Cerita Wik-Wik: Empun, ART Pemuas Hasrat untuk Semua (PART 2)

MandalikaPost.com
Jumat, Oktober 27, 2023 | 23.53 WIB

Ilustrasi.

KISAH HIDUP - Bayi kak Sanah sudah lahir dengan selamat dan sehat, tapi belum bisa pulang dari rumah sakit di Kota karena masih harus beberapa hari menunggu kak Sanah pulih.


"Anakku cowok mpun, wah ngganteng kayak aku," kata Kang Darjo bercerita dengan gembira. 


BACA JUGA  : Empun, ART Pemuas Hasrat untuk Semua (PART 1)


Sore itu Kang Darjo pulang membawa pakean kotor untuk diganti dgn yang baru.


Paman Karso dan Bik Narsih menunggui kak Sanah dan bayinya di rumah sakit. Kang Darjo juga sudah dua hari ini di RS, dan pulang untuk mengambil keperluan lainnya untuk dibawa.




Aku senang mendengar kabar itu, kak Sanah sudah punya baby.


"Selamat ya Kang, sudah jadi bapak sekarang," kataku sambil menyuguhkan kopi. Kami pun ngobrol sesaat.


Kang Darjo menanyakan apakah aku baik-baik saja selama menjaga rumah sendirian dua hari ini, dan ku bilang iya, kan ada Pardi dan Giyem yang tiap malam menemani.


Lalu dia bilang, apa nggak kangen sama dirinya?. Aku pun tersipu malu. "Cie, cie.. sini mpun, aku juga kangen banget," katanya menggodaku. Sambil beralih duduk disampingku.


"Mpphh, kang..," aku berusaha menghindar saat dia nyosor m3ncium bi3b1r ku. 


"Empun ngerasa bersalah kang, kita nggak boleh melakukan itu. Kasian kak Sanah," kataku.


"Tapi aku kang3n bang3t mpun. Kang en sama melonmu ini," kang Darjo tak menggubrisku, malah melanjutkan kegiatannya padaku. Kelihaiannya lebih cepat dari penolakanku.


Pakeyan dhsterku smpai berantakan, seolah menyajikan melon segarku untuk Kang Darjo. 


"Ouh, sdh Kangh," aku berkata cukup, tp tak kuasa menolak perlakuaannya itu.


Aku malah memb3lai kepala Kang Darjo yang sedang lahap menyantap melon segarku bergantian. "Sebentar aja mpun ya, nih kamu tolong sambil bawain tongkatku ya," katanya.




Seperti terhipnotis ucapannya, kuturuti keinginan, mem nyentuh dan memanjakan tongkat pajang Kang Darjo. Perlakukannya sudah mulai membuatku terlena.


Aku paham itu salah. Perbuatan kami tentu akan melukai hati kak Sanah kalau dia tahu. Tapi akal sehatku seperti nggak jalan, malah terbuai semakin jauh dituntun kang Darjo.


10 menitan berlalu, kang Darjo sudah berhasil menuntunku dalam pemanasan untuk bersiap melakukan pendakian yang sesungguhnya. "Kamu mendaki di atas ya mpun," pintanya.


Tangan kekar kang Darjo membantuku naik. Dia ingin aku mendaki di atas dan memberikan tongkat kokoh itu sebagai penopangku dari bawah. "Engh, kangh," bisikku saat itu.


Keahlian kang Darjo dalam menerobos pengunungan dan lembah sekejab saja sudah berhasil menemukan persembunyian kerang kenyal dengan tongkatnya itu.


Aku sudah pasrah, dan tak sabar menunggu Kang Darjo membenamkan tongkatnya di celah kerang yang kusajikan. "Eh mpun, bentar dulu, ada yang datang," kata Kang Darjo.


Persiapan kami yang sudah sangat matang untuk mulai pendakian pun terhenti. Si Pardi dan Giyem mengetuk pintu depan rumah, membuat kami kelimpungan.


Aku berlari ke belakang, dan Kang Darjo membukakan mereka pintu. "Walah, Kang Darjo sudah pulang toh?," kudengar suara Giyem menyapa kang Darjo. Di susul suara Pardi.


Aku lupa, kemarin memang aku yang minta mereka datan lebih sore, agar aku nggak kesepian. Karena aku pun nggak nyangka Kang Darjo bakalan pulang hari ini, oh may gout !!.


Setelah membenahi pakeyan aku pun menyapa mereka ke depan, sambil menyuguhkan teh hangat, seolah tak terjadi apa-apa antara aku dan Kang Darjo barusan.


Kang Darjo pun mengulangi cerita kabar bahagianya kepada Pardi dan Giyem.


"Wah mudah-mudahan nular Kang ya. Ini Giyem juga sudah mulai berisi sepertinya," kata Pardi.


Pardi dan Giyem memang pasangan baru. Mereka baru kawin setahunan, dan sepertinya Giyem memang sudah mulai ngidam. Aku pun mengucapkan selamat pada keduanya.


"Nah, mbak Empun juga harus buruan nyusul biar tambah banyak penduduknya kampung kita ini," Pardi seperti keceplosan. Apa dia nggak tahu aku ini janda?.


Kami pun ngobrol cukup lama. Sampai suara motor terdengar di depan rumah. Pak Carik yang baru saja menjenguk kak Sanah di rumah sakit, datang ke rumah dan memanggil kang Darjo.







Kata pak Carik, Kang Darjo harus segera kembali ke rumah sakit karena ada administrasi yang harus ditandatangani suami Kak Sanah itu. Juga ada resep obat yang ditebus.


"Nanti bareng sama saya aja Kang Darjo, saya juga mau kesana lagi mbawa surat pengantar desa," kata Pak Carik. Kang Darjo pun bergegas. Dia berkemas, lalu pergi bersama ke rumah sakit.


Ada rasa kecewa yang terasa saat Kang Darjo harus balik lagi ke rumah sakit sore itu. Aku merasa sangat kena tanggung alias kentang. Tapi aku juga bersyukur.


Sebab dengan kepergian Kang Darjo, kami nggak jadi melakukan pendakian terlarang itu. Meskipun persiapan dan pemanasan sudah dilakukan dengan baik sebelumnya.


Tapi malamnya, tetap saja hal itu membuat aku susah tidur. Selalu terbayang Kang Darjo. Seandainya Pardi dan Giyem tak terburu datang, pasti kami sudah bahagia.


Tengah malam aku haus dan ingin minum. Habis minum di dapur dan hendak kembali ke kamar, tak sengaja

aku mendengar suara Giyem seperti suara kepedesan.


Sudah hampir seminggu ini Pardi dan Giyem menemaniku jaga rumah. Mereka tidur di ruang depan dengan menggelar tikar tapi cukup tebal dan nyaman. Suara Giyem bikin penasaran.


Dengan mengendap ku lihat mereka dari sisi tembok pembatas kamar. Aku jadi berdebar, mereka ternyata sedang melakukan senam malam. Giyem berada di atas.


Aku terpaku melihat Giyem sangat bersemangat sekali dalam gerakan senamnya. Cukup lama pandanganku terfokus pada Giyem yang membelakangi ku.


Sementara disaat yang sama, tanpa kusadari mata Pardi memandangku yang sedang mengintai kegiatan mereka berdua itu. Aku jadi kaget saat pandangan kami bertemu.


Aku merasa seperti maling yang kepergok hansip. Pardi malah santai sedikit mengangguk dan tersenyum padaku. Dengan malu, aku pun kembali ke kamar.


Memantau perjalanan yang sedang dilakukan Pardi dan Giyem, membuat anganku mulai melayang kembali. Ingatanku pada Kang Darjo makin membuncah rasanya.


Saat berbaring di kamar, suara Giyem dan Pardi saling bersahutan dan makin keras terdengar. Giyem beberapa kali meminta Pardi mengecilkan volume, tapi Pardi makin kenceng.


"Iihh, jangan keras-keras mas Pardi. Nggak enak didengar mbak Empun," ujar Giyem. "Udah nggak apa-apa yem, mbak Empun juga lagi mimpi indah," jawab Pardi. Suara mereka makin menjadi.


Setiap suara mereka bersahutan semakin menyiksaku di kamar. Aku ingin sekali mendaki seperti Giyem, ingin sekali bersuara seperti kepedesan. Aku terbuai sendirian.


Ku tarik selimutku, kututupin kupingku dengan bantal, mencoba tidur saja dari pada tersiksa. Sampai akhirnya suara Pardi dan Giyem tak terdengar lagi, diganti suara jangkrik malam.


Kupikir Giyem pasti sudah terlelap kelelahan setelah senam malam dan melakukan pendakian bersama Pardi. Keindahan yang sore tadi hampir saja kuraih bersama Kang Darjo.




Aku tersentak saat merasakan ada yang menjalar di betisku. Di balik selimut, seperti m3mbelai lembut dan pelan sekali. Mataku tetap kupejam seolah tertidur lelap.


Semakin kubiarkan, us4pan itu terus naik ke 4tas di balik selimutku. "Masak Pardi berani senekat ini?," bathinku. Tapi siapa lagi?.Hanya dia yang ada, karena Giyem nggak mungkin lah.


"Oh, t3mbem b4ng 3t mbak Empunh," suara Pardi ku dengar lirih. Dia sudah menemukan gundukan lembah sejuk itu. Angin suaranya kurasakan di permukaan lembah rahasiaku.


Setengah badan Pardi sepertinya sudah naik ke kasur. Menelusup di balik selimutku. Dia seperti terpukau melihat sajian kerang lembut di hadapannya.


"Engh..," aku bergerak dikit. Pardi yang mengira aku masih tidur semakin berani mencicipi kerang yang kusajikan. Bumbu kuah yang lezat mulai dij1 latin, sesekali diseruputnya.


Anganku kembali melayang. Perlahan tapi pasti, Pardi mulai menggiringku untuk merasakan kelezatan kerangku. Aku merasa menjadi Giyem saat ini, aku ingin juga kepedesan.


Kejadian bersama Kang Darjo membuatku merasa ingin mengulangi dan terus mengulangi lagi. Pardi pun akhirnya bisa memanfaatkan kesempatan itu bersamaku.


Kerangku sepertinya sudah sangat terbuka dan matang. Siap menunggu stik kayu yang menusuk dan menikmati kelezatannya yang hangat. Aku benar-benar lapar.


Ku raih Pardi di balik selimut. Dia harus bertanggung jawab karena sudah membawaku cukup jauh. "Eh, oh.. mbak Empun, maap," katanya lirih, takut terdengar Giyem.


"Kok bisa Pardi? kamu n4kal sekali?," bisikku. Pardi sudah berada di atas meja, stik miliknya sudah siap mencomot kerang hangat itu. Pemuda 25 tahun itu pucat.


"Kenapa di? kamu suka k3rangnya mbak empun?," tanyaku lirih. "Iy2 suk4k mbak, eh, maap mbak," katanya. "Ya udah, boleh nyicip, tapi dikit aja yah," aku sudah tak tahan lagi.


Dari pucat, Pardi berubah bahagia. Dengan stik sumpitnya, dia pun segera menikmati kerang sajianku dengan lahap. Aku menyajikan yang paling sedap untuknya.


Kata Pardi, belum pernah dia menikmati kerang yang kenyal dan tebal seperti sajian yang kuberikan. Apalagi di sela menyantap kerang, kusuguhkan juga pepaya untukku.


"Sajian kerang dan pepaya mbak Empun memang sempurna mbak," katanya lirik, sambil terus menikmati di atas meja. Aku semakin terbawa dan ikut menikmati irama Pardi.




Aku semakin bahagia dan ingin lebih, saat Pardi membiarkanku seperti Giyem. Kini aku yang mulai mendaki, naik dan melakukan senam di atas meja. Rasa inginku tak terbendung.


Malam itu, Pardi mengajakku terus mendaki lebih tinggi. Dia sepertinya paham kalau aku sangat ingin sampai ke puncak yang indah itu. Dia terus mendorongku dari bawah.


"Ouhh, engghh," aku sampai ke puncak yang indah. Pardi segera menyusulku dngan napas yang ngos-ngosan. "Indah dan nyaman sekali mbak empun," ujarnya di sampingku.


Sebelum Giyem terbangun, Pardi pun bergegas ke ruang depan. Lalu tidur di sampingi Giyem setelah puas menikmati kelezatan sajian kerangku tadi. Aku menarik nafas dalam. (BERSAMBUNG PART 3)




RUBRIK Kisah Hidup menuangkan kisah kehidupan yang diangkat dari cerita kisah nyata dan dikemas ulang dalam bentuk cerita romantis, cerita dewasa.


Kisah yang diangkat diambil dari Kisah Nyata, dan juga fiksi rekaan semata. Kesamaan nama, tempat, dan alur cerita bukanlah sebuah kesengajaan.


Simak Kisah Hidup lainnya di channel YouTube PUTRIE MANDALIKA.


https://www.youtube.com/@putriemandalika1277


Semoga setiap cerita bisa diambil hikmah dan manfaatnya. 


Punya cerita dan ingin berbagi? Kirim ke email : redaksimandalikapost@gmail.com



  

    


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cerita Wik-Wik: Empun, ART Pemuas Hasrat untuk Semua (PART 2)

Trending Now