Ironi Program Makan Bergizi Gratis di Sembalun, Menu Monoton, Mubazir, dan Guru Desak Akses Evaluasi

Rosyidin S
Selasa, Mei 26, 2026 | 16.25 WIB Last Updated 2026-05-26T08:25:35Z
MBG: Menu MBG buah jeruknya tidak layak dikonsumsi. (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat sejatinya membawa misi mulia, meningkatkan kecerdasan dan memperbaiki gizi anak bangsa. Namun, realita di lapangan justru berbanding terbalik dengan harapan tersebut.


Di wilayah Sembalun, Lombok Timur, pelaksanaan program MBG khususnya dari Dapur 2 memicu keluhan mendalam dari para pendidik di sekolah dasar.


Bukan karena menolak programnya, melainkan karena tata kelola menu yang monoton dan kurangnya komunikasi dengan pihak sekolah membuat makanan bergizi tersebut berakhir menjadi tumpukan sampah atau dibawa pulang oleh guru agar tidak mubazir.


Seorang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Sembalun yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa anak-anak didiknya kini sudah berada di titik jenuh tertinggi. Sejak kembali beroperasi pasca dibekukan selama dua minggu, kualitas dan variasi menu dari Dapur 2 sama sekali tidak menunjukkan perubahan.


"Menu makanan yang dihidangkan, terutama bumbu sayur, bumbu tahu tempe, dan telur opornya itu anak-anak sangat tidak suka. Dari segi penampilan saja sudah tidak menarik. Begitu anak-anak membuka omprengan (wadah makanan), bukan dicicipi, tapi langsung bilang, 'Pak guru, saya ndak makan.' Makanan itu lalu disetor begitu saja ke meja guru," ujar narasumber tersebut dengan nada prihatin, Seni (24/5) kemarin.


Ia menambahkan, meski secara teori kesehatan menu yang disajikan sudah memenuhi standar gizi seimbang lengkap dengan karbohidrat, protein hewani, dan nabati hal itu menjadi percuma jika anak-anak menolak menyentuhnya.


"Menurut ahli gizi di MBG itu sangat bagus, kita yang tidak paham gizi juga tahu itu bagus. Tapi kalau tidak dimakan, kan percuma. Bagaimana anak akan mendapatkan asupan gizi yang baik kalau makanannya tidak masuk ke perut? Logikanya di sana. Guru-guru sekarang setiap pulang terpaksa membawa nasi itu ke rumah karena kalau dibiarkan mubazir," kritiknya tajam.


Selain menu yang itu-itu saja, kondisi fisik makanan juga sering dikeluhkan akibat manajemen distribusi Dapur 2 yang diduga melayani porsi terlalu besar (overkapasitas) hingga mencapai sekitar 4.800 porsi.


"Bayangkan, makanan yang terlalu lama ditutup rapat di dalam omprengan mengakibatkan aroma yang tidak sedap saat dibuka. Selain itu, buah-buahan seperti semangka sering kali sudah bau karena terlalu lama dipotong, dan jeruknya kadang sudah dalam kondisi rusak atau loyet-loyet," tambahnya.


Masalah terbesar yang dihadapi para guru di dalam ruang kelas adalah ketiadaan akses untuk memberikan masukan langsung kepada pengelola MBG Dapur 2. Saluran aspirasi yang ada saat ini dinilai terlalu birokratis dan tidak menyentuh akar masalah.


"Kami sebagai guru yang berinteraksi langsung dengan anak-anak di kelas tidak punya akses untuk bertukar pendapat dengan pihak MBG. Kami hanya bisa melapor ke kepala sekolah. Tapi dari kepala sekolah ke pimpinan atas, kemungkinan yang disampaikan hanya yang baik-baik saja," tuturnya.


Pendidik tersebut menegaskan bahwa guru tidak berniat mencari-cari kesalahan, melainkan ingin berkolaborasi demi kesuksesan program nasional ini.


"Kami ini orang berpendidikan, tahu etika. Kami bukan mau menjelek-jelekkan di Facebook. Harapan kami, berikan kami akses masuk, berikan ruang untuk berkomentar agar langsung ditanggapi ketua MBG-nya. Sekali-kali, bos MBG itu datang ke sekolah, lihat langsung anak-anak selera apa tidak. Jangan monoton dengan prinsip. 'Suka tidak suka, mau tidak mau, yang penting kami sudah sediakan sesuai SOP.' Itu tidak menyelesaikan masalah," tegasnya.

Menu: Terdapat buah jeruk tidak layak dimakan di menu Makanan Bergizi Geratis di Sembalun. (Foto: Istimewa/MP).

Senada dengan keluhan guru kelas, seorang Kepala Sekolah di Sembalun yang juga meminta identitasnya dirahasiakan, membenarkan adanya kebuntuan komunikasi dengan pihak dapur penyedia.


Ia bahkan pernah mengusulkan alternatif menu bagi anak-anak yang memiliki kecenderungan pola makan tertentu, seperti anak-anak yang vegetarian, namun usulan tersebut diabaikan.


"Sebenarnya yang namanya anak-anak itu susah makan nasi, apalagi lauknya begitu. Saya pernah kasih masukan, bisa tidak untuk anak yang vegetarian nasinya diganti dengan roti, buah, atau susu? Jangan ditaruh di omprengan yang sama. Tapi setelah konfirmasi ke dapur, tetap saja ompreng itu ditaruhkan lauk dan segala-galanya," kata sang Kepala Sekolah.


Ia melihat, proses adaptasi menu yang sudah berjalan lebih dari satu tahun ini seharusnya sudah menghasilkan data mengenai selera lokal anak-anak Sembalun. Ia menyarankan agar Dapur 2 melakukan survei berkala ke setiap sekolah mitra agar anggaran besar yang dikucurkan pemerintah tidak terbuang sia-sia.


"Intinya, harus ada sistem request menu dari bawah. (Sekolah). Salah satu masukan dari kami, kenapa pihak dapur tidak melakukan survei atau turun langsung ke tiap sekolah seminggu sekali? Cari tahu apa yang disukai anak-anak ke depannya, misalnya porsi cabainya dikurangi. Itu sebenarnya masukan yang membangun agar program ini tepat sasaran," pungkasnya.


Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola MBG Dapur 2 Sembalun belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan layanan, over kapasitas distribusi, serta desakan ruang evaluasi bersama para guru ini.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ironi Program Makan Bergizi Gratis di Sembalun, Menu Monoton, Mubazir, dan Guru Desak Akses Evaluasi

Trending Now