "Iya kang," kusalami dan cium tangannya. Diusapnya kepalaku.


"Hmm, Kang Darjo," bathinku.


Aku tak tahu sebenarnya apa yang sedang aku alami sekarang ini. Tapi, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Apakah kisah ini akan berlanjut, atau kucukupkan sampai disini?. (BERSAMBUNG PART 2)




RUBRIK Kisah Hidup menuangkan kisah kehidupan yang diangkat dari cerita kisah nyata dan dikemas ulang dalam bentuk cerita romantis, cerita dewasa.


Kisah yang diangkat diambil dari Kisah Nyata, dan juga fiksi rekaan semata. Kesamaan nama, tempat, dan alur cerita bukanlah sebuah kesengajaan.


Simak Kisah Hidup lainnya di channel YouTube PUTRIE MANDALIKA.


https://www.youtube.com/@putriemandalika1277


Semoga setiap cerita bisa diambil hikmah dan manfaatnya. 


Punya cerita dan ingin berbagi? Kirim ke email : redaksimandalikapost@gmail.com






         






   


    

   





  



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cerita Wik-Wik : Empun, ART Pemuas Hasrat untuk Semua (PART 1)

Trending Now