Kesaksian Mencekam Pendaki Asal Lombok Tengah, Api Mengepung Perkemahan Bukit Sempana

Rosyidin S
Rabu, Juni 10, 2026 | 15.44 WIB Last Updated 2026-06-10T07:44:32Z
Peristiwa: Tangkapan layar si jago merah melahap padang savana Bukit Sempana Sembalun. (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com — Suasana tenang di kawasan wisata Bukit Teletubbies, tidak jauh dari Bukit Sempana Sembalun, mendadak berubah mencekam pada Selasa siang (9/6), sekitar pukul 13.00.


Kobaran api dilaporkan melahap sebagian area perbukitan tersebut. Putra Wiansa, seorang pengunjung asal Rangga Gate, Lombok Tengah, menjadi saksi mata pertama yang menyadari amukan si jago merah saat dirinya bersama temannya sedang berkemah di lokasi kejadian.


Putra menceritakan, peristiwa tersebut terjadi begitu cepat dan tidak terduga. Ia baru menyadari adanya kebakaran saat terbangun dari tidurnya di dalam tenda pada siang hari.


"Kronologinya saya baru bangun tidur, terus saya keluar dari tenda tiba-tiba asap sudah ada di bukit Sempana mengepung tenda kita," ujar Putra saat ditemui di Sembalun, Rabu (10/6).


Menurut ingatan Putra, titik api pertama kali ia lihat sekitar pukul 12.30 WITA. Pada awalnya, ia terus memantau pergerakan api dari puncak ke puncak lain untuk melihat seberapa cepat vegetasi di bukit tersebut terbakar. Namun, memasuki sore hari, situasi kian memburuk.


"Saya lihat dari puncak ke puncak, terus saya lihat apinya akan naik merambat ke tempat kami berkemah. Ternyata hitungan, sekitar jam empat sore api terus membesar melahap ilalang," tambahnya.


Menyadari bahaya yang mengancam, Putra langsung berinisiatif menghubungi pihak pengelola wisata bukit Sempana untuk melaporkan kejadian tersebut. Di tengah situasi yang genting, ia mengaku sempat dilanda kepanikan yang luar biasa. Pasalnya, saat peristiwa itu terjadi, ia sedang berkemah seorang diri karena berencana menambah masa liburannya di sana selama dua hari.


"Panik, soalnya sendirian saya di atas. Teman-teman yang lain masih dibawah, saya sendiri kan mau tambah satu hari, satu malam lagi di sana. Pengunjung atau tamu yang lain belum ada yang sampai lagi ke atas," ungkap Putra dengan raut wajah tegang.


Meski jarak antara titik api pertama dan area perkemahannya lumayan jauh, embusan angin dan pergerakan api yang cepat membuatnya harus segera mengambil tindakan penyelamatan diri. Pihak pengelola yang menerima laporan segera menginstruksikannya untuk mengosongkan lokasi.


"Saya konfirmasi ke pengelola terjadi kebakaran di Bukit Teletubbies. Pengelola menyuruh saya untuk balik turun. Jadi saya langsung packing dan persiapan turun dari bukit, soalnya kan sendiri jadi agak ribet, tas,carrier dan tenda juga ada dua dan banyak barang-barang lainnya," jelasnya.


Ia bersama ke empat rekannya berencana nginap di bukit Sempana dua malam satu hari. Namun rencana itu tidak jadi karena peristiwa tersebut.


"Saya kan duluan naik, sementara temen-temen menyusul dan baru Samapi di pos 1 waktu kejadian. Ya terpaksa kita balik arah tadi malam dan berkemah diparkir loket pendakian," tutur putra.


Putra sempat menyayangkan respons dari pihak pengelola dan petugas Resort Balai II KPH Rinjani Timur di Sembaulun yang dinilai lambat dalam mencapai titik api setelah menerima laporannya. Butuh waktu berjam-jam hingga petugas akhirnya tiba di lokasi kebakaran untuk melakukan upaya pemadaman.


"Pengelola saya konfirmasi mau naik, katanya mau naik tapi tidak sampai-sampai. Dua jam lebih mereka baru naik," ketus Putra.


Ketika ditanya mengenai indikasi penyebab kebakaran atau adanya orang yang mencurigakan di sekitar lokasi sebelum api muncul, Putra mengaku tidak melihat siapapun karena posisinya yang baru saja terbangun dari tidur.


Saat ini, kebakaran di Bukit Teletubbies atau bukit Sempana tersebut tengah dalam perhatian pihak terkait, dan upaya lokalisir api terus dilakukan agar tidak meluas ke area vegetasi Sembalun lainnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kesaksian Mencekam Pendaki Asal Lombok Tengah, Api Mengepung Perkemahan Bukit Sempana

Trending Now