![]() |
| Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Irnadi Kusuma. |
MANDALIKAPOST.com - Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Irnadi Kusuma, menyebut realisasi investasi NTB tahun 2025 berhasil melampaui target nasional.
Dari target Rp61,9 triliun, realisasi hingga triwulan IV mencapai Rp61,12 triliun atau sekitar 100,1 persen.
Secara persentase nasional bahkan disebut menyentuh 100,2 persen. Capaian ini menempatkan NTB dalam kategori daerah yang mampu memenuhi bahkan melampaui ekspektasi pusat.
Memasuki 2026, target investasi kembali dinaikkan. Jika dalam dokumen RPJMD angka proyeksi berada di kisaran Rp68 triliun, rilis kementerian pusat menetapkan target resmi NTB pada angka Rp64 triliun.
Artinya, terdapat kenaikan target sekitar Rp2,1 triliun dibanding target 2025.
“Kalau sudah bicara triliunan, kenaikannya tentu signifikan. Ini tantangan sekaligus peluang,” ujar Irnadi.
Tambang Masih Dominan, Diversifikasi Jadi PR
Secara sektoral, investasi NTB masih didominasi sektor pertambangan. Disusul sektor pariwisata dan perindustrian.
Struktur ini menunjukkan ketergantungan yang cukup kuat terhadap sektor ekstraktif.
Dari perspektif ekonomi makro daerah, kondisi ini mengandung dua sisi. Di satu sisi, sektor tambang menjadi penopang utama realisasi investasi dan pendapatan.
Namun di sisi lain, ketergantungan tinggi berpotensi menimbulkan risiko fiskal apabila terjadi fluktuasi harga komoditas global.
Karena itu, DPMPTSP mendorong penguatan sektor non-tambang agar pertumbuhan investasi lebih berimbang dan berkelanjutan.
Sistem Digital Permudah, Seleksi Tetap Ketat
Irnadi menegaskan, kemudahan investasi melalui sistem digital tidak berarti tanpa seleksi. Dari proses validasi dan verifikasi, cukup banyak calon investor yang akhirnya gugur karena tidak memenuhi persyaratan administratif, teknis, maupun kesiapan pembiayaan.
Banyak yang terpental dalam tahap evaluasi. Bahkan ada yang sudah groundbreaking tetapi mundur,” jelasnya.
Pemerintah daerah, kata dia, tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi investasi yang ramah, cepat, dan patuh regulasi. Namun kualitas dan komitmen investor tetap menjadi prioritas utama.
Tantangan 2026: Kualitas atau Sekadar Angka?
Dengan target Rp64 triliun pada 2026, tantangan NTB bukan sekadar mengejar angka nominal, melainkan memastikan investasi yang masuk benar-benar produktif, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung agenda pengentasan kemiskinan dan penguatan ekonomi hijau.
Kenaikan target menunjukkan kepercayaan pusat terhadap potensi NTB.
Namun konsistensi pengawasan, kepastian hukum, serta diversifikasi sektor akan menjadi faktor penentu apakah capaian 2025 dapat terulang — atau bahkan terlampaui — pada 2026.
REPORTER : ABDUL RAHIM

