![]() |
| Alpukat: Petani Alpukat Hass, H. Aras saat menunjukkan alpukat gass hasil panennya, (Foto: Rosyidin/MP). |
Adalah H. Aras, salah satu pionir yang menyulap lahan seluas 30 are di sekitar penginapannya menjadi kebun alpukat produktif sejak tahun 2022. Dari 87 pohon yang ditanam, ia berhasil membuktikan bahwa komoditas ekspor ini sangat adaptif dengan iklim kaki Gunung Rinjani.
Perbedaan mencolok antara alpukat Hass dengan varietas lokal terletak pada nilai ekonominya. Jika alpukat biasa di pasaran hanya dihargai Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram, alpukat Hass mampu menembus angka Rp40.000 untuk partai besar, bahkan hingga Rp50.000 per kilogram untuk penjualan eceran.
H. Aras mengungkapkan, pada panen perdana di usia pohon 1,5 tahun, setiap batang mampu menghasilkan hingga 90 kilogram buah. Dengan populasi sekitar 87 pohon, estimasi total panen bisa mencapai 3 hingga 3,5 ton.
"Kalau kita hitung-hitung, kita menang di harga, bukan sekadar kuantitas. Bayangkan, kalau alpukat lokal itu harga Rp15.000 sudah bagus sekali, tapi kalau Hass ini saya jual minimal Rp40.000 sampai Rp50.000 per kilonya," ujar H. Aras dengan nada optimis.
Keunggulan lain yang membuat pundi-pundi rupiah mengalir deras adalah konsep integrasi pertanian dengan pariwisata (agrowisata). H. Aras memadukan kebun alpukatnya dengan fasilitas vila dan penginapan. Para tamu, terutama wisatawan mancanegara dan turis dari Bali atau Sumbawa, sangat meminati sensasi memetik buah langsung dari pohon.
"Tamu-tamu yang menginap kita ajak petik sendiri. Kesannya beda sekali buat mereka, sampai-sampai tamu berani bayar lebih dari harga pasar yang kita tentukan. Permintaan sangat tinggi, rata-rata tiap orang bisa beli di atas 10 kilo," tambahnya.
Menurutnya, alpukat Hass sangat digemari turis karena tekstur dagingnya yang padat, kandungan air yang rendah (buket/keset), serta daya simpan yang lama.
"Cangkangnya itu keras seperti kulit jeruk, jadi tidak gampang busuk meski disimpan beberapa minggu."
"Dan perlakuannya pun cara organik, begitu juga saat metik harus pakai gunting agar cangkangnya ikut supaya tahan lama. Dan sangat tahan jika kita jula keluar daerah tidak cepat busuk," imbuhnya.
Meski secara budidaya petani Sembalun sudah mumpuni dengan sistem organik tanpa pestisida, masalah pemasaran masih menjadi tantangan bagi para petani yang tidak memiliki fasilitas penginapan.
H. Aras berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mulai melirik potensi besar ini, agar nasib petani tidak hanya bergantung pada pasar tradisional yang harganya sering fluktuatif.
"Budidaya kami sudah bisa, buahnya juga besar-besar sampai 350 gram per biji. Tapi yang jadi masalah itu pemasarannya harus ke mana kalau sudah panen raya. Kami berharap ada kebijakan pemerintah untuk membantu akses pasar supaya potensi di Sembalun ini benar-benar bisa menyejahterakan masyarakat," pungkasnya.
Selain varietas Hass, saat ini para petani di Sembalun juga mulai mengembangkan jenis unggulan lain seperti Pinkerton dan Lamb Hass yang memiliki karakteristik serupa dan prospek pasar yang tak kalah menggiurkan.

