![]() |
| Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA saat berada di Thailand, (Foto: Istimewa/MP). |
Dalam forum yang dihadiri para ulama dan akademisi internasional tersebut, tokoh yang akrab disapa TGB ini menegaskan bahwa indikator keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak bisa diukur hanya melalui pencapaian formal.
"Ukuran ilmu bukanlah gelar akademik, melainkan perilaku dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari," tegas TGB di hadapan para hadirin.
Mengulas tentang hakikat keilmuan, TGB memaparkan bahwa dalam Islam, ilmu harus melalui proses transformasi yang utuh. Ia membagi perjalanan intelektual menjadi tiga tahapan penting: ad-dhilawatu (mencari pengetahuan), ad-tazkiyatu (penyucian diri), dan ad-takliyatu (pengamalan).
"Ilmu dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan teori. Ilmu yang tidak diamalkan dan tidak membentuk akhlak hanya akan menjadi pengetahuan yang kosong," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa ilmu sejati akan melahirkan khashyah, yaitu rasa takut yang dilandasi cinta dan penghormatan kepada Allah SWT.
Selain aspek keilmuan, TGB menyoroti nilai ta’awun (saling menolong) sebagai pilar kebangkitan peradaban Islam yang tetap relevan di era modern. Menurutnya, kemajuan Islam di masa lalu merupakan buah dari kolaborasi dan semangat pelayanan antar sesama.
TGB juga membawa pesan kuat mengenai persatuan umat Islam lintas negara. Baginya, perbedaan budaya dan jarak antara Indonesia dan Thailand bukanlah penghalang bagi ikatan batin yang kuat.
"Persamaan iman dan tujuan jauh lebih besar. Orang-orang beriman adalah saling bersaudara dan saling menguatkan, baik di Indonesia, Thailand, maupun di belahan dunia lainnya," ungkap Ketua Organisasi Internasional Alumni (OIA) Al-Azhar Indonesia tersebut.
Ia mencontohkan bagaimana hubungan antarmanusia sebenarnya didorong oleh keselarasan visi. Ia pun mengenang jasa Dr. Faisal sebagai sosok guru yang berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya, serta memberikan penghormatan khusus kepada Sheikh Babu Hussien yang turut hadir dalam acara tersebut.
Dalam salah satu refleksi mendalamnya, TGB memuji etika tuan rumah yang memutar lagu kebangsaan Indonesia sebelum lagu kebangsaan Thailand. Baginya, hal itu adalah wujud nyata dari adab Islam yang menempatkan tindakan di atas sekadar kata-kata.
"Ini perwujudan ajaran Islam yang menempatkan adab dan perbuatan nyata di atas sekadar retorika. Kebaikan yang diwujudkan melalui tindakan mampu diterima secara universal, melampaui sekat agama dan budaya," tuturnya.
Menutup ceramahnya, TGB mengajak umat untuk kembali meneladani metode dakwah Rasulullah SAW yang sederhana namun efektif di Madinah, seperti membudayakan salam, berbagi makanan, dan menjaga silaturahmi. Ia mengingatkan bahwa dakwah Nabi lebih banyak dilakukan melalui keteladanan akhlak (uswatun hasanah) daripada ceramah verbal semata.

