Warga Muhammadiyah di Kaki Gunung Rinjani Laksanakan Salat Idulfitri di Dua Titik, Khutbah Serukan Persatuan Umat

Rosyidin S
Jumat, Maret 20, 2026 | 16.55 WIB Last Updated 2026-03-20T09:46:48Z
Lebaran: Antusias para jemaah Muhammadiyah di Sembalun mengikuti khotbah setelah shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com  — Jemaah Muhammadiyah di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, melaksanakan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026) di dua lokasi berbeda, yakni di Yayasan Pondok Pesantren Al-Ma’hadul Islami Desa Sembalun serta halaman SDN 1 Sembalun Lawang, yang berada di kawasan kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur.

 

Pelaksanaan salat Id tersebut berlangsung khidmat dan diikuti ratusan warga Muhammadiyah yang sejak pagi memadati lapangan terbuka untuk menunaikan ibadah hari raya.

 

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muhammadiyah Sembalun, H. Minardi, mengatakan pelaksanaan Salat Id pada Jumat merupakan tindak lanjut dari maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terkait penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah.


“Warga Muhammadiyah khususnya di Sembalun melaksanakan Salat Id di dua titik berdasarkan ketetapan dan maklumat Majelis Tarjih PP Muhammadiyah,” ujarnya saat ditemui di lokasi.


Ia menjelaskan, jauh hari sebelumnya PP Muhammadiyah telah menginstruksikan seluruh warga Muhammadiyah di Indonesia maupun luar negeri untuk melaksanakan Salat Idulfitri pada Jumat, 20 Maret 2026. Meski pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026, jemaah Muhammadiyah tetap istiqamah mengikuti keputusan organisasi.

 

Pada pelaksanaan Salat Id di lapangan Ponpes YAMI, bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Ustadz Ramedhan Abu Zayyan, M.Pd.I, sementara di lapangan SDN 1 Sembalun Lawang imam dipimpin Ustadz Restu Hadi Seno dengan khatib Ustadz Salehudin.

 

Dalam khutbahnya, Ustadz Ramedhan Abu Zayyan menekankan pentingnya persatuan umat Islam di tengah berbagai persoalan global yang terjadi saat ini. Ia mengajak umat menjadikan Idulfitri sebagai momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah.

 

“Idulfitri adalah momen untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, menyatukan hati, dan menyadari bahwa kita adalah satu tubuh. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Ali Imran ayat 103 agar kita berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai,” katanya dalam khutbah.

 

Menurutnya, ukhuwah Islamiyah merupakan kekuatan utama umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan dan konflik dunia yang berdampak luas terhadap kehidupan umat manusia.

 

“Krisis kemanusiaan dan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, Iran, Suriah, Yaman, Sudan, Irak, dan berbagai wilayah lain menuntut kepedulian serta doa-doa kita bersama,” ucapnya.

 

Ia mengingatkan bahwa tidak semua umat Muslim di dunia dapat merayakan Idulfitri dalam suasana aman. Banyak di antaranya hidup dalam ketakutan akibat konflik bersenjata.

 

“Semoga Allah SWT melindungi saudara-saudara kita dan memberikan solusi terbaik agar mereka merasakan keamanan seperti yang kita rasakan saat ini,” imbuhnya.

 

Dalam khutbah bergaya reflektif tersebut, Ustadz Ramedhan juga menegaskan bahwa perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri tidak boleh mengurangi nilai toleransi antar umat Islam.

 

“Perbedaan ini lahir dari ijtihad yang harus sama-sama kita hormati. Tidak ada yang boleh merasa paling benar, karena hanya Allah SWT yang paling mengetahui kebenaran,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa umat Islam saat ini menghadapi apa yang disebutnya sebagai “perang global” dalam berbagai dimensi, mulai dari ideologi, ekonomi, budaya, hingga informasi.

 

“Ini bukan hanya perang senjata, tetapi perang pemikiran, ekonomi, budaya, dan informasi yang dampaknya besar terhadap akidah dan kehidupan umat,” jelasnya.

 

Ia mencontohkan bagaimana ideologi modern yang menjauhkan manusia dari nilai agama dapat mengikis akidah apabila tidak dibentengi dengan tauhid yang kuat.

 

“Tauhid adalah kompas hidup seorang muslim. Dengan tauhid, kita memiliki benteng yang kokoh yang tidak mudah digoyahkan oleh badai pemikiran,” ujarnya.

 

Dalam aspek ekonomi, ia mengingatkan bahaya sistem ekonomi yang sarat riba dan ketimpangan sosial, sekaligus menegaskan pentingnya sedekah dan zakat sebagai solusi keadilan sosial.

 

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Keberkahan ekonomi hadir pada sistem yang bebas riba dan penuh kedermawanan,” paparnya mengutip Surah Al-Baqarah ayat 276.

 

Ia juga menyoroti tantangan budaya dan arus informasi di era digital yang dinilai berpotensi merusak nilai moral apabila tidak disikapi dengan bijak.

 

“Islam mengajarkan tabayyun, klarifikasi, dan kehati-hatian dalam menerima informasi. Jangan mudah percaya sebelum memeriksa kebenarannya,” katanya, mengutip pesan Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6.

 

Menutup khutbahnya, Ustadz Ramedhan mengajak umat Islam menjadikan ketakwaan sebagai benteng utama menghadapi berbagai tantangan zaman.

 

“Taqwa adalah benteng terkuat yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Barang siapa bertakwa, Allah akan membuka jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka,” tuturnya.


Ia menegaskan bahwa Idulfitri bukanlah akhir perjuangan spiritual, melainkan awal untuk membawa nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Momentum Idulfitri adalah awal babak baru untuk menjaga ketakwaan, memperkuat persatuan umat, saling memaafkan, serta mempererat silaturahmi,” pungkasnya.

 

Pelaksanaan Salat Idulfitri di kawasan kaki Gunung Rinjani tersebut berlangsung aman, tertib, dan penuh kekhidmatan, mencerminkan semangat toleransi serta persatuan di tengah perbedaan penetapan hari raya. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Warga Muhammadiyah di Kaki Gunung Rinjani Laksanakan Salat Idulfitri di Dua Titik, Khutbah Serukan Persatuan Umat

Trending Now