Transformasi Bersama AMMAN, Petani Maluk Buktikan Produktivitas Padi Bisa Tembus 10,02 Ton per Hektare ‎

Panca Nugraha
Jumat, Mei 15, 2026 | 17.46 WIB Last Updated 2026-08-13T09:52:14Z
Panen perdana SRI Organik di Desa Benete, Maluk, Sumbawa Barat. Jajaran AMMAN bersama pemerintah daerah dan petani merayakan capaian produktivitas padi hingga 10,02 ton per hektare. Program ini menjadi bagian dari transformasi pertanian organik menuju kemandirian dan keberlanjutan.


MANDALIKAPOST.com – Hamparan sawah di Desa Benete, Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat, Kamis pagi 30 April 2026, menjadi saksi perubahan cara bertani yang mulai dirasakan masyarakat. Malai-malai padi yang merunduk berat menandai hasil panen yang jauh lebih tinggi dibandingkan pola pertanian konvensional.

‎Dalam syukuran panen perdana program System of Rice Intensification (SRI) Organik, produktivitas padi tercatat mencapai 10,02 ton per hektare. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan produktivitas pola konvensional yang selama ini berada di kisaran 4-5 ton per hektare.

‎Panen tersebut menjadi momentum penting bagi petani di Desa Benete dan Desa Maluk yang sejak Agustus 2025 mulai menjalani proses transformasi melalui program SRI Organik.

‎Program ini diinisiasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Aliksa Organik. Bukan sekadar memberikan bantuan teknis, program tersebut mendorong petani membangun sistem pertanian yang sehat, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

‎Selama bertahun-tahun, petani di wilayah Maluk menghadapi persoalan biaya produksi yang tinggi, sementara hasil panen cenderung stagnan. Ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia membuat biaya budidaya semakin berat.

‎Melalui metode SRI Organik, paradigma tersebut perlahan diubah. Petani tidak lagi hanya mengandalkan input dari luar, tetapi diajarkan memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar.

‎Jerami, kotoran ternak hingga tanaman hijau yang sebelumnya dianggap limbah diolah menjadi Mikroorganisme Lokal (MOL) dan pupuk kompos. Bahan-bahan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengembalikan kesuburan tanah secara alami.

‎“Awalnya saya ragu. Bagaimana mungkin bertani tanpa pupuk kimia bisa berhasil? Dulu kami hanya tahu semakin banyak obat, semakin bagus. Tapi lewat sekolah lapangan ini, kami diajak kembali mencintai tanah,” ujar Hamzah, Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk.

‎Menurut Hamzah, petani juga mulai mampu membuat sendiri bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menjaga kesuburan tanaman dari sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.

‎“Hasilnya? Lihat sendiri, tanah kami yang dulu keras sekarang jadi gembur dan hitam. Hasil panen naik dua kali lipat, dan yang paling penting, kami tidak lagi pusing memikirkan biaya pupuk yang mahal. Kami sekarang merasa benar-benar menjadi tuan di sawah sendiri,” katanya.

‎Bukan Sekadar Mengejar Hasil Panen

‎Perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari peningkatan produktivitas. Penerapan pertanian organik juga mulai mengubah kondisi lahan dan ekosistem pertanian.

‎Burung dan serangga predator mulai kembali hadir sebagai bagian dari pengendalian hama alami. Sementara kondisi tanah yang sebelumnya asam dilaporkan telah bergerak menuju kondisi netral dengan pH sekitar 7.

‎Transformasi tersebut juga mulai menarik perhatian petani muda dan kelompok karang taruna di Kecamatan Maluk. Mereka mulai terlibat dalam proses pembelajaran dan pengembangan budidaya pertanian yang lebih ramah lingkungan.

‎Vice President Social Impact AMMAN, Priyo Pramono, mengatakan program SRI Organik diarahkan untuk memperkuat kapasitas teknis sekaligus kelembagaan petani.

‎“Program SRI Organik di Kecamatan Maluk adalah upaya kami untuk mendukung masyarakat petani Kecamatan Maluk memiliki kapasitas teknis dan kelembagaan yang kuat. Mendukung kemampuan menekan biaya produksi hingga mendapatkan hasil pertanian atau produktivitas yang lebih besar,” ungkap Priyo.

‎Ia berharap pengetahuan yang diperoleh petani melalui program tersebut dapat terus dikembangkan dan diperluas ke wilayah lainnya.

‎“Kami berharap program ini dapat memberikan pengetahuan baru mengenai pertanian organik dan dapat diperluas jangkauan dan capaiannya ke depan,” tambahnya.

‎Dari Maluk untuk Pertanian Organik Sumbawa Barat

Panen perdana SRI Organik di Desa Benete, Maluk, Sumbawa Barat. Jajaran AMMAN bersama pemerintah daerah dan petani merayakan capaian produktivitas padi hingga 10,02 ton per hektare. Program ini menjadi bagian dari transformasi pertanian organik menuju kemandirian dan keberlanjutan.


‎Transformasi di Desa Benete dan Desa Maluk kini mulai diperkuat dengan terbentuknya Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk. Wadah tersebut menjadi ruang bagi para petani untuk bertukar pengalaman, memperkuat kelembagaan dan mengembangkan praktik pertanian organik secara bersama-sama.

‎BUMDes Desa Maluk juga mulai terlibat dalam pengembangan program. Keterlibatan berbagai pihak ini membuka peluang agar pertanian organik tidak berhenti pada peningkatan hasil panen, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru masyarakat.

‎Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, S.T., M.Si., yang hadir dalam syukuran panen tersebut, mengapresiasi perubahan yang dilakukan para petani.

‎“Program ini menjadi contoh keberhasilan dan menjadi tempat pembelajaran, karena keberhasilan ini butuh proses. Para petani bisa menjadi duta petani organik Sumbawa Barat,” ujarnya.

‎Amar menilai praktik pertanian organik di Maluk memiliki peluang untuk direplikasi di wilayah lain di Sumbawa Barat.

‎“Saya melihat secara langsung bagaimana perbedaan dari konvensional dan organik bahkan dari kasat mata, bahwa organik jauh lebih baik,” katanya.

‎Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa inovasi pertanian dapat berjalan beriringan dengan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat.

‎“Apa yang kita saksikan hari ini adalah bukti bahwa inovasi dan kearifan lokal bisa berjalan beriringan. Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini dan berharap praktik baik di sini bisa direplikasi di desa-desa lain agar Sumbawa Barat menjadi pionir pertanian organik yang mandiri,” tegasnya.

‎Menatap Pasar dan Sertifikasi

‎Panen perdana dengan produktivitas 10,02 ton per hektare tersebut menjadi awal dari agenda yang lebih besar. Ke depan, pengembangan program diarahkan tidak hanya pada produksi, tetapi juga penguatan kualitas dan akses pasar.

‎Sejumlah agenda mulai disiapkan, di antaranya sertifikasi beras organik, pengembangan sayuran organik, sertifikasi MOL hingga pembukaan akses pasar yang lebih luas.

‎Dengan demikian, transformasi pertanian di Maluk diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi petani. Bukan hanya menghasilkan panen lebih tinggi, tetapi juga menekan biaya produksi, memulihkan kesuburan tanah dan membuka peluang ekonomi baru.

‎Syukuran panen perdana SRI Organik akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan hasil panen. Dari hamparan sawah Benete dan Maluk, para petani sedang membuktikan bahwa ketika tanah dirawat dengan pengetahuan dan pendekatan yang tepat, kemandirian pangan dan kesejahteraan dapat tumbuh dari lahan mereka sendiri. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Transformasi Bersama AMMAN, Petani Maluk Buktikan Produktivitas Padi Bisa Tembus 10,02 Ton per Hektare ‎

Trending Now