Cerita Wik-Wik: Empun ART Pemuas Hasrat Untuk Semua (PART 4)

MandalikaPost.com
Sabtu, November 11, 2023 | November 11, 2023 WIB Last Updated 2024-05-05T21:24:15Z

Ilustrasi/Kisah Hidup.

KISAH HIDUP - Bekerja di rumah pak Halim (65) aku cukup betah. Selain gajinya lumayan, aku pun diperlakukan seperti keluarga sendiri. Ini menjadi pengalaman baru untuk aku selama tinggal di Kota.


Pak Halim (65) adalah pengusaha kayu cukup sukses di Kota yang jaraknya 18 jam perjalanan dari Desaku. Istrinya, Bu Intan (55) juga punya usaha butik yang cukup maju.


BACA JUGA : Empun ART Pemuas Hasrat Untuk Semua (PART 3)


Mereka punya lima orang anak, semuanya laki-laki. Tapi selama sebulan bekerja sebagai pembantu di rumah mereka, aku hanya mengenal den Riko (24) dan den Teddy (22). 


Den Riko baru wisuda, dan Teddy masih kuliah. Tiga kakak Riko dan Teddy, sudah berkeluarga dan tinggal di Kota lain. Ada juga yang sedang melanjutkan studi magister di luar negeri    


"Saya empun pak, bu. Ponakannya paman Karso dari Desa, yang mau kerja disini," aku memperkenalkan diri, saat itu. Hanya pak Halim dan bu Intan menemuiku di depan.




Mereka pun senang dan dengan ramah menyambutku. Karena sudah beberapa bulan ini susah cari assisten rumah tangga katanya. 


"Untung pas hajatan di kampung ketemu pamanmu," ujar bu Intan.


Bu Intan memberi tahuku tugas-tugas harianku. Aku juga diberi kamar di bagian belakang rumah itu. "Cuma bersih-bersih rumah dan masak aja kok mpun," katanya.


Sebulan ini aku menikmati pekerjaanku. Meski rumahnya sangat besar dan berlantai dua, aku merasa ringan kerjanya karena alat bersih-bersihnya lengkap dan elektronik.



Semua ruangannya juga pakai AC, sehingga nggak kotor berdebu kayak di kampung. Malah rasanya aku jadi pemilik rumah ini, karena lebih sering menjaga sendiri.


Pak Hasan dan bu Intan punya dua rumah. Mereka hanya ke sini tiap hari Sabtu dan Minggu. Yang selalu nempati rumah ini hanya den Riko dan den Teddy, biar dekat dengan kampus.


BACA JUGA : Empun ART Pemuas Hasrat Untuk Semua (PART 3)


Aku sudah bisa akrab dengan kedua anak majikan itu. Mereka juga pemuda-pemuda yang ramah dan santun. Malah kata den Riko, aku ini jadi mama kedua bagi mereka.


"Iya, abisnya mbak mpun endut juga kayak mamah. Jadi pEdE tuh mamah ada kembarannya," katanya mencandaiku. Bu Intan juga bertubuh melar, agak ndut seperti ku.


"Tapi mbak empun cantik kok, ndut tapi menarik. Kata mas Wawan tetangga sebelah, mbak empun syempurna," godanya. 


"Ah, den Riko bisa aja, mbak kan kampungan, gendut lagi," jawabku tersipu.




Riko dan Teddy cocok dengan masakanku, mereka juga selalu bilang ke pak Hasan dan bu Intan kalau pekerjaanku selalu beres dan rapi hasil kerjaanku.


Sore itu, den Riko memberikanku titipan gaji pertamaku dari bu Intan. Amplopnya lumayan tebal. Saat kubuka aku juga kaget dan bersyukur sekali. Jumlahnya banyak menurutku.


"Wah, kalau di kampung mbak, ini bisa untuk bertahan enam bulan den. Makasih banyak ya," kataku. Riko senyum melihatku. 


"Iya, mudahan mbak empun betah ya," jawab Riko.


Tentu saja aku mulai betah. Gaji besar, kerjaan ringan, dan aku juga nyaman karena kamar yang kutempati sangat bagus bagiku, pakai spring bed dan ber AC. Kamar mandi juga di dalam.



Usai memberiku gaji, den Riko minta tolong nanti bersihkan kamarnya dan bantu rapikan buku-buku di meja komputernya. Karena tiga hari kemarin dia nggak mau kamarnya dibersihkan.


"Asiap aden ngganteng. Mbak empun simpan uang ini dulu ya," jawabku. 


Den Riko lebih dulu masuk ke kamarnya. Aku menaruh uang gajiku ke kamarku, lalu menyusul dia.


Suara air shower terdengar, dan sesekali suara den Riko berdendang nyanyi lagu pop indie yang jarang aku dengar di kampung. Dia pasti sedang mandi, pikirku saat itu.


Saat membersihkan meja komputer, aku melihat hape den Riko menyala sambil di cas begitu. Aku membereskan buku, dan saat selesai pun hape itu masih nyala, jadi kuambil.  


Aku berniat mematikan hape nya, tapi malah terpaku dengan pideo di hape itu. Sepasang warga asing yang sedang melakukan ritual "nganu". Oh, mataku seperti besi kena magnet.


Pasangan di pideo itu melakukan senam bersama seperti yang pernah kulakukan bersama Kang Darjo di kampung. Hatiku berdebar dan jadi ingat kenangan indah bersama Kang Darjo dulu. 


"Eh, mbak Empun.Udah bersih belum?," mau copot jantungku, den Riko tetiba keluar dari toilet kamar. Pidio yang bagus itu masih berjalan, aku nggak tau bagaimana cara mematikannya.


"Oh, den. Ini den, nganu," aku gugup dan malu menyodorkan hapenya. 


Den Riko mengambil hapenya dari tanganku. 


"Oh, ini. Ya nggak apa-apa mbak. Kan udah pada gede juga," katanya cuek.


Dia malah ngasih lagi hapenya kepadaku. Katanya di Kota sudah biasa tontonan kayak gitu, buat hiburan semata, biar nggak suntuk.


"Tonton aja mbak, gapapa kok," ujarnya.




"Tapi den..," aku malu sekali. Den Riko malah cuek bebek. Bahkan dia santai saja berganti pakeyan saat aku masih ada di kamarnya. Aku pun terpaksa melihat hape itu lagi.


Setelah rapi berpakeyan, den Riko bilang kalau hape itu sudah nggak dia pakai. Dia nawarin untuk ngasih ke aku. 


"Mbak bawa aja, ntar nomernya Riko aktifkan. Riko mau ngapelin pacar dulu," katanya.


"Wah makasih den ya. Tapi, mbak belum bisa caranya. Sama anu, ini pideonya dihapus aja den, mbak malu," kataku. Riko tersenyum, tapi tetap saja pideo itu dibiarkan di hape itu.


"Udah nggak apa-apa, buat hiburan mbak empun. Riko jalan dulu ya," katanya, lalu pergi. Aku pun kembali melanjutkan membersihkan dan merapikan kamarnya.


Aku senang sekali punya hape sekarang. Hapenya lumayan bagus merek Sungsang. Tapi percuma karena di kampung nggak ada sinyal, jadi aku nggak bisa kasih kabar ke paman.


Cuma memang komunikasi dengan pak Hasan dan bu Intan jadi lebih mudah. Aku pun sudah bisa bikin media sosial dan bisa cari wawasan lewat fitur-fitur google atau youtube.


Dari situ, aku bisa menambah ilmu resep baru membuat makanan, cara efektif membersihkan rumah, sampai soal cara berpakaian menarik untuk wanita gendut seperti aku.


Ternyata benar juga kata kang Darjo. Wanita yang agak gendut, pasti lebih menarik bagi kaum adam. Big is Beautipuulll. Dan aku pun mulai percaya diri dengan kondisiku.


Hal itu kuketahui setelah aku memposting beberapa foto profil ke media sosial. Cukup banyak yang polow dan mengajak berkenalan. Banyak juga yang memuji aku cantik.



Berkat ilmu resep baru memasak, den Riko dan den Teddy juga lebih sering makan di rumah, nggak beli atau pesan online lagi. Mereka juga mengajariku menawarkan menu online.


Katanya lumayan masakanku, bisa diorbitkan untuk nambah-nambah penghasilan aku. Tapi aku belum mau, karena gaji dari bu Intan saja sudah sangat cukup bagiku.


"Empun, mulai minggu depan, kamu masak siang yang banyak ya. Ntar ibu suruh si Ratno yang ambil," kata bu Intan. Katanya untuk makan siang karyawan butik.




Dari pada dia ngambil katering, lebih baik aku yang masak katanya. Aku pun senang karena dapat kepercayaan dan dapat kerja tambahan. Aku bahagia ada saja rezeki yang datang.


Berharap ini awal yang baik merubah hidupku.Tapi entahlah, pikiran tentang masa lalu masih membayang. Dan entah apa yang besok atau lusa aku hadapi lagi? kujalani saja dengan syukur. 

(BERSAMBUNG PART 5)    






RUBRIK Kisah Hidup menuangkan kisah kehidupan yang diangkat dari cerita kisah nyata dan dikemas ulang dalam bentuk cerita romantis, cerita dewasa.


Kisah yang diangkat diambil dari Kisah Nyata, dan juga fiksi rekaan semata. Kesamaan nama, tempat, dan alur cerita bukanlah sebuah kesengajaan.


Simak Kisah Hidup lainnya di channel YouTube PUTRIE MANDALIKA.


https://www.youtube.com/@putriemandalika1277


Semoga setiap cerita bisa diambil hikmah dan manfaatnya. 


Punya cerita dan ingin berbagi? Kirim ke email : redaksimandalikapost@gmail.com



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cerita Wik-Wik: Empun ART Pemuas Hasrat Untuk Semua (PART 4)

Trending Now

Iklan