![]() |
| Ilustrasi: Gambar cabai rawit, (Foto: Istimewa/MP). |
Berdasarkan pantauan di sejumlah titik ekonomi seperti Pasar Aikmel, Masbagik, dan Paok Motong, penurunan harga ini dipicu oleh masuknya pasokan cabai dari luar daerah untuk menutupi minimnya hasil panen petani lokal akibat faktor cuaca.
Lonjakan harga yang terjadi sebelumnya bukan tanpa alasan. Cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang yang melanda wilayah NTB dalam beberapa pekan terakhir telah merusak lahan-lahan produktif. Akibatnya, banyak tanaman cabai yang membusuk sebelum sempat dipanen.
Ketua Program Champion Cabai Kabupaten Lombok Timur, Subhan, menjelaskan bahwa kerusakan tanaman terjadi justru pada saat lahan diproyeksikan untuk memasok kebutuhan Ramadan hingga Idulfitri.
"Seharusnya sebagian lahan sudah siap panen. Namun, karena cuaca ekstrem, banyak tanaman mati dan gagal berproduksi. Inilah yang memicu lonjakan harga," ungkap Subhan, dalam rilis diterima, Senin (23/2).
Padahal, menurut Subhan, sepanjang tahun lalu harga cabai tergolong stabil di angka Rp40.000 per kilogram. Selain faktor alam, adanya jeda aktivitas petani (H-3 hingga H+3 Ramadan) untuk fokus beribadah juga sempat membuat distribusi tersendat di saat permintaan pasar sedang tinggi-tingginya.
Untuk menyiasati kelangkaan stok lokal, para pedagang dan pengepul mulai mendatangkan komoditas serupa dari Jawa Timur. Langkah ini terbukti efektif dalam menahan laju kenaikan harga dan menambah ketersediaan stok di lapak-lapak pedagang.
Muhamad Amin, salah satu pengepul di Kecamatan Lenek, mengonfirmasi bahwa saat ini pasar mulai mengandalkan pasokan dari luar pulau.
“Kita juga ngambil dari Jawa. Istilahnya sekarang ini sudah musim Jawa. Per hari ini harga di pasar sudah turun, sekarang sudah Rp80 ribu sekilo,” ujar Amin pada Minggu (22/2) kemarin.
Meski harga Rp80.000 masih dikategorikan di atas harga normal, tren penurunan ini diharapkan terus berlanjut seiring dengan membaiknya jalur distribusi dan stabilitas pasokan dari luar daerah. Warga kini berharap harga dapat segera kembali ke angka normal agar beban belanja dapur selama bulan suci Ramadan tidak semakin berat.

