![]() |
| Langka: Warga Suralaga rela antrian samapi magrib untuk mendapatkan tabung gas LPG 3 kilogram, (Foto: Istimewa/MP). |
Sorotan tajam diarahkan kepada Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur, Hadi
Fathurrahman, yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret dalam mengatasi
persoalan distribusi gas melon tersebut. Kondisi ini bahkan memunculkan desakan
kepada Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, agar segera melakukan evaluasi
terhadap kinerja bawahannya.
Kelangkaan Elpiji 3 kg dirasakan langsung oleh masyarakat kecil. Selain
sulit diperoleh, harga di tingkat pengecer juga dilaporkan melambung hingga
Rp25.000–Rp30.000 per tabung, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang
ditetapkan sebesar Rp18.000.
Di tengah situasi tersebut, Sekretaris Daerah Lombok Timur, Muhammad Juaini
Taofik, justru terlihat aktif memberikan penjelasan kepada masyarakat sekaligus
melakukan koordinasi lintas instansi guna mengamankan pasokan gas.
Melalui pesan di grup WhatsApp Fokus Lotim, Sabtu (4/4/2026), Juaini
menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kondisi yang belum
sepenuhnya normal.
“Kami bersama camat dan OPD terkait terus memonitor situasi ini. Kami mohon
maaf belum bisa cepat menormalkan keadaan,” tulis Juaini.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah berkoordinasi langsung
dengan Pertamina Ampenan untuk menambah pasokan. Berdasarkan informasi terbaru,
mulai Minggu (5/4/2026), sebanyak 24.440 tabung extra dropping didistribusikan
ke wilayah Pringgasela, Lenek, dan Aikmel guna mengurai kelangkaan.
Kritik keras turut disampaikan Ketua Forum Rakyat Bersatu (FRB), Eko Rahadi.
Menurutnya, Dinas Perdagangan sebagai leading sector seharusnya menjadi garda
terdepan dalam memastikan stabilitas distribusi kebutuhan pokok masyarakat.
“Harusnya gentle sebagai pembantu Bupati. Jika tidak mampu, lebih baik
mundur daripada menjadi beban dan menghambat laju perekonomian masyarakat,”
tegas Eko.
Eko menilai laporan yang disampaikan kepada kepala daerah tidak mencerminkan
kondisi riil di lapangan. Ia menyebut masyarakat masih kesulitan memperoleh gas
dengan harga wajar.
“Apa hasil sidak yang dilakukan selama ini kalau kenyataannya masyarakat
tetap kesulitan? Sepertinya laporan yang disampaikan hanya Asal Bapak Senang
(ABS),” ujarnya.
Ia juga mengingatkan perlunya pengawasan ketat terhadap distribusi untuk
mencegah praktik penimbunan dan permainan harga oleh oknum tertentu.
“Kalau pengawasan tetap mandul, masyarakat bisa saja melakukan aksi
langsung. Lebih baik membeli langsung di armada dengan harga Rp20.000 daripada
membiarkan penimbun menjual Rp25.000 sampai Rp30.000,” katanya.
Situasi ini menempatkan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur pada tekanan
publik yang semakin besar. Masyarakat kini menunggu langkah tegas Bupati H.
Haerul Warisin dalam menata ulang penanganan distribusi gas bersubsidi,
termasuk kemungkinan evaluasi terhadap pejabat terkait.
Di tengah kebutuhan energi rumah tangga yang mendesak, publik berharap
krisis Elpiji 3 kilogram segera teratasi agar aktivitas ekonomi dan kebutuhan
dasar masyarakat kembali berjalan normal.

